ILUSTRASI:  Historical picture of Kaa'ba taken in 1880/PD Wikimedia
ILUSTRASI: Historical picture of Kaa'ba taken in 1880/PD Wikimedia

Cara Nabi Ibrahim Temukan Titik Kakbah dari Palestina

Haji Haji 2019
Sobih AW Adnan • 11 Juli 2019 14:02
Jakarta: Mengulik sejarah kakbah, seakan tak ada habisnya. Meskipun para ulama bersepakat bahwa titik bangunan suci itu sudah ditentukan sejak masa Nabi Adam As.
 
Pada masa Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail As, barulah pemugaran paling bersejarah dimulai. Perkaranya, bagaimana kisah kedua utusan Allah Swt yang tinggal di Palestina itu bisa menemukan titik kakbah di Kota Makkah, Arab Saudi?
 
Ular angin dan Jibril

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada banyak versi menarik mengenai hal ini. Salah satunya, seperti yang dituturkan Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid atau masyhur dengan nama Imam Ath Thabari dalam kitabnya, Tarikh al Umam wa al Muluk. Dengan mengutip jawaban Ali bin Abi Thalib ketika ditanya seseorang ihwal serupa, ia menjawab:
 
Baca:Reaksi Alam Saat Mendengar Panggilan Haji
 
"Allah Swt mengirimkan as Sakinah (ketenangan), berupa angin yang memiliki dua penjuru. Satu penjuru mengikuti yang lain. Keduanya terus bergerak hingga ke Makkah dan berputar-putar di lokasi kakbah, mirip ular yang sedang melingkar," tulis ath Thabari.
 
Masih dalam kitab yang sama, Ath Thabari juga menyuguhkan versi lainnya. Yakni, sebuah kisah yang menceritakan bahwa perjalanan Nabi Ibrahim yang menempuh jarak sekurangnya 1.500 kilometer itu dipandu Malaikat Jibril As.
 
Ath Thabari menjelaskan, setelah Allah Swt menampakkan lokasi Baitullah dan tanda-tanda Tanah Haram kepada Ibrahim, ia langsung berangkat ditemani Jibril. Hingga setiap memasuki sebuah desa, Nabi Ibrahim selalu bertanya;
 
"Di tanah inikah engkau diperintah untuk memberitahuku, wahai Jibril?"
 
"Teruslah berjalan," jawab Jibril.
 
Baca:Para Pemuja Kakbah Sebelum Islam Datang
 
Tanah merah
 
Sesampainya di Makkah yang kala itu masih berupa tanah tandus dan belum berpenguni, Nabi Ibrahim melihat gundukan tanah berwarna merah. Dia pun menanyakannya kembali, "Apakah aku diperintahkan untuk membangun kakbah di sini, ya Jibril?"
 
"Ya, benar," jawab Jibril.
 
Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Ismail dengan penuh semangat memenuhi perintah Allah Swt membangun kakbah. Ibn Fadhilah al Umari dalam Masalik al Abshar fi Mamalik al Amshar mengatakan, untuk membangun fondasinya, mereka memboyong bebatuan dari Gua Hira. Sementara bahan-bahan lainnya diambil dari lima gunung, yakni Hira, Lubnan, al Judi, Thursina, dan Thurzetta.
 

(SBH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif