Penayangan Marty Supreme di bioskop Indonesia dikonfirmasi lewat jadwal pada aplikasi Tix ID. Tercantum bahwa film garapan sutradara Josh Safdie ini akan rilis pada 25 Februari mendatang. Perilisan ini dilakukan beberapa minggu sebelum malam penganugerahan Piala Oscar pada 16 Maret.
”Film peraih 9 nominasi Oscar, termasuk Best Picture dan Best Actor untuk Timothée Chalamet, Marty Supreme tayang di bioskop mulai 25 Februari 2026!” tulis unggahan akun Instagram @tix_id.
Marty Supreme juga mencetak sejarah sebagai film karya rumah produksi A24 dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa. Film biografi drama komedi olahraga berkategori R yang dibintangi oleh Timothée Chalamet ini menghasilkan pendapatan sebesar US$147 juta (Rp2,4 triliun) secara global.
Pendapatan tiket tersebut melampaui pemenang Oscar untuk kategori Best Picture, Everything Everywhere All at Once (US$142 juta atau Rp2,3 triliun), dan thriller distopia Alex Garland, Civil War (US$127 juta atau Rp2,1 triliun), yang sebelumnya menjadi film terlaris A24 di box office global.
Marty Supreme menjadi kandidat utama dalam ajang penghargaan, dengan Chalamet memenangkan Golden Globe dan Critics Choice untuk Kategori Aktor Terbaik. Film ini dinominasikan untuk sembilan Oscar, termasuk Kategori Film Terbaik, Aktor Utama untuk Chalamet, dan Sutradara untuk Josh Safdie.
Sutradara Safdie dan penulis Ronald Bronstein menghadirkan deretan pemain seperti Timothée Chalamet, Gwyneth Paltrow, Tyler the Creator, dan Odessa A'zion dalam film Marty Supreme.
Sinopsis Marty Supreme
Film ini mengikuti Marty Mauser, seorang pria muda dari latar belakang sederhana yang bertekad untuk menonjol di dunia yang kompetitif, di mana citra dan pertunjukan mendominasi. Di New York, Amerika Serikat pasca-perang, tenis meja belum diakui sebagai olahraga resmi: biasanya dimainkan di klub-klub berasap, di atas atap gedung, atau di universitas di Pantai Timur. Marty melihat peluang untuk diakui dan mengembangkan ambisi tak tergoyahkan, yakin bahwa keyakinan diri saja cukup untuk mengubah takdir.Baca Juga :
Sekuel Once Upon a Time in Hollywood Resmi Digarap, Brad Pitt Reuni dengan David Fincher
Seiring perjalanan kariernya, pilihannya semakin berisiko tinggi. Antara momen gemilang, kebohongan, dan strategi oportunis, ia membangun citra publik yang terkadang melampaui kenyataan dari prestasinya.
Film ini menyoroti ketegangan antara keinginan untuk meraih ketenaran dan kerentanannya sebagai seorang pria yang selalu berada di ambang kejatuhan, di lingkungan di mana batas antara karya besar dan kepalsuan sangat tipis.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News