NEWSTICKER
Luka Beta Rasa. (Foto: dok. narasi)
Luka Beta Rasa. (Foto: dok. narasi)

Sisi Lain Tragedi Konflik Ambon di Film Luka Beta Rasa

Hiburan film dokumenter
Cecylia Rura • 14 Maret 2020 11:10
Jakarta: Sejarah peperangan Ambon 21 tahun silam membuat Narasi mendokumentasikannya dalam bentuk film berjudul Luka Beta Rasa. Film ini diproduksi atas kerjasama Narasi dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, bagian dari seri dokumenter The Invisible Heroes dari Narasi tahun ini.
 
Diceritakan, Ronald Regang, satu dari mantan pasukan anak Agas dan anggota tim Cichak kembali mencari teman semasa kecil yang tumbuh dengan trauma perang. Mereka saat itu menjadi pasukan khusus pembuka jalan di garda terdepan dan pandai merakit bom. Sementara beberapa masih tinggal di Ambon, beberapa yang lain pindah kota untuk melupakan masa lalu.
 
"Saya menyesal menjadi pelaku sejarah kekerasan pada zaman itu. Saya kehilangan masa muda saya. Seharusnya anak usia sepuluh tahun bersama orangtua dan kawan-kawasannya bermain," ungkap Ronald Regang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemutaran Luka Beta Rasa akan diiringi lagu Sintas dari band asal Yogyakarta, Tashoora. Mereka untuk kali pertama membawakan lagu original soundtrack seri dokumenter Narasi itu dalam pemutaran film perdana.
 
"Berdamai dengan diri sendiri dan berhadapan dengan masyarakat yang terjebak pada stigma-stigma yang merendahkan merupakan perjalanan panjang para penyintas. Kami senang sekali bisa bergerak bersama Narasi dalam mengawal agenda kemanusiaana yang sudah sepatutnya kita perjuangkan. Untuk menjadi lebih kuat, kita harus berjalan bersama-sama, harus saling menguatkan," kata Danang Joedoarmo, personel Tashoora.
 
Sebelum tayang di situs Narasi secara publik pada 11 Maret 2020, Narasi dan PUSAD Paramadina menggelar serangkaian pemutaran film Luka Beta Rasa diikuti diskusi terbatas di beberapa kota Indonesia. Pemutaran perdana film Luka Beta Rasa digelar di Studio Narasi Jakarta pada 29 Februari 2020.
 
"Tidak ada pemenang dalam perang, semua kalah, juga kemanusiaan. Film ini berusaha menggambarkan hal itu dengan setenang mungkin, kedati dendam, kemarahan, dan kepahitan masih menyeruak diam-diam. Tokoh-tokoh di film ini adalah arsip hidup betapa perang memang bisa berakhir, tapi ingatan akan perang bisa sepanjang usia. Kesaksian mereka adalah bukti bahwa darah bisa habis, tapi air mata tidak seperti juga trauma," kata Zen RS, Pemimpin Redaksi Narasi tentang Luka Beta Rasa.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif