Wildwood (Foto: Youtube)
Wildwood (Foto: Youtube)

4 Film Animasi tentang Krisis Hutan, dari Deforestasi hingga Perjuangan Satwa

Agustinus Shindu Alpito • 26 Oktober 2026 12:59
Ringkasnya gini..
  • Krisis hutan menjadi isu lingkungan yang diangkat melalui berbagai medium, termasuk film animasi.
  • Wildwood menyajikannya melalui petualangan fantasi, Pom Poko menyoroti pembangunan yang menggeser habitat satwa
  • Sedangkan Ozi: Voice of the Forest dan Savages menggambarkan dampak kerusakan hutan terhadap orang utan serta ekosistemnya.

Jakarta: Krisis hutan menjadi isu lingkungan yang diangkat melalui berbagai medium, termasuk film animasi. Lewat kisah petualangan karakter manusia dan satwa, sejumlah film menggambarkan ancaman terhadap habitat, dampak pembangunan, hingga pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Tak sekadar menyajikan hiburan, film-film ini juga mengajak penonton memahami hubungan antara manusia, satwa, dan lingkungan. Berikut empat film animasi yang mengangkat tema hutan dan perlindungannya.

1. Wildwood (2026)

Wildwood merupakan film animasi fantasi produksi LAIKA yang mengikuti perjalanan Prue McKeel, seorang remaja yang berusaha menyelamatkan adik bayinya, Mac. Bayi tersebut diculik oleh sekawanan burung gagak dan dibawa ke hutan misterius yang tersembunyi di dekat Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Bersama teman sekelasnya, Curtis Mehlberg, Prue memasuki kawasan hutan terlarang yang dihuni berbagai makhluk ajaib. Namun, pencarian itu membawa mereka ke tengah konflik yang mengancam dunia hutan tersebut.

Film yang diadaptasi dari novel karya Colin Meloy dengan ilustrasi Carson Ellis ini memadukan petualangan fantasi dengan kisah tentang hutan sebagai ruang hidup yang menyimpan berbagai misteri dan konflik. Wildwood dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat pada 23 Oktober 2026.

2. Pom Poko (1994)

Film produksi Studio Ghibli ini mengangkat persoalan pembangunan yang mengancam ruang hidup satwa. Pom Poko mengikuti sekelompok tanuki, hewan yang dalam cerita rakyat Jepang dikenal memiliki kemampuan berubah bentuk.

Kehidupan mereka terganggu ketika kawasan hutan mulai dialihfungsikan untuk pembangunan permukiman baru. Ruang hidup dan sumber makanan mereka semakin terbatas sehingga para tanuki berusaha mempertahankan wilayahnya.

 

Berbagai cara dilakukan untuk menghentikan pembangunan, termasuk memanfaatkan kemampuan mereka untuk menyamar dan menakut-nakuti manusia. Namun, upaya tersebut tidak sepenuhnya berhasil menghentikan perubahan lingkungan.

Di balik unsur komedi dan fantasinya, Pom Poko menyampaikan kritik terhadap pembangunan yang mengabaikan keberadaan satwa serta keseimbangan ekosistem.

3. Ozi: Voice of the Forest (2024)

Berbeda dari dua film sebelumnya, Ozi: Voice of the Forest menempatkan seekor orang utan sebagai tokoh utama. Film ini berkisah tentang Ozi, orang utan muda yang terpisah dari orang tuanya akibat kebakaran hutan dan deforestasi.

Setelah dibesarkan di tempat perlindungan satwa, Ozi mempelajari bahasa isyarat dan menggunakan kemampuannya untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Ia kemudian memanfaatkan popularitasnya di media sosial untuk menyuarakan perlindungan hutan.

Dalam perjalanannya, Ozi berusaha mengungkap persoalan di balik kerusakan habitatnya. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana kebakaran dan pembukaan hutan dapat memisahkan satwa dari keluarga serta lingkungan tempat mereka hidup.

Film ini juga mengangkat peran komunikasi dalam menyebarkan kesadaran mengenai krisis lingkungan, terutama kepada generasi muda.

4. Savages (2024)

Film animasi Savages, yang juga dikenal dengan judul Sauvages, membawa penonton ke kawasan hutan tropis Kalimantan. Disutradarai Claude Barras, film ini mengangkat ancaman deforestasi terhadap satwa serta masyarakat adat.

Cerita berpusat pada Kéria, seorang anak perempuan yang menyelamatkan bayi orang utan dari perkebunan kelapa sawit tempat ayahnya bekerja. Kehidupan Kéria kemudian berubah ketika sepupunya, Selaï, datang untuk mencari perlindungan dari konflik antara masyarakat adat dan perusahaan penebangan kayu.

Bersama orang utan bernama Oshi, keduanya menghadapi ancaman terhadap hutan leluhur mereka. Perjuangan itu juga membawa Kéria lebih dekat dengan asal-usul keluarganya.

Melalui teknik animasi stop-motion, Savages menyoroti keterkaitan antara deforestasi, ekspansi industri, kehidupan satwa, dan keberlangsungan masyarakat adat. Film ini memperlihatkan bahwa kerusakan hutan bukan hanya persoalan hilangnya pepohonan, tetapi juga menyangkut rumah, identitas, dan kehidupan banyak makhluk.

Film Animasi Bisa Menjadi Pintu Masuk Memahami Krisis Hutan

Keempat film tersebut menghadirkan pendekatan berbeda dalam mengangkat tema hutan. Wildwood menyajikannya melalui petualangan fantasi, Pom Poko menyoroti pembangunan yang menggeser habitat satwa, sedangkan Ozi: Voice of the Forest dan Savages menggambarkan dampak kerusakan hutan terhadap orang utan serta ekosistemnya.

Meski dikemas melalui cerita fiksi dan petualangan, film-film tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan isu lingkungan kepada anak-anak maupun penonton dewasa.

Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan kawasan hijau. Upaya tersebut juga berkaitan dengan perlindungan keanekaragaman hayati dan keberlangsungan hidup makhluk yang bergantung pada ekosistem tersebut.

(Annisa Julinah)



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA