Dalam konferensi pers pada 13 April 2026, Sunil Samtani menjelaskan bahwa gagasan awal film ini muncul dari keinginannya untuk menghadirkan cerita keluarga dari perspektif ibu—figur yang kerap menjadi pusat emosi, namun jarang dijadikan fokus utama.
“Kita pernah bikin ‘Tunggu Aku Sukses’ yang lebih ke pekerja, gimana anak muda yang mau kerja, ada struggle. Nah kalau di sini saya kepikir pengen bikin film yang lebih ke pandangan ibu,” ujar Sunil.
Menurutnya, pendekatan ini penting untuk memperlihatkan dinamika keluarga dari sisi yang lebih intim. Ia kemudian bekerja sama dengan penulis skenario Alim Sudio untuk mengembangkan cerita yang menggambarkan keluarga yang tampak utuh, namun perlahan runtuh saat konflik besar muncul.
“Dan bekerja sama dengan Alim Sudio di projek ini untuk dapat konsep yang dynamic keluarga yang hancur pas ada masalah di karakter utama,” jelasnya.
Alim Sudio menambahkan, ide cerita film ini berkembang secara organik dari diskusi santai yang mereka lakukan sehari-hari. Percakapan tersebut banyak berkisar pada pengalaman pribadi sebagai suami dan ayah, serta kekhawatiran akan masa depan keluarga.
“Ya berawal dari Pak Sunil suka ngajak saya brainstorm makan siang terus kita ngobrol-ngobrol soal keluarga, apa sih yang kita gelisahkan dan segala macam. Kita berdua ayah juga suami, jadi kita kayak ngerasa ya ada ketakutan soal masalah menua, kemudian nanti ada banyak sakit dan lain-lain. Kemudian apa sih yang kita takutkan gitu dalam kehidupan keluarga,” ungkap Alim.
Dari diskusi tersebut, mereka menyadari pentingnya sosok ibu sebagai penjaga memori dalam keluarga—peran yang sering kali luput dari perhatian.
“Dan kita ngerasa bahwa kayaknya peran seorang ibu tuh, kalau bapak tuh suka diprotes, suka lupa ya ulang tahun anak aja kita dibilang lupa, ulang tahun pernikahan kita lupa gitu kadang jadi kayak Tapi yang selalu ingat segala suatu hal tuh di rumah adalah ibu gitu,” lanjutnya.
Gagasan ini kemudian berkembang menjadi konflik utama dalam film: bagaimana jika sosok yang selama ini menjaga ingatan keluarga justru kehilangan memorinya.
“Nah dari situ kita ngerasa bagaimana kalau sebenarnya seorang penjaga memori, seorang yang amat sangat diandalkan untuk untuk mengenang segala sesuatunya yang tiba-tiba dia kehilangan ingatannya, betapa jejak-jejak kalau dalam kehidupan negara itu sejarawannya tiba-tiba gitu jadi kita udah kehilangan jejak lahirnya bangsa ini, nah ini kalau dalam sebuah keluarga rasanya akan seperti apa ya gitu, pasti akan chaos banget gitu loh jadi perasaan,” jelas Alim.
Ia menambahkan bahwa ide tersebut kemudian berkembang menjadi eksplorasi emosional tentang kehilangan, ingatan, dan hubungan keluarga.
“Jadi perasaan itu kemudian saya dan Pak Sunil ngerasa bahwa ini menarik untuk kita kembangkan jadi sebuah cerita sih,” tutupnya.
Film ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman emosional yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengajak penonton untuk lebih menghargai peran penting seorang ibu dalam menjaga keutuhan keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News