Ilustrasi jamaah Calon Haji (JCH) mengikuti pemantapan manasik haji tahap akhir musim haji 2019 di Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (29/6/2019). ANTARA FOTO/Rahmad.
Ilustrasi jamaah Calon Haji (JCH) mengikuti pemantapan manasik haji tahap akhir musim haji 2019 di Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (29/6/2019). ANTARA FOTO/Rahmad.

Penantian Petani Karet Riau untuk Ibadah Haji

Haji Haji 2019
Antara • 12 Juli 2019 20:15
Pekanbaru: Sepasang suami istri asal Sorek II Kabupaten Pelalawan, Kamaruddin Binti Bujal, 64, dan Mayung Binti Paman, 57, bersyukur dan bahagia karena tahun ini akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Keduanya bisa berangkat lantaran hasil bertani karet.
 
"Kami sama sekali tidak menduga akan dipanggil untuk menunaikan ibadah haji tahun ini, memang sudah menjadi cita-cita kami sejak lama, kendati hasil panen karet tidak seberapa namun niat tetap ingin berhaji bersama istri," kata Kamaruddin di Asrama Haji Antara Riau, di Pekanbaru, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Kamaruddin menjelaskan sebagai penakik (penyadap) karet, selangkah lagi impiannya menunaikan ibadah haji akan terwujud setelah bertahun-tahun menyisihkan uang hasil jerih payah, walau sedikit demi sedikit setiap kali panen karet.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bapak yang kini berusia 64 tahun itu, tergabung bersama rombongan calon haji lainnya asal Kabupaten Pelalawan dalam Kloter 9 Embarkasi Haji Antara Riau.
 
Sejak belasan tahun yang lalu, Kamarudin mengaku kerap berdoa agar cita-citanya naik haji kesampaian. "Setiap kali ke masjid, saya terus berdoa agar dimudahkan niat saya menunaikan rukun Islam kelima ini," ungkapnya.
 
Empat tahun yang lalu jelang keberangkatannya ke Tanah Suci, ia sempat mengalami kecelakaan, ditabrak motor saat pergi ke masjid salat lima waktu. Sejak itu dirinya sering mengalami pusing kepala dan kepala terasa berat.
 
"Pernah saya coba periksa ke dokter setelah dirawat selama enam hari di rumah sakit Pangkalan Kerinci, namun kata dokternya tidak apa-apa," katanya.
 
Dia mengenang, sebelum menderita penyakit kepala berat pusing dan sakit asam urat, rutinitasnya tidak terganggu, menakik karet saat cuaca cerah dan tidak hujan.
 
Perjalanan sebagai petani karet memang tidak selalu mulus, terbukti saat ia bercerita bahwa kedua putrinya tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kekurangan biaya.
 
"Kadang dapat banyak, kadang tidak sama sekali. Saat ini anak saya keduanya sudah menikah, yakni Hamidar sekolah cuma sampai SD, sudah punya anak dua, yang satu lagi namanya Irawati hanya sampai SMP bersekolah, sekarang sudah punya dua anak juga," kenangnya.
 
Kamarudin masih mengingat sebelum 2011 saat itu sudah mendaftar haji dan simpanannya terkumpul mencapai Rp25 juta dan tinggal mencari tambah untuk istrinya.
 
"Saat itu, biaya pendaftaran haji sekitar Rp25,5 juta. Sisa kekurangannya menggunakan dana talangan dari bank yang dijamin oleh pemilik KBIH. Totalnya saya dengan istri saat itu kena Rp51 juta berdua dan kami sudah menabung jauh sebelum mendaftar haji tahun 2011 itu," pungkasnya
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif