Jakarta: Masih inget film animasi Merah Putih: One for All yang dibully karena grafiknya? Niu Lai film animasi asal China pun sempat mengalami hal serupa karena grafiknya yang dinilai sangat buruk namun berakhir meledak di box office. Ternyata alasan dari grafik kaku ini ada cuma dibuat sama dua orang dengan budget yang minim banget!
Animasi Niu Lai menjadi viral di internet karena kualitas grafiknya yang dinilai buruk. Hal ini membuat Niu Lai mendapatkan banyak cibiran dan sarkasme dari banyak netizen di X, bahkan ada yang membandingkannya dengan animasi Indonesia yang juga sempat viral karena buruknya grafik yang disajikan, Merah Putih: One for All. Tapi, dibalik itu semua ada alasan mengapa animasi ini menghasilkan gambar yang dinilai “lebih parah dari AI.”
Fakta Dibalik Pembuatan Niu Lai
1. Budget-nya cuma Rp264 Juta!Film animasi berdurasi 86 menit ini ternyata memiliki budget produksi yang cukup minim. Berdasarkan informasi yang di dapat, budget yang dihabiskan dalam pembuatan animasi ini hanya sekitar 100.000 yuan atau setara dengan Rp264 juta. Jumlah ini menjadikan Niu Lai menyandang gelar sebagai rekor box office terendah untuk animasi China sepanjang 2026.
2. Dibuat sama dua orangDengan budget seminimal itu, keterlibatan kru produksi pun terbatas. Sehingga, semua proses produksi dari mulai penyutradaraan, penulisan cerita, hingga pengisi suara hanya dilakukan oleh Xin Yumeng dan Sun Lifang saja.
3. Produksinya memakan waktu 5 tahunKarena hanya dibuat oleh dua orang, produksi animasi pun memakan proses yang cukup lama, yakni lima tahun. Film ini diproduksi oleh perusahaan yang awalnya bergerak di bidang jasa dekorasi interior dan eksterior, Dalian Jingyuan Culture Film and Television Media. Animasi ini hanya memiliki empat karakter yang semuanya diisi suara oleh Xin Yumeng dan Sun Lifang.
4. Meledak dipasaranDi awal perilisannya pada tanggal 5 Agustus 2026, Niu Lai mendapatkan berbagai cibiran dari warganet di X akibat kualitas gambarnya yang buruk. Berkisah tentang seekor anak sapi yang bertumbuh besar dan belajar banyak hal melalui mimpi seekor burung yang bertemunya saat baru lahir, Niu Lai telah resmi mengantongi sertifikasi sensor resmi pemerintahan China (Dragon Stamp).
Baca Juga :
Dibalik berbagai cibiran yang dilayangkan, ada beberapa akun X yang mengungkapkan penghargaannya terhadap animasi ini. Mereka berpendapat bahwa animasi yang terlihat buruk akan selalu lebih baik dibanding dengan animasi mulus hasil buatan AI.
Gelombang cibiran ini justru menjadi ajang promosi gratis saking ramainya pembahasan terkait animasi ini. Hal ini terbukti dari pendapatan yang diraup film ini yakni sekitar 7.169 yuan atau sekitar Rp16 Juta dari 236 penonton hanya dalam 9 hari penayangan. Angka ini kemudian melonjak tajam hingga mencapai angka 5,98 juta yuan (sekitar Rp15,8 miliar). Sejumlah penonton bahkan sengaja menonton film ini untuk menyaksikan sendiri film unik ini.
Menurut informasi yang beredar, nyanyian lagu penutup pada film animasi ini berasal dari suara ibu kandung Xin Yumeng, sang sutradara. Hal ini memberikan nilai tambah untuk animasi Niu Lai yang kini telah mendongkrak nilainya di pasar box office.
Suksesnya film animasi Niu Lai yang dinilai memiliki kualitas grafik yang buruk ini menjadi bukti bahwa masih banyak orang yang lebih mementingkan proses pembuatan suatu karya dibandingkan buah yang dihasilkannya.
(Vira Farhatul Maula)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda