FIlm Bapakmu Kiper (Foto: instagram)
FIlm Bapakmu Kiper (Foto: instagram)

Perjuangan Haru Fedi Nuril Dapatkan Maaf Anak di Film Bapakmu Kiper

Elang Riki Yanuar • 02 September 2026 07:00
Ringkasnya gini..
  • Fedi Nuril memerankan ayah yang berjuang mendapatkan kembali kepercayaan dan maaf anaknya dalam film Bapakmu Kiper.
  • Bapakmu Kiper memadukan drama hubungan ayah dan anak dengan lika-liku sepak bola tarkam yang penuh gengsi dan persaingan.
  • Lewat karakter Dino, Bapakmu Kiper mengangkat pesan bahwa memaafkan masa lalu memang sulit, tetapi tetap layak diperjuangkan.
Jakarta: Mendapatkan maaf dari seorang anak bukan perkara mudah, terlebih ketika hubungan antara ayah dan anak telah lama dipenuhi luka. Situasi tersebut menjadi inti perjalanan emosional Fedi Nuril sebagai Warto dalam film Bapakmu Kiper.

Film produksi Entelekey Media Indonesia dan Entelekey Sinema Indonesia (ESI) ini menggunakan sepak bola tarkam sebagai pintu masuk untuk mengisahkan hubungan keluarga yang retak. 

Di balik riuhnya pertandingan antar kampung, film arahan Ody Harahap tersebut menghadirkan cerita tentang penyesalan, kesempatan kedua, dan perjuangan seorang ayah untuk kembali mendapatkan kepercayaan anaknya.

Bapakmu Kiper mengikuti kisah Dino (Ali Fikry), remaja 18 tahun yang menyimpan kemarahan terhadap ayahnya, Warto. Hubungan keduanya memburuk setelah Dino menganggap sang ayah sebagai penyebab kematian ibunya.

Warto sendiri merupakan mantan jagoan tarkam yang memiliki masa lalu sebagai penjudi. Kondisi tersebut membuat sosok ayah yang diperankan Fedi Nuril tidak mudah mendapatkan tempat kembali di hati Dino.
Konflik semakin rumit ketika Dino memperoleh kesempatan tampil di Tarkam Super Cup. Turnamen tersebut menjadi peluang bagi Dino untuk mendekati impiannya menjadi pesepak bola profesional sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Namun, perjalanan Dino menuju pertandingan penting justru menemui masalah. Menjelang babak final, tim yang menjadi andalannya direbut pihak lain sehingga kesempatan yang sudah berada di depan mata terancam hilang.

Dalam situasi tersebut, Warto kembali hadir dalam kehidupan Dino. Dia berusaha membentuk tim baru dengan mengandalkan para pemain senior yang memiliki pengalaman di dunia tarkam, meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.

Bagi Fedi Nuril, karakter Warto bukan sekadar sosok ayah yang berusaha memperbaiki hubungan dengan anak. Warto menjadi gambaran tentang banyak ayah yang mungkin tidak selalu terlihat hebat, tetapi berusaha bertahan dan melindungi keluarga dengan caranya sendiri.

“Warto ini kayak gambaran banyak ayah di luar sana, yang perannya sering nggak kelihatan tapi sebenarnya paling krusial. Nggak harus selalu mencetak gol, yang penting selalu ada buat bertahan dan melindungi keluarganya,” ujar Fedi.

Perjalanan Warto untuk kembali mendapatkan kepercayaan Dino kemudian berjalan beriringan dengan perjuangan mereka di dunia tarkam. Setiap pertandingan bukan hanya menjadi persoalan menang atau kalah, tetapi juga kesempatan bagi keduanya untuk menghadapi luka yang selama ini belum terselesaikan.
Dari sudut pandang Ali Fikry, hubungan Dino dan Warto menjadi bagian paling emosional dalam film tersebut. Dino digambarkan sebagai anak yang harus berhadapan dengan kemarahan yang telah lama dipendam sebelum akhirnya mulai membuka ruang untuk berdamai dengan masa lalu.

"Memaafkan enggak akan selalu jadi proses yang mudah, tapi selalu layak untuk diusahakan," kata Ali.

Di sisi lain, dunia sepak bola tarkam memberikan warna tersendiri dalam perjalanan tersebut. Ody Harahap melihat tarkam bukan hanya sebagai pertandingan sepak bola di lapangan sederhana, tetapi sebagai ruang yang memiliki rivalitas, gengsi kampung, hiburan, hingga tradisi saweran.

"Di balik pertandingan, ada persaingan, ada hiburan, bahkan fenomena unik seperti saweran," ujar Ody.

Produser sekaligus Direktur Utama ESI, Garnet Geraldine Tanja, menilai kehidupan di sekitar pertandingan tarkam memiliki banyak cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

"Tarkam itu bukan cuma soal menang kalah di lapangan. Ada gengsi kampung, ada drama di pinggir lapangan, bahkan ada saweran yang bikin suasana makin seru. Semua bumbu itu yang justru bikin kami yakin ceritanya akan dekat di hati penonton Indonesia," ujar Garnet.

Selain Fedi Nuril dan Ali Fikry, Bapakmu Kiper turut dibintangi Tanta Ginting, Augie Fantinus, serta King Polo yang dikenal sebagai Raja Tarkam. Film ini bakal tayang di bioskop mulai 3 September 2026. 






 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA