Data menunjukkan hanya sekitar 21,7% penduduk yang memiliki akses langsung ke bioskop. Sementara sebagian besar masyarakat, terutama di wilayah luar pusat kota, belum terlayani oleh infrastruktur layar lebar.
Layar Digi menghadirkan konsep Micro Cinema dengan pendekatan layar tancap modern berbasis teknologi digital. Ruang-ruang potensial di lantai dua gerai ritel dimanfaatkan sebagai titik pemutaran yang mudah dijangkau dan menyatu dengan aktivitas warga.
Berbeda dari bioskop konvensional, Layar Digi menawarkan ragam konten yang lebih luas. Tidak hanya film hiburan, layar ini juga menayangkan konten edukatif, promosi UMKM, hingga karya kreatif anak bangsa yang selama ini minim ruang distribusi.
Baca Juga :
Film Hollywood Tayang di Bioskop Februari 2026, Adaptasi Kisah Klasik hingga Sekuel Populer
"Kolaborasi dengan Alfamart merupakan langkah strategis dalam misi kami membuka akses hiburan untuk semua. Hiburan tidak boleh eksklusif, melainkan harus bisa dinikmati masyarakat di manapun mereka berada. Lewat inisiatif ini, kami ingin menjembatani kesenjangan hiburan sekaligus memperkuat ekosistem kreatif Indonesia," kata Victor Timothy, CEO Layar Digi.
Bagi Layar Digi, layar bukan sekadar medium tontonan, melainkan ruang sosial baru. Kehadirannya di tengah lingkungan komunitas diharapkan mampu menciptakan interaksi, kebersamaan, serta mendorong apresiasi terhadap karya lokal.
Tahap awal implementasi Layar Digi akan dimulai di kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, yang dijadikan lokasi percontohan. Operasional perdana dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026 sebagai fondasi pengembangan ke wilayah lain.
Ke depan, Layar Digi menargetkan ekspansi ke 50 kota strategis di Indonesia. Pada fase awal pengembangan, platform ini diproyeksikan mampu menjangkau lebih dari 500.000 penonton secara langsung.
Kehadiran Layar Digi tidak hanya dimaksudkan sebagai sarana hiburan rakyat, tetapi juga platform strategis lintas sektor. Sineas Indonesia berkesempatan memperoleh panggung distribusi yang lebih luas untuk menampilkan karya, sementara UMKM dan Brand dapat memanfaatkan media visual di layar komunitas sebagai sarana promosi produk.
"Kolaborasi ini adalah bagian dari perjalanan panjang kami untuk menghadirkan layar rakyat ke masa depan, bukan sekadar tontonan, tetapi jembatan yang mempertemukan cerita, budaya, dan masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News