Kucumbu Tubuh Indahku (Foto: Fourcolours Film)
Kucumbu Tubuh Indahku (Foto: Fourcolours Film)

Kucumbu Tubuh Indahku, Ruang Bagi Suara Terpinggirkan

Hiburan montase film
Purba Wirastama • 29 April 2019 14:29
Kucumbu Tubuh Indahku mengangkat dilema manusia yang jarang dibicarakan terbuka oleh publik, yaitu keragaman gender dan konsep maskulin-feminin. Salah satu hal lain yang membuatnya lebih spesifik, film ini menyajikan memoar hidup seorang penari kesenian tradisi Lengger Lanang di antara persoalan trauma pribadi serta trauma politik bangsa.
 
Lengger Lanang merupakan seni pertunjukan tradisi di kawasan Banyumas, Jawa Tengah. Konon, tarian ini telah menjadi bagian dari ritual masyarakat agraris sejak era Kerajaan Majapahit. Penarinya lelaki dan berdandan bak perempuan.
 
Istilah lengger berasal dari dua kata berbahasa Jawa, leng dan ger. Kata "leng" atau lubang merujuk ke simbol kelamin perempuan. Kemudian "ger" alias jengger ayam jantan merujuk ke simbol kelamin lelaki. Disangka perempuan, ternyata lelaki.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan kata lain, Kucumbu Tubuh Indahku menyorot isu keragaman gender tetapi dalam konteks ritual dan budaya tradisional – perspektif langka yang membuat Asia Pacific Screen Awards (APSA) bersama UNESCO memberikan penghargaan Cultural Diversity dalam gelaran festival edisi 2018.
 
Menurut Garin Nugroho, sutradara dan penulis naskah filmnya, masalah terkait identitas maskulin dan feminin cukup jarang diceritakan dalam film melalui perspektif budaya tradisional. Bahkan di publik, orang yang berada di antara gagasan umum maskulin dan feminin, kerap dipandang sebelah mata dengan sebutan degradatif "banci".
 
"Rata-rata (pembicaraan isu lintas gender hanya) di kalangan menengah atas, ada ini itunya. Namun yang terkait dengan kebudayaan, (isu lintas gender) maskulin dan feminin jarang ditunjukkan," kata Garin kepada Medcom.id dan sejumlah media lain, belum lama ini.
 
Garin, yang sudah tiga dekade menjadi sutradara sejak Cinta dalam Sepotong Roti (1990), menyebut bahwa film-filmnya selalu menawarkan "sudut pandang langka". Misalnya, Soegija tentang uskup Katolik pertama asli Indonesia, Guru Bangsa Tjokroaminoto tentang tokoh pejuang pendiri Sarekat Islam era kolonial Belanda, atau Mata Tertutup tentang kelompok muslim radikal NII.
 
Langka bukan berarti jauh koneksinya dengan hidup sehari-hari. Bahkan saat dipresentasikan di India, kata Garin, film ini disambut antusias oleh penonton lokal sampai penuh. "Karena dekat sekali dengan kebudayaan mereka, khususnya di Asia," ujar Garin.
 
Bicara soal penerimaan khalayak, situasi bertolak belakang justru terjadi di negara rumah filmnya, Indonesia. Awalnya, ada petisi online yang menuntut peredaran film ini dicabut karena menganggap temanya LGBT. Dilihat dari isi tuntutan, tampak bahwa inisiator petisi tidak paham definisi yang dia tentang serta sistem edar film bioskop, serta menghakimi materi film hanya lewat trailer.
 
Sedikitnya tiga kepala daerah di Jawa Barat dan Kalimantan Barat, serta satu Majelis Ulama Indonesia (MUI) daerah juga menolak peredaran film tersebut di bioskop. Alasannya, mereka tidak mau unsur cerita LGBT memberi pengaruh tertentu pada masyarakat dan mencegah "perilaku LGBT" dianggap normal.
 
Film ini sebetulnya sudah lolos klasifikasi Lembaga Sensor Film (LSF) dengan klasifikasi usia penonton 17 tahun ke atas untuk tayang di bioskop reguler. Dengan keputusan formal itu, keputusan untuk menonton atau tidak sebetulnya bergantung pada setiap individu dewasa.
 

Trauma Juno dan Trauma Bangsa
 
Film berdurasi 100-an menit ini menuturkan empat fase hidup Juno saat mengalami kejadian traumatik. Juno adalah bocah lelaki (Raditya Evandra) yang hidup tanpa ibu di sebuah desa pinggir sungai. Setelah sang ayah "dijemput" dan menghilang karena imbas kisruh politik negara, Juno hidup berpindah dari kampung satu ke kampung lain, dari sanak satu ke sanak lain.
 
Dia sempat tinggal bersama buliknya (Endah Laras), seorang pedagang ayam. Dari sang bulik, Juno belajar mengetahui waktu bertelur ayam hanya dengan mencucukkan jari ke kloaka ayam. Pada suatu titik peristiwa, Juno dipindah ke rumah pakde (Fajar Suharno), yang mengajari ilmu menjahit pakaian dan mengukur tubuh orang tanpa meteran. Dia tinggal di sana hingga remaja (Muhammad Khan).
 
Setelah tidak bersama omnya, Juno berkelana dan bertemu dengan kelompok tari Lengger Lanang. Awalnya dia membantu kelompok itu menjahit baju, sebelum bergabung menjadi salah satu penari.
 
Dia juga bertemu seorang penari warok (Whani Dharmawan) dari kelompok tari reog. Sang warok terpikat dan menjadikan Juno sebagai gemblaknya. Gemblak adalah sebutan bagi remaja lelaki, yang "dipelihara" sebagai penari junior dan sekaligus pasangan seksual bagi warok. Relasi warok-gemblak diyakini mampu memberikan warok ilmu kanuragan.
 
Sementara itu, seorang calon bupati berusaha mendapatkan Juno sebagai salah satu syarat mistik dari dukun agar dia menang pemilihan.
 
Jelang akhir setiap segmen, Juno berhadapan dengan konflik dan kekerasan yang menimpa dirinya atau orang lain. Mulai dari lelaki yang menggoda penari perempuan (Juno mengintip mereka), sang ayah yang dibawa pergi paksa, guru tari perempuan korban misogini, seorang petinju kampung yang dekat dengannya, hingga seorang warok lain yang menantang waroknya atas "kepemilikan" Juno sebagai gemblak.
 
Perjalanan setiap fase itu dituturkan oleh filmnya dengan begitu santai tanpa banyak masalah, hingga secara mendadak, ditutup dengan konflik kekerasan. Kadang pula kematian.
 
"Setiap sekuen (berjalan dalam riitme) pelan dengan kehidupan sederhana, lalu kekerasan, lalu (diberi jeda) lagu-lagu memori," kata Garin.
 
"Sebenarnya, bangsa Indonesia mengalami siklus seperti itu karena tidak ada trauma atau masalah dipecahkan. Misalnya masalah radikalisme tidak dipecahkan sungguh-sungguh lewat penegakan hukum," imbuh Garin.
 
Kekerasan demi kekerasan itu meninggalkan trauma bagi Juno yang dibawa hingga dewasa. "Darah, di mana-mana darah!" teriak Juno sembari membanting air usai melihat pertarungan hidup-mati dua warok.
 
"Sudah, sudah," kata warok menenangkan. "Ini yang terakhir."
 
Selain puncak konflik soal warok-gemblak dan penari lengger, alur cerita soal politik dan "aib keluarga" juga terjadi di sekitar Juno. Bupati petahana (Teuku Rifnu Wikana) melakukan praktik mistik tertentu agar status quo keluarga tetap bertahan.
 
Di sisi lain, dia punya ketertarikan terhadap Juno, begitu pula dengan istrinya (Quin Dorothea) yang tertarik kepada perempuan asisten bupati (Anneke Fitriani), tetapi mereka menyembunyikan itu di balik nama besar keluarga. Kecemburuan bupati kepada warok pemilik Juno berujung pada perusakan dan penghasutan kelompok penari sebagai antek organisasi terlarang yang harus dibasmi.
 
"Keluarga Bupati seperti itu sebetulnya ada di berbagai tempat. Namun demi politik dan sosial, itu harus ditutup. Jadi ruang publik kita masih tertutup di berbagai bidang, meskipun demokratisasi muncul," tutur Garin.
 
Kucumbu Tubuh Indahku, Ruang Bagi Suara Terpinggirkan
 

Membuka Trauma
 
Menurut Garin, rangkaian kisah Juno awalnya diilhami kisah hidup Rianto, seorang penari dan koreografer ternama yang sudah beberapa kali berkolaborasi dengan Garin. Kepada Garin, Rianto pernah mengisahkan sebagian pengalaman hidupnya terkait trauma pribadi sejak kecil, termasuk proses membebaskan diri dari batasan gender lewat seni tari.
 
"Mungkin Mas Garin melihat tubuh saya itu seperti perpustakaan kebudayaan, seperti museum, yang mana menyimpan banyak memori dan data, baik itu kekerasan ketika saya kecil, dihina oleh teman-teman, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, kami putuskan bersama, Mas Garin membuat film dengan dasar cerita saya," kata Rianto kepada wartawan.
 
Inspirasi Rianto dikembangkan oleh Garin menjadi cerita film dalam konteks sosial politik yang lebih luas. Konsep besarnya adalah trauma "tubuh pribadi" dan "tubuh politik". Perjalanan hidup Juno, selain menjadi kisah trauma pribadi, juga menjadi kumpulan metafora atas trauma sejarah bangsa.
 
Dalam filmnya, Rianto juga terlibat sebagai pemain monolog dan penari dalam setiap perpindahan segmen. Untuk bagian adegan ini, Rianto menerjemahkan pengalaman nyata hidupnya ke dalam bentuk monolog dan tari. Pengalaman itu meliputi pula persoalan maskulin dan feminin dalam satu tubuh.
 
"Ketika saya di lokasi syuting, saya mencoba 100% (sesuai pengalaman nyata) untuk bagian saya sendiri. Pada saat pemilihan lokasi dan proses syutingnya, (naskah cerita tulisan Garin) memang bukan untuk tubuh Rianto saja, tetapi mewakili tubuh-tubuh Rianto lain yang ada di Indonesia untuk masalah gender – maskulin dan feminin dalam satu tubuh," ungkap Rianto.
 
Katakanlah, ada dua bagian besar film Kucumbu Tubuh Indahku. Pertama adalah bagian cerita tulisan Garin, kedua adalah monolog Rianto. Jika seluruh monolog Rianto memang mengisahkan pengalaman nyata, cerita tulisan Garin adalah gabungan kisah hidup Rianto dan berbagai kisah lain yang saling berhubungan dalam sudut pandang Garin.
 
Tidak diketahui pasti berapa banyak atau penggalan kisah mana saja dari tulisan Garin, yang benar-benar berangkat dari kisah Rianto. Namun pada akhirnya, materi film menjadi begitu kaya referensi sosial, politik, dan budaya, sembari tetap relatif mudah dicerna karena dituturkan lewat persoalan hidup sehari-hari di kampung tradisional.
 
"Ada isu tentang G30S/PKI karena trauma terbesar bangsa ini, yang setiap periode apapun diangkat, adalah masalah tahun 1965. Tubuh kita terperangkap dalam trauma yang masalahnya enggak bisa dipecahkan," kata Garin.
 
"Tema 1965 itu bergulir terus, enggak pernah (selesai). Tubuh orang juga begitu, kalau anda punya trauma dan itu tidak diubah ke dalam kehidupan ke depan, anda akan terperangkap oleh tubuh, terus-menerus menjadi kacau. Trauma tubuh 1965 akan kacau terus sampai sekarang," lanjut Garin.
 
Menurut Garin, trauma "tubuh bangsa" bisa diselesaikan dan diubah menjadi pijakan kemajuan. Langkah pertama adalah dengan berani membaca ulang dan membahas sejarah traumatik tersebut. Garin menyebut bahwa film-filmnya, termasuk Kucumbu Tubuh Indahku, adalah bagian dari peta sejarah yang memuat trauma tersebut
 
Namun dia sendiri menyadari bahwa banyak respons orang belum sesuai harapan karena mereka gemar menjadi eufemis – memperhalus atau memperkecil suatu masalah yang sebetulnya besar. "Kalau petanya saja tidak mau dibaca karena bangsa ini sangat eufemis, ya pasti trauma itu tidak akan terpecahkan," ujar Garin
 
Pendapat Garin barangkali terbukti lewat kejadian penolakan atas filmnya hanya karena memuat unsur cerita terkait LGBT, bahkan oleh orang-orang yang belum menonton. Mirip dengan ketakutan berlebihan atas topik "PKI" atau "komunisme", yang membuatnya sulit dibicarakan.
 
Namun ini bukan film karya pertama Garin yang ditolak secara keras. "Hampir semua film, saya pernah mendapat mengalami tekanan berat, sampai keluarga menelepon kalau ada ancaman bom," ungkap Garin.
 
"Saya jarang menceritakan karena itu konsekuensi logis saja. Tujuan harus dicapai, tetapi bukan tujuan pribadi saya. Tujuan filmnya memberikan apresiasi pada nilai-nilai keragaman budaya," pungkas Garin.
 



 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif