Kisah Album Debut Harry Roesli Difilmkan
Alvin Yunata (produser) dan Gerry Apriyan (sutradara) (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)
Denpasar: Kisah tentang Philosophy Gang, debut album musik Gang of Harry Roesli dari tahun 1973, akan diangkat ke film dokumenter oleh Alvin Yunata dan Gerry Apriyan dari Irama Nusantara. Proyek ini dibawa ke forum Docs By The Sea 2018 dan menarik minat banyak mitra, termasuk Go-Studio dari Go-Jek.

Proyek ini diberi judul Philosophy Gang: Your Fantasy Right Here. Menurut Alvin, yang bertindak sebagai produser, proyek ini dimulai sejak 2016 saat mereka membantu La Munai Records dalam perilisan ulang album Philosophy Gang. Jelang perilisan ulang album, mereka bertemu dengan pihak keluarga Harry Roesli, pendiri grup musik Gang of Harry Roesli.

"Dari situ tercetus, kenapa kami enggak bikin sekalian dokumenternya? Kayaknya ini menarik. Kami masih kosong apa yang mau kami angkat soal Harry Roesli. Karena waktu itu yang akan dirilis dulu adalah Philosophy Gang, kami berangkat dari situ," kata Alvin saat ditemui di Hotel The Patra Kuta, Kamis 9 Agustus 2018. 


Menurut Alvin, album ini perlu dibahas karena sudah dilupakan banyak orang, tetapi punya makna mendalam dalam sejarah musik Indonesia. Setelah mempelajari materi, mereka mengklaim bahwa Philosophy Gang adalah album pertama yang bicara tentang pemberontakan. 

"Ini adalah album pertama pemberontakan di Indoneisa, sebelum Iwan Fals atau apa, yang dirilis tahun 1973," ungkap Alvin.

Kendati sudah dimulai sejak 2016, proyek ini baru berjalan progresif sejak Februari 2017. Presentasi mereka dalam Docs By The Sea 2018 berbuah potensi kerja sama dengan mitra dokumenter lokal dan manca negara, baik dukungan produksi, distribusi, maupun akses arsip video. Namun mereka belum menentukan lamaran dari pihak mana yang akan diterima. 

"Banyak banget soalnya. Gue kan harus punya banyak opsi, enggak hanya (dokumen) dari arsip nasional atau Perpusnas," ujar Alvin.

"Gue juga masih butuh panduan, seperti Tribeca Institute itu mau memandu semuanya soal legal paperworks. Di Indonesia kan enggak ada legal paperworks untuk film yang spesifik. Misalnya kayak hak cipta atau jaminan aman sampai film selesai," imbuhnya.

Go-Studio, anak perusahaan Go-Jek untuk industri perfilman, ingin membeli hak produksi dokumenter ini secara utuh serta hak edar untuk lingkup Indonesia. Namun Alvin dan timnya masih menimbang.

"Mereka mau membayari langsung, gila (...). Dia ingin eksklusif untuk lingkup Indonesia, tetapi itu enggak masalah. Kami masih bisa main di internasional," ujar Alvin.

Menurut Alvin, Australian Internationalonal Documentary Conference (AIDC) juga mengajak proyek ini berkolaborasi dengan serial dokumenter tentang pergerakan musik resistensi Asia Tenggara. Rencananya, Philosophy Gang akan digabung dengan dokumenter lain bertema serupa dari negara-negara lain, seperti Filipina.

"Kayaknya gue mau itu deh, gas saja deh tahun depan, pusing-pusing sekalian (...). Seru sih, kalau terakhir bisa jadi kompilasi, keren banget ya," tukas Alvin.

Proyek ini direncanakan selesai pada akhir 2019.
 



(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id