YOUR FASHION

Kolaborasi Pertukaran Budaya ala Desainer Prancis di JF3 2026

Aulia Putriningtias
Jumat 24 Juli 2026 / 18:29
Ringkasnya gini..
  • JF3 Fashion Festival 2026 kembali diadakan.
  • Tak jauh dari tahun kemarin, kali ini para desainer asal Prancis kembali unjuk diri.
  • Hadir sebanyak enam desainer yang telah sukses menampilkan beberapa koleksinya. 
Jakarta: JF3 Fashion Festival 2026 kembali diadakan. Tak jauh dari tahun kemarin, kali ini para desainer asal Prancis kembali unjuk diri.

Setidaknya, hadir sebanyak enam desainer yang telah sukses menampilkan beberapa koleksinya. Pun, ada beberapa dari mereka yang berkolaborasi bersama PINTU Residency.

PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan. Program ini dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer.

Berlangsung sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.

Adapun beberapa koleksi yang ditampilkan oleh desainer Prancis sekaligus yang berkolaborasi bersama PINTJ Residency, antara lain:
 

1. Mickaël Nana x Beatrice Angelica



Di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA. Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas.
 

2. Lisa Rayar x Gabriel Marcella



Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE di Mojokerto. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer.
 

3. Tareet x Denimitup

Kedua merek ini mengusung kisah pertemuan antara budaya Indonesia dan Senegal. Ide ini mengambil elemen dari lemari pakaian Indonesia dan Senegal, menyatukan, dan menciptakan pakaian hibrida.

The twist atau sentuhan pada koleksi ini mencerminkan cara djellaba menciptakan volume saat tubuh bergerak. Volume ini dapat mengalir ke dalam potongan pakaian streetwear yang lebih kontemporer.
 

4. Louise Marcaud

Louiseguard dipersembahkan pada tahun ini. Louise mengumpulkan kain lurik tenun, batik, serta berbagai benda keseharian yang kemudian menjadi titik awal lahirnya koleksi ini. 

Kantong teh, kartu pos vintage, suvenir hotel, hingga bahasa visual pada kemasan-kemasan produk Indonesia menginspirasi palet warna dan detail grafis yang hadir dalam setiap rancangan.

Koleksi ini membayangkan sebuah kisah musim panas fiktif antara seorang wisatawan yang memperpanjang liburannya di Jakarta dan seorang penjaga kolam muda yang ditemuinya di tepi kolam.
 

5. Rohan Mirza



Pada kesempatan ini, koleksi Rohan Mirza, Stonehaven, berakar pada Paris yang memiliki dua wajah: satu yang menghisap mimpi sekaligus mewujudkannya. Koleksi ini mengeksplorasi peran emosi di era pesona digital.

Pesona tersebut seperti penggabungan antara mitos yang populer di internet dan warisan antargenerasi. Referensi-referensi terhadap budaya internet ini terjalin bersama-sama menjadi benang merah dari sebuah koleksi.
 

6. Fengyuan Dai 

Koleksi 30%70 dari Fengyuan Dai melakukan pendekatan yang sensitif terhadap busana. Siluet yang timeless dipadukan dengan penggunaan material alami, tekstil daur ulang, eksplorasi teknik artisan.

Fesyen tanpa gender, puitis, dan multikultural ini yang ingin disampaikan dalam 30%70. Gagasan bahwa keseimbangan tidak selalu harus simetris. Justru dalam ketegangan yang halus antara berbagai hal yang berlawanan itulah harmoni tercipta.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH