Merefleksikan Kerusuhan Poso Lewat Film Damai Dalam Kardus

Purba Wirastama 26 November 2018 10:47 WIB
film dokumenter
Merefleksikan Kerusuhan Poso Lewat Film Damai Dalam Kardus
Poster film Damai Dalam Kardus (Foto: Dok. Eagle Awards)
Jakarta: Kerusuhan Poso dua dekade silam merupakan salah satu konflik kekerasan terburuk di Indonesia pasca-reformasi dengan beragam dampak berkepanjangan. Film dokumenter pendek Damai Dalam Kardus hendak menyorot konflik itu lewat jendela yang dekat dan kecil: keluarga. 

"Konflik kekerasan itu menjadi isu global sebenarnya," kata sutradara Andi Ilmi Utami dalam sesi diskusi Damai Dalam Kardus di SAE Insitute Jakarta, Minggu, 25 November 2018. Film pendek ini membuka rangkaian 16 Film Festival (16FF) yang akan berlangsung selama 16 hari ke depan. 

"Namun kami ingin melihat isu yang besar ini dalam kacamata kecil dan sederhana – yang terjadi di dalam rumah, tetapi ternyata efeknya besar," imbuh Utami. 


Dokumenter ini mengikuti kisah seorang pria yang keutuhan keluarganya terpecah akibat konflik agama di Poso. Sejak kecil, dia ikut ibunya yang Islam dan tak pernah bertemu ayahnya yang Kristen. Pria itu, yang kini berusia 30 tahun, mencari jejak ayahnya, sembari aktif membagi semangat toleransi lewat perpustakaan keliling. 

"Gunawan adalah salah satu contoh seperti apa dampaknya. Kami tidak bicara ekonomi karena pasti dampaknya sangat besar," tutur Utami.

"Masih banyak Gunawan yang lain, masih banyak ibu Gunawan lain yang status pernikahannya tidak jelas. Bahkan saat mereka lari ke hutan (untuk berlindung), kita tidak tahu apa yang terjadi."

Utami sepakat dengan data tentang sejarah Poso yang diungkap Helmy Pribadi dari Maarif Institute dalam kesempatan sama. Menurut mereka, Poso tidak punya riwayat kerusuhan berbalut agama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Namun keharmonisan itu rusak pasca-reformasi.

"Walaupun penganut agama Kristen dan Islam enggak ada yang mayoritas atau paling tinggi, mereka sama-sama (kompak). Bahkan pernikahan beda agama menjadi sangat wajar di masyarakat sebelum ada konflik kekerasan agama itu," ungkap Utami. 

"Jadi, gereja, masjid, dan semuanya (hidup) berdampingan. Konflik datang dan memang terjadi (kerusuhan)," imbuhnya. 

Damai Dalam Kardus digarap Utami bersama rekan sutradara Sulaeman Nur dalam naungan Yayasan Eagle Mandiri. Proyek ini menjadi satu dari lima proyek Eagle Awards 2018 dan telah terpilih sebagai pemenang. 

Dalam 16FF 2018, Damai Dalam Kardus bersama 36 film lain dari berbagai era disajikan dalam program pemutaran dan diskusi di sejumlah lokasi di Jakarta pada 25 November hingga 4 Desember. Festival ini mengusung isu kekerasan akibat perbedaan, khususnya terkait gender dan seksualitas.

 



(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id