YOUR FASHION
Definisi Tampil Kece Tanpa Nyampah: Intip Keseruan Dressponsible Vol.2!
Yatin Suleha
Senin 20 April 2026 / 07:05
- Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas menjadi kunci transformasi menuju ekosistem fesyen yang berkelanjutan.
- Demi industri fesyen yang lebih berkelanjutan, Kemenekraf gandeng akademisi dan pelaku industri buat berkolaborasi.
- Dressponsible Vol. 2 merupakan program kampanye edukatif berbasis proyek akhir mahasiswa London School of Public Relations (LSPR).
Jakarta: Demi industri fesyen yang lebih berkelanjutan, Kemenekraf gandeng akademisi dan pelaku industri buat berkolaborasi. Langkah nyata ini ditunjukin lewat program Dressponsible Vol.2 yang berlangsung di Auditorium Museum Bank Indonesia, Jakarta, Sabtu (18/4).
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas menjadi kunci dalam mempercepat transformasi menuju ekosistem fesyen yang berkelanjutan.
“Kementerian Ekraf terus mendorong penguatan narasi ini melalui berbagai ruang kolaborasi dan penguatan literasi publik,” ujarnya.
Dressponsible Vol. 2 merupakan program kampanye edukatif berbasis proyek akhir mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) yang mendorong kesadaran atas dampak fast fashion sekaligus mengajak masyarakat beralih ke konsumsi fesyen yang lebih berkelanjutan. Dalam hal ini, Pemerintah juga terus mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan produk fesyen.
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta mulai dari pemerintah, media, content creator, pelaku industri kreatif, komunitas, dan akademisi. Program ini sejalan dengan agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), melalui pesan “Dress Smart, Stay Responsible” sebagai ajakan untuk berbelanja secara lebih bijak.
Kementerian Ekraf menilai inisiatif ini menjadi bagian penting dalam mendorong penguatan tren sustainable fashion di Indonesia, yang kini mulai berkembang melalui praktik ekonomi sirkular seperti reduce, reuse, recycle, dan upcycle, serta pemanfaatan platform digital sebagai sarana edukasi publik.
Di tengah tantangan biaya produksi dan adopsi yang masih terbatas, kolaborasi hexahelix dengan pihak akademisi diyakini krusial untuk menggaungkan gerakan ini.
“Kami sangat mengapresiasi program yang diinisiasi teman-teman mahasiswa ini karena menjadi ruang edukasi dan kampanye tren sustainable fashion, seperti circular fashion, secondhand, capsule wardrobe. Di sinilah peran kita semua yang hadir di sini, pemerintah, akademisi, media, sampai penyedia ruang publik untuk memperkuat edukasi sebagai corong dalam isu ini," ujar Plt. Direktur Fesyen Kementerian Ekraf, Romi Astuti, saat menjadi narasumber dalam sesi konferensi pers.
"Generasi muda, sebagai kalangan yang mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu ini bisa memperkuat dampaknya, baik melalui media sosial maupun karya publikasi akademik,” tambah Romi Astuti.
Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta memandang subsektor fesyen sebagai salah satu penggerak penting ekonomi kreatif daerah.
Pihaknya mendukung kegiatan seperti Dressponsible Vol. 2 sebagai upaya mendorong penguatan talenta muda serta memperluas ruang kolaborasi dan promosi bagi kampanye fesyen berkelanjutan.
.jpg)
(KemenEkraf terus mendorong transformasi industri fesyen yang berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor bersama akademisi hingga pelaku industri. Komitmen ini ditegaskan dalam program Dressponsible Vol.2 di Auditorium Museum Bank Indonesia, Jakarta, Sabtu (18/4/2026). Foto: Dok. Birkom Kemenekraf)
“Fesyen merupakan subsektor unggulan dengan kontribusi besar terhadap ekonomi kreatif DKI Jakarta. Dengan pertumbuhan ekonomi kreatif yang mencapai 6,6 persen, melampaui pertumbuhan PDRB sebesar 4,40 persen, ini menunjukkan potensi yang sangat kuat untuk terus dikembangkan," ujar Kepala Pusat Pelatihan Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Endrati Fariani.
"Karena itu, kami mendukung berbagai inisiatif, termasuk dari mahasiswa, sebagai ruang untuk mendorong inovasi serta pemanfaatan media dan ruang publik dalam mengampanyekan sustainable fashion,” beber Endrati Fariani lagi.
Kepala Museum Bank Indonesia (MUBI), Rio Wardhanu, menyatakan bahwa museum sebagai ruang publik siap mewadahi berbagai kegiatan edukatif dan kolaboratif. Ia menegaskan komitmennya dalam membuka kesempatan bersinergi dengan museum untuk menciptakan dampak yang luas bagi masyarakat.
“Museum berfungsi sebagai jembatan untuk saling berdialog, berkreasi, juga bersinergi. Kemudian sebagai wadah untuk berkumpul dan bisa membicarakan isu-isu yang relevan. Di dalam framework MUBI ada pilar pertama yakni edukasi. Jadi sepanjang itu untuk edukasi kami akan mendukung."
"Pilar selanjutnya inklusif, artinya kami tidak membeda-bedakan kegiatan apapun selama itu selaras dengan visi kami, dan kami mendukung acara ini, terutama taglinenya, “Dress smart, stay responsible”. Kami mendukung untuk bisa lebih bijak dalam berbelanja,” ujar Rio.
Dressponsible Vol. 2 mengusung pendekatan kampanye yang kreatif dan partisipatif melalui produksi iklan layanan bertajuk kampanye “Dibalik Tren” yang diputarkan secara perdana setelah sesi diskusi dengan narasumber.
Acara dilanjutkan dengan trunk show dari sejumlah jenama lokal seperti Arjun Putra, Allemonq, Adrie Basuki, dan Limittes yang menampilkan interpretasi fesyen berkelanjutan secara visual dan aplikatif.
Sekretaris Program Studi Komunikasi LSPR, Melvin Bonardo Simanjuntak, menjelaskan bahwa kampanye ini dirancang oleh para mahasiswa sebagai media edukasi yang aplikatif dan relevan dengan keseharian masyarakat.
“Mahasiswa diberikan kebebasan memilih bentuk tugas akhir, dan melalui Dressponsible ini mereka membuat program kampanye yang terdiri dari sesi press conference dengan para stakeholder, serta produksi iklan layanan masyarakat dan trunk show, sebagai tools komunikasi yang diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku, sehingga konsumsi fesyen tidak lagi berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Dressponsible Vol. 2 menunjukkan bahwa arah baru ekonomi kreatif tidak hanya berbicara soal kreativitas, tetapi juga keberlanjutan sebagai nilai tambah.
Gerakan seperti ini menegaskan bahwa masa depan ekonomi kreatif tidak hanya ditentukan oleh tren, tetapi juga oleh kesadaran dan tanggung jawab.
Melalui pendekatan yang kolaboratif dan berbasis kreativitas, subsektor fesyen berpotensi menjadi the new engine of growth yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas menjadi kunci dalam mempercepat transformasi menuju ekosistem fesyen yang berkelanjutan.
“Kementerian Ekraf terus mendorong penguatan narasi ini melalui berbagai ruang kolaborasi dan penguatan literasi publik,” ujarnya.
Dressponsible Vol. 2 merupakan program kampanye edukatif berbasis proyek akhir mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) yang mendorong kesadaran atas dampak fast fashion sekaligus mengajak masyarakat beralih ke konsumsi fesyen yang lebih berkelanjutan. Dalam hal ini, Pemerintah juga terus mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan produk fesyen.
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta mulai dari pemerintah, media, content creator, pelaku industri kreatif, komunitas, dan akademisi. Program ini sejalan dengan agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), melalui pesan “Dress Smart, Stay Responsible” sebagai ajakan untuk berbelanja secara lebih bijak.
Kementerian Ekraf menilai inisiatif ini menjadi bagian penting dalam mendorong penguatan tren sustainable fashion di Indonesia, yang kini mulai berkembang melalui praktik ekonomi sirkular seperti reduce, reuse, recycle, dan upcycle, serta pemanfaatan platform digital sebagai sarana edukasi publik.
Di tengah tantangan biaya produksi dan adopsi yang masih terbatas, kolaborasi hexahelix dengan pihak akademisi diyakini krusial untuk menggaungkan gerakan ini.
“Kami sangat mengapresiasi program yang diinisiasi teman-teman mahasiswa ini karena menjadi ruang edukasi dan kampanye tren sustainable fashion, seperti circular fashion, secondhand, capsule wardrobe. Di sinilah peran kita semua yang hadir di sini, pemerintah, akademisi, media, sampai penyedia ruang publik untuk memperkuat edukasi sebagai corong dalam isu ini," ujar Plt. Direktur Fesyen Kementerian Ekraf, Romi Astuti, saat menjadi narasumber dalam sesi konferensi pers.
"Generasi muda, sebagai kalangan yang mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu ini bisa memperkuat dampaknya, baik melalui media sosial maupun karya publikasi akademik,” tambah Romi Astuti.
Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta memandang subsektor fesyen sebagai salah satu penggerak penting ekonomi kreatif daerah.
Pihaknya mendukung kegiatan seperti Dressponsible Vol. 2 sebagai upaya mendorong penguatan talenta muda serta memperluas ruang kolaborasi dan promosi bagi kampanye fesyen berkelanjutan.
.jpg)
(KemenEkraf terus mendorong transformasi industri fesyen yang berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor bersama akademisi hingga pelaku industri. Komitmen ini ditegaskan dalam program Dressponsible Vol.2 di Auditorium Museum Bank Indonesia, Jakarta, Sabtu (18/4/2026). Foto: Dok. Birkom Kemenekraf)
“Fesyen merupakan subsektor unggulan dengan kontribusi besar terhadap ekonomi kreatif DKI Jakarta. Dengan pertumbuhan ekonomi kreatif yang mencapai 6,6 persen, melampaui pertumbuhan PDRB sebesar 4,40 persen, ini menunjukkan potensi yang sangat kuat untuk terus dikembangkan," ujar Kepala Pusat Pelatihan Profesi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Endrati Fariani.
"Karena itu, kami mendukung berbagai inisiatif, termasuk dari mahasiswa, sebagai ruang untuk mendorong inovasi serta pemanfaatan media dan ruang publik dalam mengampanyekan sustainable fashion,” beber Endrati Fariani lagi.
Kepala Museum Bank Indonesia (MUBI), Rio Wardhanu, menyatakan bahwa museum sebagai ruang publik siap mewadahi berbagai kegiatan edukatif dan kolaboratif. Ia menegaskan komitmennya dalam membuka kesempatan bersinergi dengan museum untuk menciptakan dampak yang luas bagi masyarakat.
“Museum berfungsi sebagai jembatan untuk saling berdialog, berkreasi, juga bersinergi. Kemudian sebagai wadah untuk berkumpul dan bisa membicarakan isu-isu yang relevan. Di dalam framework MUBI ada pilar pertama yakni edukasi. Jadi sepanjang itu untuk edukasi kami akan mendukung."
"Pilar selanjutnya inklusif, artinya kami tidak membeda-bedakan kegiatan apapun selama itu selaras dengan visi kami, dan kami mendukung acara ini, terutama taglinenya, “Dress smart, stay responsible”. Kami mendukung untuk bisa lebih bijak dalam berbelanja,” ujar Rio.
Dressponsible Vol. 2 mengusung pendekatan kampanye yang kreatif dan partisipatif melalui produksi iklan layanan bertajuk kampanye “Dibalik Tren” yang diputarkan secara perdana setelah sesi diskusi dengan narasumber.
Acara dilanjutkan dengan trunk show dari sejumlah jenama lokal seperti Arjun Putra, Allemonq, Adrie Basuki, dan Limittes yang menampilkan interpretasi fesyen berkelanjutan secara visual dan aplikatif.
Sekretaris Program Studi Komunikasi LSPR, Melvin Bonardo Simanjuntak, menjelaskan bahwa kampanye ini dirancang oleh para mahasiswa sebagai media edukasi yang aplikatif dan relevan dengan keseharian masyarakat.
“Mahasiswa diberikan kebebasan memilih bentuk tugas akhir, dan melalui Dressponsible ini mereka membuat program kampanye yang terdiri dari sesi press conference dengan para stakeholder, serta produksi iklan layanan masyarakat dan trunk show, sebagai tools komunikasi yang diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku, sehingga konsumsi fesyen tidak lagi berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Dressponsible Vol. 2 menunjukkan bahwa arah baru ekonomi kreatif tidak hanya berbicara soal kreativitas, tetapi juga keberlanjutan sebagai nilai tambah.
Gerakan seperti ini menegaskan bahwa masa depan ekonomi kreatif tidak hanya ditentukan oleh tren, tetapi juga oleh kesadaran dan tanggung jawab.
Melalui pendekatan yang kolaboratif dan berbasis kreativitas, subsektor fesyen berpotensi menjadi the new engine of growth yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)