Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Maudy karena harus keluar dari karakter yang selama ini kerap ia mainkan. Peran ini memberikan kesempatan bagi Maudy untuk mengeksplorasi sisi akting yang belum pernah ia tampilkan sebelumnya di panggung teater.
Maudy mengaku menikmati proses memerankan Sayap Hitam. Menurutnya, setiap kesempatan bermain dalam sebuah pertunjukan selalu memberikan pengalaman berbeda, termasuk ketika harus membawakan karakter yang bertolak belakang dengan peran-peran sebelumnya.
"Masing-masing punya keseruan, kenikmatan yang berbeda-beda, sih. Eh tapi kesempatan bermain sebagai Sayap Hitam di teater Nyonya Hati Suci ini memberi pengalaman baru, kenikmatan baru dari mana-mana. Jadi, aku sangat menikmati kesempatan ini," kata Maudy Koesnaedi di Jakarta.
Maudy mengungkapkan tantangan khusus berperan sebagai karakter antagonis. Namun, tantangan tersebut justru membuatnya semakin menikmati proses pendalaman karakter selama persiapan pementasan.
"Iya, baru pertama kali ini dikasih kepercayaan buat dapet peran antagonis dan seperti tadi aku bilang, aku menikmati sekali. Tantangannya melakukan gerakan-gerakan dengan kuku panjang tuh ternyata tuh ribet ya," kata Maudy bercanda.
Salah satu detail yang harus diperhatikan Maudy adalah penggunaan kuku panjang sebagai bagian dari penampilan karakter Sayap Hitam. Meski terlihat sederhana, properti tersebut ternyata memengaruhi keleluasaan geraknya ketika harus melakukan berbagai adegan di atas panggung.
Selain Maudy, Tika Bravani juga terlibat dalam pementasan Njonja Ati Soetji dengan memerankan Noona Kneefel. Dia mengaku memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika harus menggabungkan dialog dan nyanyian dalam satu rangkaian adegan.
"Tantangannya cuman ada nyanyi aja sih yang suka bikin deg-degan. Nyanyi sambil ngomong, sambil nyanyi lagi kayak gitu-gitu ya. Menurut saya agak aneh ya, tapi harus seolah-olah itu natural, nah itu yang latihan terus ya. Selebihnya sih mau ini atau itu sama-sama nutup aurat, enggak ada bedanya," kata Tika Bravani.
Pementasan teater Njonja Ati Soetji dijadwalkan berlangsung pada 30-31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. Pertunjukan yang digarap Regina Art ini mengangkat kisah nyata perjuangan Auw Tjoei Lan, perempuan keturunan Tionghoa yang dikenal sebagai sosok pelindung perempuan dan anak-anak pada masa kolonial.
Melalui pertunjukan ini, Regina Art ingin memperkenalkan kembali sosok Auw Tjoei Lan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Dedikasinya dalam membantu perempuan dan anak-anak yang menjadi korban eksploitasi menjadi bagian penting dari sejarah kemanusiaan di Indonesia.
Pendiri Regina Art, Joane Win, mengambil peran utama sebagai Njonja Ati Soetji. Dia berharap kisah perjuangan Auw Tjoei Lan dapat semakin dikenal luas dan menginspirasi masyarakat untuk memahami kontribusi berbagai tokoh dalam perjalanan sejarah bangsa.
"Generasi muda zaman sekarang juga harus tahu bahwa mereka juga mempunyai pahlawan Indonesia yang keturunan Tionghoa yang juga banyak jasanya gitu kepada Indonesia," kata Joane Win.
Pementasan ini disutradarai Wawan Sofwan dengan naskah yang ditulis Endah D. Jenura. Selain Joane Win, Maudy Koesnaedi, dan Tika Bravani, pertunjukan ini juga melibatkan Willem Bievers sebagai Van Walsem, Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, serta Chloe Gerry sebagai Suyun. Ada pula Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, dan Andi Solohin sebagai Jagal.
Baca Juga :