Berlinale Forum merupakan ruang kurasi bagi film-film yang memiliki visi sinematik tajam, keberanian dalam bentuk narasi, serta kemampuan membaca realitas sosial-politik secara mendalam. Masuknya Ghost in the Cell dalam kategori ini mengukuhkan posisinya sebagai karya arthouse sekaligus film genre yang eksploratif dan tidak lazim.
Menariknya, seksi Forum tidak hanya menjadi wadah bagi karya eksperimental, tetapi juga rumah bagi film-film besar dengan identitas artistik kuat. Pencapaian ini sebelumnya pernah ditorehkan oleh film populer seperti Exhuma (2024) dan Snowpiercer (2014) yang juga mendapatkan tempat spesial di kategori ini. Joko Anwar menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, kurasi di seksi Forum bukan sekadar menilai alur cerita, melainkan juga menilik relevansi sosial-politik dari negara asal film tersebut.
“Kami sangat bangga film Ghost in the Cell terpilih di section ini di Berlinale karena section ini dikenal sebagai section yang secara kuratorial selalu memilih film yang bukan sekadar mengandalkan cerita, tetapi juga relevansinya kuat dengan situasi sosial dan politik negara asal setiap film yang masuk seleksi ini,” jelas Joko Anwar.
Hal senada diungkapkan produser Tia Hasibuan, yang menilai seleksi ini menjadi jaminan kualitas bagi penonton Indonesia akan kekuatan cerita dan bahasa sinema yang ditawarkan.
“Ini sekaligus sinyal yang membuat Ghost in the Cell sebagai film yang menjanjikan kekuatan cerita, bahasa sinema, dan gagasan yang kuat dan menarik untuk segera dinikmati penonton bioskop Indonesia,” ujar Tia Hasibuan.
Jadwal Tayang dan Sinopsis Film Ghost in the Cell
Ghost in the Cell dijadwalkan tayang sebanyak tiga kali selama rangkaian festival pada 12–22 Februari 2026. Penayangan perdana dunia (world premiere) akan digelar pada 13 Februari 2026 di bioskop bersejarah, Delphi Filmpalast am Zoo, Berlin, Jerman.Film Ghost in the Cell mengambil latar di sebuah penjara di Indonesia yang sarat dengan kekerasan dan ketidakadilan. Melalui perpaduan unsur horor dan kritik sosial, Joko Anwar berusaha membongkar bagaimana sistem hukum sering kali justru melindungi kekuasaan.
Diproduksi oleh Come and See Pictures bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures, film Ghost in the Cell juga menggandeng Barunson E&A sebagai agen penjualan internasional untuk perilisan di seluruh dunia. Terpilihnya film ini di Berlinale menjadi magnet bagi para kritikus, kurator, serta pelaku industri film global untuk menantikan kehadirannya.
Film Ghost in the Cell dibintangi oleh deretan aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Lukman Sardi, Morgan Oey, Aming, Tora Sudiro, Rio Dewanto, Danang Suryonegoro, Yoga Pratama, Endy Arfian, Mike Lucock, dan Kiki Narendra. Selain itu, aktor asal Malaysia Bront Palarae dan Ho Yuhang juga turut membintangi film ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News