Angga Dwimas Sasongko (Foto: dok.Kanal YouTube @TVRPARLEMEN)
Angga Dwimas Sasongko (Foto: dok.Kanal YouTube @TVRPARLEMEN)

APFI Dorong Pemerintah Berikan Insentif untuk Film Indonesia

Basuki Rachmat • 04 Februari 2026 07:00
Ringkasnya gini..
  • Angga Dwimas Sasongko menilai IP film lokal butuh insentif fiskal dan nonfiskal agar bernilai komersial dan berkelanjutan.
  • Industri film, menurut Angga, tak cukup diukur dari jumlah penonton, tapi dari kekuatan IP yang menggerakkan ekonomi kreatif.
  • Meski potensial, IP film lokal seperti Nussa dan Jumbo masih minim diserap industri ritel tanpa dorongan nyata.
Jakarta: Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI), Angga Dwimas Sasongko, menilai bahwa pengembangan Intellectual Property (IP) dari karya film lokal membutuhkan dukungan nyata berupa insentif, baik fiskal maupun nonfiskal.
 
Menurutnya, langkah tersebut krusial untuk memperkuat ekosistem industri perfilman nasional sekaligus meningkatkan nilai komersial film Indonesia.
 
Angga, yang juga dikenal sebagai sineas serta Founder & CEO Visinema Indonesia, menyampaikan pandangan tersebut dalam Rapat Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional bersama Kementerian Ekonomi Kreatif pada Senin, 2 Februari 2026. 

Ia menekankan bahwa industri film tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah penonton semata, melainkan dari sejauh mana IP film mampu berkembang dan memberi dampak ekonomi berkelanjutan.
Dalam pemaparannya di ruang sidang, Angga menegaskan bahwa IP film lokal sejatinya memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara optimal.
 
"IP lokal itu punya nilai komersial, punya value. Kalau kita bicara tentang industri film yang ideal, maka sebetulnya kita gak hanya bicara tentang berapa jumlah penonton per tahun, tapi beberapa intellectual property yang bisa menghasilkan untuk ancillary atau flywheel," ungkap Angga Dwimas Sasongko yang dikutip dari kanal YouTube TVRPARLEMEN.
 
Ia berharap, dengan adanya insentif fiskal dan nonfiskal dari pemerintah, pelaku industri ritel hingga UMKM dapat terdorong untuk memanfaatkan IP film lokal menjadi produk komersial yang lebih luas.
 
"Bisa jadi mainan, snack, baju, dll," lanjutnya.
 
Lebih jauh, Angga menilai film lokal memiliki peran strategis sebagai penggerak utama ekonomi kreatif di Indonesia. Menurutnya, film dapat menjadi pintu masuk untuk menciptakan rantai ekonomi kreatif yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
 
"Inilah kemudian kenapa film dianggap sebagai salah satu motor terbesar dari ekonomi kreatif. Karena film adalah grand entrance untuk kita bisa membuat sebuah flywheel dari produk ekonomi kreatif itu jadi bagian dari kehidupan sehari-hari market dan masyarakat Indonesia," ujar Angga.
 
Namun demikian, sineas berusia 42 tahun itu mengakui bahwa minat pelaku industri ritel dalam menyerap IP film lokal masih tergolong rendah. Ia pun mencontohkan pengalaman Visinema Indonesia dalam mengembangkan IP animasi lokal seperti Nussa dan Jumbo.
 
"Saya punya IP namanya Nussa dan Jumbo. Kalau itu dibanding Upin-Ipin saja, enggak ada artinya. Ini Jumbo sama Nussa bisa dibilang top tier dari IP Indonesia. Tapi bagaimana 2 IP ini diabsorb sama industri retail, produsen? Mereka lebih memilih Upin-ipin," paparnya.
 
Angga menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata kesalahan dari sisi pasar, melainkan minimnya dorongan yang dapat memicu industri untuk lebih percaya dan berani mengadopsi IP lokal.
"Saya tidak menyalahkan sisi demand, tapi demand-nya memang perlu di-trigger untuk bisa mengabsorbsi local IP. Jadi sebetulnya IP kita punya kekuatan yang sudah bisa dibilang emerging. Belum sesuatu yang luar biasa, tapi sudah bisa dibilang emerging," tutup Angga Dwimas Sasongko.
 

 

 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan