Ketua Komite FFI 2024–2026, Ario Bayu (Foto: Medcom/Rafi)
Ketua Komite FFI 2024–2026, Ario Bayu (Foto: Medcom/Rafi)

Hasil Seleksi Tuai Kritik, Ketua Komite FFI 2026 Buka Suara

Rafi Alvirtyantoro • 18 September 2026 18:43
Ringkasnya gini..
  • Komite FFI menegaskan proses seleksi dan penjurian FFI 2026 telah berjalan secara adil, objektif, dan transparan.
  • Hasil kurasi tahap awal FFI 2026 menuai sorotan warganet karena sejumlah film populer tidak masuk daftar.
  • Gina S. Noer dan Joko Anwar mengklarifikasi bahwa karya terbaru mereka telah didaftarkan ke FFI 2026.
Jakarta: Daftar nominasi Festival Film Indonesia (FFI) kerap menjadi polemik di tengah masyarakat, khususnya para pencinta sinema di Tanah Air. Lantas, bagaimana ajang penghargaan tersebut meresponsnya?
 

Komitmen Komite FFI pada Sistem Penjurian

Ketua Komite FFI 2024–2026, Ario Bayu, mengatakan bahwa pengumuman daftar film yang telah dikurasi oleh FFI memang kerap menuai polarisasi dari masyarakat, khususnya pada musim penjurian. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya telah berusaha sebaik mungkin dalam mengambil keputusan.

“Mungkin yang saya bisa pastikan, yang komite bisa pastikan itu adalah proses penjurian dan sistem penjurian atau parameter penjurian itu sudah kami usahakan yang terbaik,” kata Ario Bayu kepada Medcom.id, pada Jumat, 18 September 2026.

Ia menjelaskan bahwa Komite FFI tidak menentukan film mana yang layak atau tidak layak masuk nominasi. Pihak komite hanya bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan platform dan sistem penjurian.

“Tahun ini juga sama bahwa ada beberapa hal kami pun di komite merasa kayak, ‘Kok malah yang terpilih ini ya?’. Jadi kami pun juga terkadang surprise, karena kami di FFI ini bukan yang menentukan siapa yang layak atau tidak layak,” jelas Ario Bayu.


 


Proses Seleksi Bersifat Adil dan Objektif

Pada kesempatan itu, Ario Bayu memastikan bahwa proses seleksi berjalan secara adil, objektif, dan dilandasi oleh pertimbangan orang-orang yang berkompeten serta memiliki kontribusi besar di bidangnya.

“Kami bisa pastikan bahwa semua itu berjalan dengan adil, fair, dan juga dilandasi oleh teman-teman yang memang punya kontribusi besar dan juga orang-orang yang kami anggap pakar di bidangnya yang bisa bukan menghakimi ya, tapi bisa memberikan perspektifnya untuk yang nantinya dapat di shortlist-nya gitu,” ujar Ario Bayu.

Kemudian, ia mengingatkan kembali bahwa FFI hadir untuk memberikan pengakuan dan promosi bagi para pembuat film yang dianggap pantas mewakili cerita-cerita Indonesia.

“Aku mau mengingatkan bahwa FFI ini memang ada untuk memberikan yaitu rekognisi dan juga memberikan promosi untuk me-reka filmmaker-filmmaker yang dianggap pantas mewakili cerita-cerita Indonesia,” pungkas Ario Bayu.
   

Pola Kurasi dan Sorotan Warganet

Sebelumnya, FFI telah mengumumkan hasil seleksi awal hingga tahap kedua yang nantinya akan disaring lagi ke dalam daftar nominasi FFI 2026. Proses kurasi tahap pertama dilakukan oleh tiga praktisi perfilman, sementara tahap kedua melibatkan 12 asosiasi profesi perfilman Indonesia.

Hasil seleksi tersebut diketahui menuai berbagai reaksi dari masyarakat, termasuk warganet di Threads. Salah satu pengguna merasa heran karena film yang dinilai layak dinominasikan pada FFI 2026 justru tersingkir sejak tahap awal seleksi.

“Film berikut, bagi Tim Seleksi Awal yang berjumlah 3 orang, Agung Sentausa (Sutradara), Gita Fara (Produser), dan Swastika Nohara (Penulis Skenario), dinilai tidak layak dinominasikan,” tulis pengguna Threads tersebut.

Ketiga film yang dimaksud adalah Aku Sebelum Aku, Legenda Kelam Malin Kundang, dan Ayah, Aku Mau Cerita.

“Menurut saya ketiganya gak mungkin tidak lebih layak daripada beberapa yang lolos di 25 list tersebut, segala aspeknya lebih solid, dan kalaupun banyak kurangnya, beberapa aspeknya sangat stand out utamanya akting dan skenario,” lanjut pengguna tersebut.
   

Klarifikasi Para Sutradara

Sutradara Gina S. Noer bahkan membantah bahwa karya garapannya tidak didaftarkan ke dalam nominasi FFI 2026.

“Aku Sebelum Aku daftar, Kak. Hehe. Makasih ya sudah mengapresiasinya,” tulis Gina S. Noer dalam kolom komentar.

Sutradara Joko Anwar juga membantah tuduhan bahwa ia sengaja tidak mendaftarkan film Legenda Kelam Malin Kundang agar tidak bersaing dengan karya garapannya yang lain, Ghost in the Cell, yang kini telah lolos kurasi FFI 2026 hingga tahap kedua.

“Didaftarin lah. Gila apa saingan-saingan,” tulis Joko Anwar.

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA