ILUSTRASI: Rombongan jemaah haji tempo dulu menuruni kapal dan memasuki pulau Onrust sebagai tempat karantina/kemenag/Sc: Arsip Nasional
ILUSTRASI: Rombongan jemaah haji tempo dulu menuruni kapal dan memasuki pulau Onrust sebagai tempat karantina/kemenag/Sc: Arsip Nasional

Haji Pura-pura di Singapura

Haji Haji 2019
Sobih AW Adnan • 17 Juli 2019 19:08
Jakarta: Pemerintah Hindia Belanda yang semula cuek dengan urusan haji, tiba-tiba amat tertarik dengan perjalanan umat Islam ke Tanah Suci.
 
Pada pertengahan 1859, mereka sibuk mengarang seketat-ketatnya aturan. Tujuannya, agar peluang komunikasi antarumat Islam dunia yang terjalin saat berhaji bisa dikurangi. Juga sebaliknya, muncul peluang bagi pemerintah kolonial untuk mengeruk duit dari rutinitas ibadah haji.
 
Pas jalan

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aturan itu termaktub dalam Ordonansi 1859. Salah satu poin yang fenomenal, kini Belanda mewajibkan seseorang yang hendak berhaji agar segera mengurus surat izin atau pas jalan. Untuk bisa memperolehnya, mereka setidaknya mesti mengeluarkan kocek sebesar 110 gulden, nilai yang setara dengan harga dua unit rumah atau tanah.
 
Baca: Mengenang Haji Jalur Laut
 
Seabrek peraturan dalam undang-undang baru itu tentu menyulitkan jemaah haji Indonesia. Bukan cuma lantaran mahal, akan tetapi campur tangan yang berlebih menjadikan jemaah haji tak nyaman lagi.
 
Celakanya, kebimbangan umat Islam menjadi makanan empuk bagi para agen perjalanan haji yang juga digerakkan elite Inggris dan Belanda. Dengan dalih lebih murah dan mudah, kenyataannya mereka memeras calon jemaah dengan lebih gila.
 
"Dengan terpaksa, ada banyak jemaah haji yang tidak meneruskan perjalanan ke Makkah atau hanya sampai di Singapura saja, lalu kembali ke kampung halaman," tulis M. Dien Madjid dalam Berhaji Di Masa Kolonial (2008).
 
Muncullah sebutan "Haji Singapura". Tidak tanggung-tanggung, guna memanfaatkan ancaman rasa malu saat tiba di rumah, oknum biro tersebut juga menawarkan piagam haji dengan harga yang cukup mahal.
 
Baca: Derita Karantina Haji Masa Silam
 
Piagam palsu
 
Mengutip keterangan Kees van Dijk dalam bab Perjalanan Jamaah Haji Indonesia pada buku yang sama, piagam yang diberikan saat itu berupa pengesahan palsu yang menerangkan bahwa si calon haji telah benar-benar menuntaskan rangkaian ibadahnya di Tanah Suci.
 
Secara lengkap, Van Dijk menuliskan redaksi piagam sebagai berikut:
 
"Atas nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Pengampun! Dan semoga Allah memberi rahmat kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.
 
Imam mazhab syafi’i
 
Dari negri… Haji… Telah menjalankan ibadah haji di mesjid suci dan sudah berziarah ke makan Nabi. Semoga ia berada dalam kedamaian!
 
Dengan sepenuhnya dan kesempurnaanya, demikianlah semoga Allah meridai ibadahnya, perjalanannya dan kunjungannya, serta memberikan kedamaian kepadanya dan kepada segenap jamaah haji.
 
Amin."

 
Meskipun begitu, Haji Singapura tak sepenuhnya keliru. Mereka adalah korban penipuan dan gambaran beratnya perjuangan jemaah haji Indonesia, di masa lalu.
 

(SBH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif