Ikatan Darah dibintangi deretan aktor ternama seperti Livi Ciananta, Derby Romero, Dimas Anggara, Teuku Rifnu Wikana, hingga Lydia Kandou. Proyek ini juga digarap bersama beberapa rumah produksi lain, yakni KG Pictures, Legacy Pictures, dan Raid Rapid Active.
Dalam final trailer, penonton diperlihatkan lebih jelas karakter serta gaya bertarung para anggota Geng Mafia Primbon. Boris (Abdurrahman Arif) tampil sadis dengan berbagai senjata tajam, mulai dari mesin pemotong rumput hingga parang. Sementara itu, Macan (Rama) dikenal memiliki gaya bertarung yang kejam dan cenderung mempermainkan lawannya sebelum melukai.
Trailer juga menampilkan momen emosional antara Mega (Livi Ciananta) dan Dini (Ismi Melinda), dua sahabat yang harus saling berhadapan akibat keadaan yang memaksa.
Baca Juga :
Uwais Pictures Siap Rilis 2 Film Tahun 2025
Film ini menjadi langkah baru bagi Sidharta Tata yang sebelumnya dikenal lewat serial bergenre aksi. Dalam proyek ini, ia bekerja sama dengan Iko Uwais sebagai produser eksekutif. Tata mengaku, kesempatan berkolaborasi dengan Iko Uwais merupakan impian lamanya, terutama karena dirinya merupakan penggemar film The Raid.
Selama proses produksi, Tata banyak belajar tentang cara membangun aksi yang terasa nyata. Salah satu hal yang menurutnya paling menarik adalah konsep kamera yang seolah ikut terlibat dalam pertarungan.
“Di sini yang menarik adalah kamera itu ikut berantem. Nah, itu yang belum pernah saya temukan sebenarnya. Bagaimana kemudian tradisinya Uwais Pictures itu adalah menciptakan semua elemen harus bekerja untuk mendukung koreografi fight itu menjadi nyata, termasuk bagaimana camera works itu berjalan,” ujar Sidharta Tata.
Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang “gila”, namun sangat menyenangkan.
“Wah, itu aku melihatnya gila ya. Pengalaman yang sangat menyenangkan. Dan di final trailer, penonton bisa melihat dinamisnya fighting di film ini,” tambahnya.
Menariknya, Ikatan Darah tidak terlalu mengandalkan senjata api. Film ini justru lebih menonjolkan pertarungan tangan kosong serta penggunaan senjata tajam yang dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia, seperti celurit dan golok.
“Saya sedang menerjemahkan sesuatu yang berhubungan dengan lokalitas Indonesia. Yang saya lihat dengan pengalaman empiris saya, ya senjata tajam yang digunakan dengan berbagai macam bentuk alat-alatnya, seperti celurit, golok, dan sebagainya,” ungkap Tata.
Ia juga menegaskan bahwa unsur budaya Indonesia selalu menjadi bagian penting dalam karya-karyanya.
“Bisa dilihat juga dari rekam jejak film saya, saya selalu tidak pernah lepas dari kultur Indonesia yang sangat Indonesia sekali. Jadi lokalitas itu yang saya manfaatkan, termasuk di Ikatan Darah,” lanjutnya.
Selain aksi yang intens, film ini juga dibangun dengan set yang dibuat realistis, mulai dari perkampungan padat hingga gang-gang sempit. Detail produksi tersebut mendukung suasana cerita agar terasa lebih kuat. Bahkan, beberapa adegan melibatkan ratusan figuran untuk menciptakan skala aksi yang lebih besar.
Berkat kualitas visual dan desain set yang matang, Ikatan Darah sempat meraih penghargaan Best Production Design di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF20).
Sebelum tayang di Indonesia, film ini juga telah melakukan world premiere di Fantastic Fest 2025. Ikatan Darah dijadwalkan tayang di bioskop mulai 30 April 2026.
(Maiza Jasmine A.R)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News