Pada penyelenggaraannya yang ke-39 ini, TIFF 2026 mengusung tema “Connecting — Cinema Connects Us to the World Beyond”. Tema ini menegaskan kekuatan sinema sebagai medium pemersatu yang mampu menjembatani perbedaan negara, kebudayaan, keyakinan, gender, hingga latar belakang sosial, sekaligus memupuk rasa empati di tengah situasi konflik global.
Sementara itu, karya-karya sineas Tanah Air tersebut tersebar di berbagai kategori strategis. Mulai dari ajang kompetisi utama, wadah bagi sutradara muda yang melahirkan film panjang perdana atau keduanya, hingga seleksi khusus hasil kurasi para kurator film Asia Tenggara.
Daftar Film Indonesia di Tokyo International Film Festival 2026
1. Red Before Dawn (Merah Sebelum Fajar)
Film garapan sutradara Garin Nugroho ini sukses masuk ke kompetisi utama (Main Competition) dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bersaing dengan 14 film internasional lainnya. Film ini telah tayang perdana di Tokyo International Film Festival pada 27 Oktober 2026, disusul penayangan berikutnya pada 30 Oktober dan 3 November 2026.
Dibintangi oleh Nicholas Saputra, Laura Basuki, Bront Palarae, Tissa Biani, dan Nagra Pakusadewo, film Merah Sebelum Fajar menceritakan tentang Frans (Nicholas Saputra) bersama empat individu lintas latar belakang yang membawa sebuah dokumen krusial menembus berbagai daerah. Sepanjang perjalanan, mereka justru harus berhadapan dengan rasa curiga dari sesama pejuang.
2. Jani Be Good (Desember Jani)
Film ini berkompetisi dalam kategori Asian Future Competition, ajang yang khusus menampilkan karya film panjang pertama atau kedua dari para sutradara Asia. Desember Jani menjadi debut film panjang bagi sutradara Ariani Darmawan dengan menampilkan Chempa Puteri, Sigi Wimala, Hyori Mika, dan Tutie Kirana dalam jajaran pemainnya.
Film Desember Jani menceritakan tentang Jani (Chempa Puteri), seorang remaja 13 tahun yang tidak sengaja mendengar pertengkaran hebat antara sang kakak, Julia (Hyori Mika), dengan ibunya, Winnie (Sigi Wimala). Keesokan harinya, remaja tersebut mendadak menghilang tanpa kabar.
3. Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi)
Film garapan sutradara Kamila Andini ini turut melangsungkan tayang perdananya di Jepang melalui ajang Tokyo International Film Festival 2026. Empat Musim Pertiwi terpilih masuk dalam program CROSSCUT ASIA+, sebuah inisiatif kolaborasi TIFF dan Japan Foundation yang dikuratori langsung oleh kurator (programmer) film asal Asia Tenggara dan Jepang.
Dibintangi oleh Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim, film Empat Musim Pertiwi menceritakan sosok Pertiwi (Putri Marino) yang kembali ke kampung halamannya usai menyelesaikan masa hukuman penjara yang panjang. Di tengah lingkungan desa yang terasa asing dan menghimpit, ia berupaya membangun kembali kehidupannya berdampingan dengan sesama warga yang juga terasingkan.
4. Turang
Sama seperti Empat Musim Pertiwi, film ini juga diboyong ke dalam program CROSSCUT ASIA+. Karya besutan sutradara Bachtiar Siagian yang dirilis pada tahun 1957 ini pernah meraih penghargaan sebagai Film Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional, yang merupakan cikal bakal dari Festival Film Indonesia (FFI), pada tahun 1960.
Dalam gelaran di Tokyo, Turang ditayangkan pada 26 dan 30 Oktober 2026 di TOHO Cinemas Chanter, lengkap dengan sesi diskusi tanya jawab bersama Bunga Siagian, seorang peneliti independen yang juga merupakan putri dari mendiang Bachtiar Siagian.
Turang berlatar masa perjuangan kemerdekaan di Tanah Karo dan mengikuti kisah Rusli, seorang pejuang yang terluka lalu jatuh hati kepada Tipi, wanita yang merawatnya selama pemulihan. Saat pengkhianatan memicu serangan Belanda, warga desa terpaksa mengangkat senjata dan berjuang demi mempertahankan hidup serta Tanah Air mereka.
5. Behind the Flickering Light: The Archive
Film dokumenter bertajuk Behind the Flickering Light: The Archive (2013)—atau yang juga dikenal dengan judul Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)—turut melengkapi jajaran film Indonesia di program CROSSCUT ASIA+. Di Tokyo International Film Festival, film garapan sutradara Hafiz Rancajale ini diputar pada 26 Oktober di TOHO Cinemas Chanter.
Behind the Flickering Light mengupas pemikiran dan dedikasi Misbach Yusa Biran dalam memperjuangkan pelestarian arsip film Indonesia. Dokumenter ini menyoroti pentingnya menjaga warisan audiovisual, mulai dari penyimpanan film, ancaman kerusakan material, hingga krisis regenerasi pengarsip demi keberlangsungan sejarah sinema nasional.
6. Sleep No More (Monster Pabrik Rambut)
Film yang disutradarai oleh Edwin ini ditayangkan perdana di Tokyo International Film Festival pada 3 November 2026. Sebelumnya, film ini telah lebih dulu menyapa penonton Tanah Air di bioskop pada 4 Juni lalu, serta mencatatkan rekam jejak internasional di Berlin International Film Festival (Berlinale) ke-76 pada Februari, disusul penayangan di Brussels Fantastic Film Festival ke-44 dan Hong Kong International Film Festival ke-50 pada bulan April 2026.
Monster Pabrik Rambut menceritakan tentang Putri (Rachel Amanda) yang bekerja di pabrik rambut tempat ibunya meninggal demi melunasi utang keluarga sekaligus mencari kebenaran di balik kematian sang ibu. Di saat yang sama, adiknya, Ida (Lutesha), meyakini ada sosok misterius yang menghantui para pekerja dan nekat menyelidikinya dengan mengambil shift malam serta menahan kantuk selama berhari-hari.