Sineas film NAZA, Yusra Abraham & Rachel Szor (Foto: X @AntSpeaks)
Sineas film NAZA, Yusra Abraham & Rachel Szor (Foto: X @AntSpeaks)

Netanyahu Kecam Film NAZA, Sebut Dokumenter soal Gaza sebagai Hasutan

Basuki Rachmat • 15 September 2026 10:20
Ringkasnya gini..
  • PM Benjamin Netanyahu mengecam keras film dokumenter NAZA usai berjaya di Venesia.
  • Pihak militer Israel (IDF) menilai film tersebut memuat fitnah dan mengkaji langkah hukum.
  • Sineas Yuval Abraham tetap membela karyanya yang mengungkap sistem pengawasan AI di Gaza.
Jakarta: Film dokumenter NAZA karya pasangan sineas asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, mendapat kecaman dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah meraih penghargaan Special Jury Prize di Festival Film Venesia 2026.

NAZA merupakan film dokumenter yang menghadirkan wawancara eksklusif dengan 24 perwira intelijen dan prajurit militer Israel. Para narasumber tersebut berbicara secara anonim mengenai mekanisme operasi militer serta sistem pengawasan massal berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan di Gaza.

Judul NAZA merujuk pada istilah internal intelijen militer yang disebut digunakan untuk menghitung perkiraan jumlah korban sipil atau collateral damage sebelum serangan udara dilakukan.

Film ini merupakan hasil kolaborasi Yuval Abraham dan Rachel Szor bersama produser eksekutif peraih Oscar, Jonathan Glazer, serta media Inggris The Guardian dan produser James Wilson.

Kontroversi terhadap NAZA muncul setelah Netanyahu menilai film tersebut sebagai bagian dari gelombang hasutan global terhadap masyarakat Yahudi. Ia bahkan menyoroti keterlibatan dua sineas Israel dalam film yang dianggapnya menggambarkan militer Israel sebagai pelaku kejahatan perang.

Menanggapi keberadaan film tersebut, Netanyahu menyampaikan kritik keras melalui pernyataannya yang dikutip Reuters pada Selasa, 15 September 2026.

“Ini mengejutkan. Kita sedang memerangi hasutan antisemitisme global, dan ketika hal itu datang dari kalangan kita sendiri, itu tidak dapat ditoleransi,” kata Netanyahu, dikutip dari Reuters pada Selasa, 15 September 2026.

Ia kemudian menyinggung keberhasilan NAZA mendapatkan sambutan di Festival Film Venesia. Menurut Netanyahu, penghargaan yang diterima film tersebut justru menunjukkan bagaimana kritik terhadap Israel mendapatkan perhatian internasional.

“Dan kini, dua sutradara Israel yang menggambarkan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) sebagai penjahat perang justru mendapat tepuk tangan di festival Venesia," tuturnya.
   

Militer Israel Ikut Kecam NAZA



Kecaman terhadap NAZA tidak hanya datang dari Netanyahu. Kepala Militer Israel Eyal Zamir juga menyampaikan penolakan terhadap film tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap Israel.

Zamir menilai film tersebut tidak dapat dianggap sebagai kritik terhadap Pasukan Pertahanan Israel atau IDF. Ia justru mempertanyakan dasar informasi yang digunakan para pembuat film dalam menyusun dokumenter tersebut.

“Berdasarkan apa yang telah dipublikasikan sejauh ini, ini bukanlah film yang melontarkan kritik terhadap IDF, ataupun upaya untuk mengungkap kebenaran. Film ini didasarkan pada fitnah keji (blood libel), distorsi kenyataan yang disengaja, serta tuduhan palsu yang berat terhadap tentara dan komandan IDF,” ujar Zamir.

Militer Israel kemudian menyatakan bahwa Zamir telah memerintahkan Advokat Jenderal Militer, yang memiliki kewenangan hukum terbatas di lingkungan militer, untuk mengkaji dan menindaklanjuti kemungkinan langkah hukum terhadap film tersebut maupun pihak-pihak yang terlibat.
 

Sineas NAZA Tegaskan Keberanian Berkarya



Di tengah gelombang kecaman tersebut, Yuval Abraham tetap mempertahankan keputusan untuk membuat NAZA. Ia menyadari bahwa produksi film tersebut membawa risiko, terutama karena mengangkat isu sensitif mengenai operasi militer Israel di Gaza.

Meski demikian, Abraham mengatakan risiko tersebut memang menjadi bagian dari keputusan kreatif mereka. Ia dan Rachel merasa perlu membuka pembicaraan mengenai kondisi yang terjadi di tengah sistem yang menurutnya memberikan keistimewaan tertentu kepada kelompok Yahudi-Israel.

Menjelaskan alasan di balik keberanian mereka membuat film tersebut, Abraham mengatakan:

“​Kami mengambil risiko dalam sistem yang memberikan hak istimewa kepada kami, di mana supremasi Yahudi-Israel menjadi karakteristik utamanya,” ungkap Abraham.

Abraham juga menyoroti kondisi masyarakat Palestina yang terdampak operasi militer Israel. Ia menggambarkan bagaimana kekerasan dan operasi militer turut memengaruhi kehidupan masyarakat sipil Palestina.

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, Abraham menggunakan perumpamaan mengenai apa yang dihadapi warga Palestina ketika rumah mereka didatangi dalam situasi konflik.

“Bagi begitu banyak warga Palestina, yang mendatangi rumah mereka bukanlah massa sayap kanan, melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS," tegasnya.

Sementara itu, pihak militer Israel atau IDF telah membantah tuduhan yang disampaikan melalui film tersebut. IDF juga mempertanyakan keabsahan keterangan para narasumber anonim yang tampil dalam dokumenter.

Meski mendapat penolakan dari pemerintah dan militer Israel, Abraham tetap menilai NAZA penting untuk disaksikan, termasuk oleh masyarakat Israel. Menurutnya, film tersebut dapat membuka ruang diskusi mengenai isu yang selama ini sulit dibicarakan secara terbuka.
 

NAZA Raih 24,5 Menit Standing Ovation di Venesia



Sebelum menuai kontroversi di Israel, NAZA lebih dahulu mencuri perhatian di Festival Film Venesia 2026. Film dokumenter tersebut menjalani pemutaran perdana dalam kompetisi utama 83rd Venice International Film Festival di Venezia, Italia, pada Rabu, 10 September 2026.

Pemutaran tersebut mendapat respons luar biasa dari penonton yang hadir. Setelah film berakhir, para penonton memberikan standing ovation selama sekitar 24,5 menit tanpa henti.

Durasi apresiasi tersebut membuat NAZA disebut memecahkan rekor standing ovation terlama dalam sejarah pemutaran film di festival tersebut. Rekor sebelumnya dipegang film dokumenter The Voice of Hind Rajab.

Suasana di dalam gedung bioskop juga berlangsung emosional. Sejumlah penonton terlihat mengibarkan bendera Palestina di tengah tepuk tangan dan sorakan apresiasi terhadap film karya Yuval Abraham dan Rachel Szor tersebut.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA