Ketua Komite FFI 2024–2026, Ario Bayu, dan Duta FFI 2026, Morgan Oey dan Nirina Zubir (Foto: Medcom/Rafi)
Ketua Komite FFI 2024–2026, Ario Bayu, dan Duta FFI 2026, Morgan Oey dan Nirina Zubir (Foto: Medcom/Rafi)

FFI Belum Ada Aturan Soal AI: Kami Belum Melek ke Sana

Rafi Alvirtyantoro • 18 September 2026 20:01
Ringkasnya gini..
  • Ketua Komite FFI Ario Bayu mengakui FFI belum memiliki regulasi resmi terkait penggunaan teknologi AI.
  • Perkembangan AI di industri film nasional dinilai belum merata sehingga FFI masih memakai pendekatan konvensional.
  • Berbeda dengan FFI, ajang Piala Oscar 2027 telah resmi melarang penggunaan AI untuk naskah dan aktor nominasi.
Jakarta: Ketua Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2024–2026, Ario Bayu, mengakui bahwa pihaknya belum memiliki aturan yang jelas mengenai teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Ia menjelaskan bahwa FFI saat ini belum menentukan batasan maupun regulasi terkait penggunaan AI di industri film.

“Untuk menjawab apakah FFI sudah punya batasan atau regulasi yang jelas untuk AI, kami belum,” kata Ario Bayu kepada Medcom.id di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat, 18 September 2026.
 

Perkembangan Teknologi AI di Industri Film Belum Merata


Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi AI di industri film Indonesia yang dinilai belum merata.

“Kami melihat trajectory atau arah dari perkembangan teknologi Artificial Intelligence khususnya di film, itu belum prevalen di Indonesia, belum begitu berdampak yang kami lihat,” ucap Ario Bayu.

Ia menilai AI belum memberikan dampak signifikan bagi FFI saat ini. Oleh karena itu, ajang penghargaan tersebut masih berfokus pada pendekatan konvensional.

“Sekarang ini di FFI ini kan kayaknya enggak nyampai ke sana,” tutur Ario Bayu.

“Kami belum memiliki framework atau kami belum bahkan bisa menjabarkan atau kami belum kayak melek ke sana sebenarnya. Kami masih di yang agak konvensional saja,” tambahnya.  

AI Sebagai Potensi Ancaman dan Dampak Positif


Meski begitu, Ario Bayu secara pribadi memandang AI sebagai faktor disrupsi yang berpotensi menjadi ancaman, sekaligus membawa dampak positif evolutif bagi ekosistem perfilman dan dunia kreatif secara keseluruhan.

“Kalau secara pribadi gitu ya, seseorang yang berkecimpung di dunia atau di industri perfilman, ini bisa jadi threat atau bisa jadi hal yang evolutif gitu, hal yang memang berdampak positif. Tapi kami tidak tahu, belum tahu,” ujar Ario Bayu.

Mengamati fenomena disrupsi yang juga terjadi di sektor lain seperti hukum, Ario Bayu mengakui masih sulit menafsirkan serta memetakan arah perkembangan AI secara pasti.

“Ternyata yang terdampak bukan aku doang nih, orang kreator gitu kan, atau Mbak Nirina atau Mas Morgan gitu. Jadi kami juga masih sulit menafsir. Tapi yang pasti ini ada sebuah disruptor,” jelas Ario Bayu.

“AI ini akan mendisrupsi ekosistem perfilman kita atau nanti dunia kreatif kita. Ya tinggal bagaimana kita bisa jadi taktikal dan juga bisa adaptif aja sih ya terhadap ini. Nah itu aku masih belum tahu sebenarnya,” lanjutnya.  

Regulasi AI di Ajang Penghargaan Internasional


Sebelumnya, aturan AI dalam sebuah ajang penghargaan telah resmi ditetapkan untuk Piala Oscar 2027. Pihak penyelenggara menetapkan aturan baru yang melarang penggunaan AI generatif untuk menggantikan karya tulis manusia dalam naskah, serta melarang aktor buatan AI masuk dalam kategori nominasi akting.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA