Yandy Lauren (Foto: dok. Twitter Yandy Lauren)
Yandy Lauren (Foto: dok. Twitter Yandy Lauren)

Ramuan Cerita Yandy Laurens

Hiburan sineas kita
Cecylia Rura • 15 September 2019 14:00
Jakarta: Penulis sekaligus sutradara Yandy Laurens awal tahun ini dipercaya menyutradarai film Keluarga Cemara yang diangkat dari sinetron populer 90-an berjudul sama. Film ini sukses dengan capaian 1,7 juta penonton dan menempati posisi kelima sebagai film terlaris tahun 2019, merujuk data laman FilmIndonesia.or.id.
 
Sebelum dikenal untuk proyek Keluarga Cemara, Yandy Laurens menarik perhatian penonton lewat sejumlah web series untuk produk atau sebagai iklan. Sebut saja, Sore: Istri dari Masa Depan (2017) dan Janji (2019) untuk produk Tropicana Slim, Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode (2018) untuk Toyota Indonesia, dan untuk Samsung Indonesia Galaxy S10 (2019) bersama Dian Sastrowardoyo dan Oka Antara.
 
Meski untuk kepentingan iklan, gaung cerita dari judul-judul web series garapan Yandy Laurens lebih menggema, di samping menguntungkan produk yang diiklankan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ide cerita itu terbilang lumrah terjadi dalam sebuah hubungan, tapi tampak dikemas lebih segar oleh Yandy. Pertanyaan standar, apa formula khusus dan ramuan Yandy Laurens membuat cerita-cerita itu menjadi begitu menyentuh?
 
Hal-hal menarik rupanya saya temukan ketika mencuri waktu berbincang dengan Yandy Laurens dalam acara Playfest 2019 belum lama ini. Yandy Laurens bukan orang baru di industri film. Dia berangkat dari pengalaman dan keputusan yang membuatnya merantau berkuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) untuk studi film.
 
"Saya belajar di IKJ, workshop formal dan non-formal. Sebenarnya kalau ditanya bagaimana menyentuh, pasti ada formulanya, tapi apa isinya, sebenarnya kembali ke penulisnya masing-masing. Pertama, pasti ada teorinya," kata Yandy Laurens.
 
Soal cerita-cerita menyentuh, dekat dengan keseharian, Yandy Laurens berangkat dari pengalaman masa kecil saat di kampung halaman, Makassar, Sulawesi Selatan. Lahir dari keluarga etnis Cina, sineas asal Makassar itu terintimidasi atas sikap teman-teman sekolahnya. Situasi ini membuat Yandy justru semakin dekat dengan keluarga, bahkan tak memiliki teman dekat.
 
"Mungkin, dari dulu dibesarkan dekat sama keluarga. Ini isinya agak enggak enak, tapi saya tumbuh besar di Makassar dan karena saya keturunan Chinese, saya enggak bisa main ke tetangga, main bola pasti digebukin. Makassar kencang banget!" terang Yandy Laurens.
 
"SMA saya lulus ke IKJ, IKJ apalagi. Jadi saya susah sekali punya teman. Ketika saya susah sekali punya teman, saya jadi dekat sekali sama keluarga karena mereka teman saya," lanjut Yandy.
 
Sebagai seorang kuper (kurang pergaulan), Yandy justru meramu kisah-kisah menarik.
 
"Ketika saya kerja di film, membuat cerita, seolah ditodong. 'Ayok bercerita!'. Cerita-cerita kemudian keluar, akhirnya itu yang keluar (tentang keluarga)," kata Yandy.
 
Ramuan Cerita Yandy Laurens
(Foto: Potongan adegan webseries Sore: Istri dari Masa Depan.)
 
Web series Sore dan Janji bercerita tentang sepasang suami istri. Sementara Yandy Laurens mengaku saat itu masih melajang. Ditambah, saat kuliah Yandy banyak membuat karya tentang keluarga, bukan genre romance.
 
"Sore itu romance pertama saya. Maksudnya pertama kali saya menulis romance itu Sore. Saya kuliah empat tahun di IKJ, saya selalu tulis cerita tentang keluarga. Kalau mau lihat perjalanan karier, sebenarnya romance saya hanya 30 persen, family 70 persen," kata Yandy Laurens.
 
Yandy pun mendengar, anak-anak muda lebih mengenalnya sebagai sineas spesialisasi romance. Dia sendiri mengaku heran dengan hal itu, karena romance terbilang baru sejak mengerjakan web series Sore.
 
"Pertama kali saya bikin web series, saya enggak ngerti romance, belum menikah, jomlo. Yang saya lakukan adalah mencari buku bimbingan pernikahan," ungkap Yandy Laurens.
 
"Saya berpikir, sebelum saya menceritakan romance, saya harus tahu romance itu apa? Bagaimana pernikahan yang baik? Apa sih masalah yang terjadi dalam hubungan? Itu yang saya gali, saya suka. Akhirnya saya bercerita di area itu terus. Semoga nanti ada ide baru lagi," kata Yandy.
 
Selain buku bimbingan pernikahan, referensi Yandy Laurens justru bukan dari tontonan, melainkan cerita orang, kejadian, dan buku yang dibaca.
 
"Cuman, saya merasa setiap kali saya mau masuk ke wilayah yang saya enggak kenal, contoh kalau suatu hari saya mau bikin film crime, saya akan cari polisi yang mau jadi teman saya terus banyak cerita. Saya harus banyak baca buku, baca novel, saya pelajari hukum Indonesia. Baru menulis," cerita Yandy.
 
Web series Janji diperoleh dari kegelisahan teman-teman sebaya Yandy Laurens yang telah menikah.
 
"Janji, itu saya baru tahu, karena saya (usia) 30 sekarang. Teman-teman aku udah mulai married. Kalau kita ngumpul, bahas, saya ngomong sama istrinya, pingin istrinya adalah pria itu selalu enggak mau cerita hal-hal dunianya. Pria itu jadi masuk dalam goa setelah menikah, kenapa ya? Akhirnya saya cari tahu kenapa pria begitu. Saya bikinlah Janji," kata Yandy.
 
Selain romance, Yandy Laurens juga mengangkat konflik harian pekerja dan obrolan-obrolan nyata. Seperti dalam dialog Dian Sastrowardoyo dan Oka Antara.
 
"Pilihan karier kan kerja di orang atau buka usaha. Lalu perdebatannya, buka usaha lebih superior. Padahal enggak juga loh. Itu yang saya pelajari. Ya sudah, saya ceritain saja," kata Yandy Laurens.
 
Sebelumnya, Yandy Laurens memproduksi film pendek festival berjudul Wan An. Judul fillm ini disadur dari bahasa Mandarin yang berarti selamat malam. Kisah itu terinspirasi dari kakek dan nenek Yandy Laurens, sepasang etnis Cina yang tinggal di Indonesia.
 
Berbekal rekam jejak cerita-cerita keluarga, Yandy Laurens dilirik oleh produser eksekutif Visinema Pictures Angga Dwimas Sasongko. Yandy mendapat amanat menyutradarai film Keluarga Cemara.
 
"Pas Angga lihat, dia bilang, kamu bikin film Keluarga Cemara, ya. Dari situ," kata Yandy.
 
Ramuan Cerita Yandy Laurens
Yandy Laurens bersama Gina S. Noer dan Anggia Kharisma (Foto: dok. Instagram)
 
Keluarga Cemara menjadi debutan Yandy Laurens memegang peran ganda sebagai sutradara sekaligus penulis. Naskahnya ditulis bersama Gina S. Noer.
 
Berbeda dengan film, webseries garapan Yandy Laurens memuat nilai-nilai dari produk yang diiklankan. Apakah Yandy Laurens terbebani dengan hal itu? Baginya, konten iklan tersebut tergantung pada tujuan ceritanya sebagai bentuk soft sell.
 
"Kalau tujuan web series itu untuk meningkatkan penjualan, biasanya enggak cocok untuk kita. Karena pasti akan jadi hard sell. Kalau tujuannya menciptakan awareness, ayo," kata Yandy Laurens.

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif