Tipa Iya Santono, 50, penjual nasi kuning calon haji asal Kabupaten Probolinggo. Medcom.id/Amaluddin
Tipa Iya Santono, 50, penjual nasi kuning calon haji asal Kabupaten Probolinggo. Medcom.id/Amaluddin

Jalan Panjang Penjual Nasi Kuning Naik Haji

Haji Haji 2019
Amaluddin • 11 Juli 2019 09:07
Surabaya: Nasib baik berpihak pada Tipa Iya Santono, 50. Penjual nasi kuning yang telah menjanda asal Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ini bisa berangkat ke Tanah Suci.
 
Perjalanan Ibu Tipa, sapaannya, hingga bisa berhaji panjang dan berbatu. Ia berjualan nasi kuning dengan penghasilan pas-pasan. Dia bersama almarhum suaminya juga harus hidup sederhana.
 
Tipa bangun pagi buta untuk berjualan nasi kuning di salah satu sekolah di Probolinggo. Nasi kuning dengan lauk tempe dan tahu itu dijual ke siswa-siswi madrasah ibtidaiyah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya sudah berangkat berjualan ke sekolah pukul 06.00 WIB nak. Meski di sekolah banyak penjual nasi, tapi Alhamdulillah rezeki tidak pernah tertukar nak," kata Ibu Tipa, ditemui di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Rabu malam, 10 Juli 2019.
 
Keuntungan Tipa dari berjualan tidak banyak, hanya Rp20 ribu per harinya. Sementara almarhum suami yang bernama Miskat hanya pemulung kardus. Penghasilan keduanya tidak seberapa, namun jerih keduanya membuktikan usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
 
Setelah bertahun-tahun menabung, Tipa bersama almarhum suaminya bisa mendaftar haji. Tipa menyetorkan uang Rp5 juta kepada Saiful Bahri, pemilik Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) di Probolinggo.
 
"Uang itu saya kumpulkan bersama almarhum suami sudah bertahun-tahun, hingga akhirnya bisa mendaftar haji," ujarnya.
 
Tipa tidak seberapa ingat kapan ia mulai menabung dan mendaftar haji. Ia hanya ingat almarhum suaminya mendapat panggilan untuk ke Tanah Suci pada 2018.
 
Namun, Miskat gagal berangkat haji pada 2018 karena mendadak sakit setiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. "Kemudian suami saya dipulangkan karena sakit. Beberapa hari setelah suami pulang, suami meninggal dunia. Kemudian Hajinya suami dibatalkan oleh pihak KBIH," kata Tipa meneteskan air mata.
 
Tipa mengingat betul perjuangan almarhum suaminya, agar bisa berangkat ke Tanah Suci. Selain bekerja keras, Miskat selalu menyisihkan rezekinya hasil sebagai pemulung. Bahkan almarhum suaminya rela kelaparan demi menabung untuk haji.
 
"Bapak itu nak, sering nahan lapar kalau kerja. Enggak mau makan di luar seperti di warung. Bapak itu mau kelaparan, makannya hanya di rumah. Alasannya katanya eman uangnya, mending untuk nabung haji," kenang Ibu Tipa.
 
"Bapak rela pergi ke rumah Pak Saiful melewati tiga kecamatan, hanya menggunakan sepeda ontel yang di belakangnya ada kardusnya nak. Uang Rp20 ribu itu kadang dalam bentuk recehan Rp1.000 hingga Rp2.000," kenang Ibu Tipa meneteskan air mata.
 
Ibu Tipa mengaku kuat bisa bertahan hidup meski sebatang kara. Tipa selalu berdzikir sambil jualan nasi kuning demi berharap.
 
"Saya dan suami setiap pukul 03.00 WIB, bangun untuk salat tahajud, berdoa kepada Allah nak. Ya Allah saya senang nak, damai dan sejuk hati itu nak. Di waktu-waktu itulah, langit terbuka untuk doa-doa kita," kata Ibu Tipa terharu.
 
Tipa tidak memiliki niatan yang muluk-muluk di Tanah Suci. Dia mengaku hanya ingin mendapat bekal untuk ke akhirat nanti.
 
"Orang hidup itu pasti pulang nak, pulang ke rahmatullah. Kita semua butuh sangu atau bekal ke akhirat. Saya hanya butuh itu nak," kata Ibu Tipa kembali meneteskan air mata.
 
Tipa tergabung dalam kelompo terbang (kloter) 14 Embarkasi Surabaya. Dia terbang dari Bandara Juanda Surabaya menuju Madinah pukul 06.30 WIB, Kamis, 11 Juli 2019. Kemudian rombongan akan tiba di Madinah di hari yang sama pukul 13.30 waktu setempat.
 

 

 

 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif