Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) (Foto: Instagram)
Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) (Foto: Instagram)

7 Film Perjuangan dan Ketangguhan Perempuan Pekerja

Elang Riki Yanuar • 25 Oktober 2026 11:11
Ringkasnya gini..
  • Kisah perjuangan perempuan kelas pekerja memperlihatkan betapa beratnya tekanan ekonomi serta ketimpangan sosial yang harus mereka hadapi sehari-hari.
  • Mulai dari buruh pabrik hingga pekerja kantoran muda, potret ini menghadirkan sudut pandang mengenai beban ganda yang kerap dipikul oleh kaum wanita.
  • Karya sinematik bernuansa realisme sosial ini membuka mata penonton terhadap pentingnya empati dan keadilan bagi pekerja perempuan di seluruh dunia.
Jakarta: Perjuangan perempuan kelas pekerja kerap menjadi cermin jernih yang memantulkan ketimpangan sosial serta dinamika ekonomi di tengah masyarakat modern.

Melalui narasi film sinematik yang menggugah, karya-karya berikut memperlihatkan bagaimana ketangguhan dan kerentanan berjalan berdampingan dalam kehidupan sehari-hari.
 

7 Film Perjuangan dan Ketangguhan Perempuan Pekerja

 

1. Norma Rae (1979)

Sutradara Martin Ritt merilis drama realisme sosial ini pada 1979 lewat 20th Century Fox dan kini tayang di Disney+. Dibintangi Sally Field sebagai Norma Rae Webster bersama Beau Bridges dan Ron Leibman, film berlatar kota kecil Carolina Utara akhir 1970-an ini menelusuri eksploitasi buruh pabrik tekstil.

Konflik bermula saat kehadiran organisator serikat buruh menggerakkan Norma Rae untuk memimpin rekan kerjanya bersatu menuntut hak dasar. Keberanian ibu tunggal ini menjadi simbol penting perlawanan dan hak buruh perempuan di industri manufaktur.


(Sumber: YouTube @Movies TV Network)
 

2. Rosetta (1999)

Disutradarai Jean-Pierre Dardenne dan Luc Dardenne, film bernuansa neorealisme ini rilis di Festival Film Cannes 1999 dan dapat ditonton di Criterion Channel. Menampilkan Émilie Dequenne sebagai Rosetta bersama Fabrizio Rongione, narasi berlatar pinggiran Belgia akhir 1990-an ini mengikuti remaja yang tinggal di kawasan karavan bersama ibunya yang kecanduan alkohol.

Fokus cerita tertuju pada perjuangan Rosetta mendapatkan pekerjaan formal demi hidup normal tanpa bantuan sosial. Gaya kamera genggamnya memperlihatkan kerasnya persaingan kelas bawah dalam mempertahankan kelangsungan hidup.


(Sumber: YouTube @Les Films du Fleuve)
 

3. The Second Mother (2015)

Sutradara Anna Muylaert menggarap drama sosial Brasil ini pada 2015 yang kini tersedia di Amazon Prime Video. Dibintangi Regina Casé sebagai Val bersama Camila Márdila, film berlatar hunian mewah São Paulo pertengahan 2010-an ini memotret asisten rumah tangga yang menetap belasan tahun demi membiayai anaknya di kampung.

Ketegangan timbul saat putrinya datang untuk ujian kuliah dan menolak tunduk pada aturan diskriminatif rumah majikan ibunya. Melalui konflik tersebut, film ini membedah ilusi kekeluargaan serta eksploitasi tenaga kerja domestik perempuan.


(Sumber: YouTube @Rotten Tomatoes Indie)
   

4. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Sutradara Mouly Surya menghadirkan drama satirical western ini pada 2017 di bioskop Indonesia dan kini tayang di Netflix. Dibintangi Marsha Timothy sebagai Marlina bersama Dea Panendra dan Egy Fedly, kisah berlatar sabana Sumba ini menyoroti janda miskin yang bertahan hidup di tengah minimnya perlindungan hukum.

Konflik meletus ketika komplotan perampok menyatroni rumahnya untuk menguras harta serta mengancam nyawanya. Perlawanan nekat Marlina menjadi cermin perlawanan atas ketidakadilan sistemis dan kekerasan patriarki terhadap perempuan marjinal.


(Sumber: YouTube @Cinesurya)
 

5. The Assistant (2019)

Sutradara Kitty Green merilis drama psikologis ini pada 2019 yang kini tayang di Hulu dan MUBI. Menampilkan Julia Garner sebagai Jane bersama Matthew Macfadyen, film berlatar satu hari kantor produksi hiburan New York ini memotret rutinitas asisten tingkat dasar yang sarat beban mental.

Jane mengurus tugas administratif sembari menyaksikan indikasi eksploitasi dan pelecehan terselubung oleh atasannya. Lewat suasana hening dan mencekam, karya ini membongkar normalisasi lingkungan kerja toksik serta pembungkaman pekerja perempuan junior.


(Sumber: YouTube @IMDb)
 

6. Samjin Company English Class (2020)

Sutradara Lee Jong-pil mengarahkan komedi-drama sejarah ini pada 2020 yang saat ini tayang di Netflix. Dibintangi Go Ah-sung, Esom, dan Park Hye-su, film berlatar Seoul tahun 1995 ini menceritakan para pegawai perempuan lulusan SMA yang hanya diberi tugas pendukung kantor.

Kesempatan promosi lewat kelas bahasa Inggris kantor justru membawa mereka menemukan skandal pembuangan limbah beracun perusahaan. Ketiganya lantas bersatu menggalang kekuatan pekerja bawah untuk membongkar kejahatan korporasi demi melindungi masyarakat.


(Sumber: YouTube @Lotte Entertainment (International)) 
 

7. Home Sweet Loan (2024)

Sutradara Sabrina Rochelle Kalangie merilis drama adaptasi novel ini pada 2024 di bioskop Indonesia dan kini tersedia di Netflix. Menampilkan Yunita Siregar sebagai Kaluna bersama Derby Romero, film berlatar Jakarta tahun 2024 ini mengangkat realitas pekerja kantoran yang terjebak kondisi sandwich generation.

Kaluna berjuang menabung demi membeli rumah impian, namun usahanya terus terhambat oleh beban finansial keluarga besarnya. Karya ini secara jujur menggambarkan kelelahan mental serta besarnya tekanan ekonomi pekerja perempuan muda perkotaan.


(Sumber: YouTube @Visinema Pictures)


Rangkaian film ini membuktikan bahwa kisah perempuan kelas pekerja bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan atas perjuangan hidup yang sangat nyata. Semoga potret ketangguhan mereka dalam layar lebar mampu menginspirasi perubahan serta empati yang lebih besar di dunia nyata.





(Dinda Intan Ramadhani)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA