Film yang disutradarai oleh Anshul Tiwari dengan naskah buatan Abhi Kumar ini diproduksi oleh kolaborasi lintas negara yang melibatkan rumah produksi Viking Sunset Studios.
Sinopsis Film The Ghost and The Gun
Sinopsis film ini mengisahkan situasi Malaya pada tahun 1948 pasca Perang Dunia II saat penarikan militer Inggris memicu kekacauan wilayah. Dua veteran Perang Dunia II, yaitu seorang tentara Malaya bernama Ishraq Wan dan seorang tentara Inggris bernama Abe, terdampar di belakang garis musuh akibat konflik yang membara.(Sumber: YouTube @FilmsPositive)
Meski memiliki latar belakang berbeda dan penuh rasa saling curiga, keduanya terpaksa mengesampingkan perbedaan politik ketika sekelompok milisi bersenjata mengancam keselamatan warga sebuah desa. Di tengah kepungan musuh, luka lama dan trauma perang kembali membayangi perjuangan mereka untuk bertahan hidup serta melindungi warga lokal.
Jajaran pemeran utama yang membintangi film dwibahasa Melayu dan Inggris ini meliputi Hazman Al Idrus sebagai Ishraq Wan, Fabian Loo sebagai Chin Liu, Asmara Abigail sebagai Siti, serta Brett Tutor sebagai Abe.
Proyek sinema berskala global ini diperkenalkan secara eksklusif kepada media melalui konferensi pers dan pemutaran perdana yang diselenggarakan di CGV Pacific Place Mall, Jakarta Selatan, pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Sinergi Lintas Negara dan Penggarapan Otentik di Bali
Meskipun mengangkat latar konflik sejarah Malaysia, seluruh proses pengambilan gambar hingga rekonstruksi set dilakukan secara penuh di pulau Bali. Terkait visi besar di balik penggarapan karya ini, CEO & Executive Producer Viking Sunset Studios, Bo Holmgreen, menyampaikan pandangannya di sela-sela acara konferensi pers tersebut.“Lewat The Ghost and the Gun, kami tidak hanya ingin menyajikan kisah sejarah yang emosional, tetapi juga ingin mengenalkan kepada dunia bahwa di Bali kini telah berdiri studio film berskala besar dan berfasilitas lengkap yang siap menjadi hub produksi bagi sineas global maupun lokal,” ungkap Bo Holmgreen.
Kehadiran karya ini menjadi bukti nyata bahwa narasi sejarah Asia memiliki daya tarik yang kuat di kancah sinema global. Karya ini sekaligus mengokohkan potensi kolaborasi lintas negara dalam menghasilkan tontonan sejarah yang otentik dan berkualitas.
(Dinda Intan Ramadhani)