YOUR FASHION
Bali Sukses Gelar Panggung Latin Dance Asia Pasifik, Ajang Kumpul Ratusan Penari Dunia
A. Firdaus
Selasa 04 Agustus 2026 / 18:02
- Penyelenggaraan perdana festival ini menjadi istimewa karena Indonesia resmi memperoleh lisensi dari The Summit Championship di New York.
- Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Pasifik yang dipercaya menjadi tuan rumah kompetisi resmi The Summit Championship.
- Irene Umar, mengatakan ajang ini menjadi ruang kolaborasi bagi seniman, penari, instruktur, dan komunitas dari berbagai negara.
Jakarta: Indonesia kembali menorehkan langkah baru di dunia seni pertunjukan internasional. Untuk pertama kalinya, Indonesia sukses menjadi tuan rumah Indonesian International Latin Festival & Asia-Pacific Salsa Summit 2026, festival sekaligus kompetisi Latin dance berskala internasional yang digelar di Sheraton Bali Kuta Resort pada 30 Juli–3 Agustus 2026.
Mengusung tema 'Where Latin Passion Meets the Spirit of Indonesia', festival ini memadukan semangat tari Latin dengan kekayaan budaya Indonesia melalui kompetisi, workshop, pertunjukan, hingga forum kolaborasi yang melibatkan komunitas tari dari berbagai negara.
Ajang yang diinisiasi Zigzag Indonesia bersama Tiara Josodirdjo & Associates (TJA) tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Kementerian Ekonomi Kreatif sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Penyelenggaraan perdana festival ini menjadi istimewa karena Indonesia resmi memperoleh lisensi dari The Summit Championship di New York, Amerika Serikat, untuk menggelar Asia-Pacific Summit International Competition.
Dengan lisensi tersebut, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Pasifik yang dipercaya menjadi tuan rumah kompetisi resmi The Summit Championship.
Co-Founder sekaligus Co-Owner The Summit Championship, Billy Fajardo, menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat Latin dance di kawasan.
Menurutnya, pemberian lisensi ini bukan hanya menghadirkan sebuah kompetisi internasional, tetapi juga membuka peluang kolaborasi jangka panjang bagi para penari dan komunitas Latin dance di Asia Pasifik.
Pada penyelenggaraan pertamanya, festival ini menargetkan 300 hingga 500 peserta, dengan sekitar 70 persen berasal dari luar negeri.
2.jpg)
Peserta datang dari Australia, Jepang, Korea Selatan, China, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, India, Selandia Baru, hingga sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik.
Selama lima hari, mereka mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari kompetisi Salsa dan Bachata, workshop bersama instruktur kelas dunia, pertunjukan internasional, social dancing, sesi networking antarkomunitas, hingga after party.
Festival ini juga menghadirkan juri, instruktur, dan DJ internasional dari Amerika Serikat, Meksiko, Spanyol, Australia, Jepang, serta sejumlah negara lainnya.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengatakan ajang ini menjadi ruang kolaborasi bagi seniman, penari, instruktur, dan komunitas dari berbagai negara.
Menurutnya, seni tari memiliki peran penting dalam mendorong pengembangan talenta, memperkuat diplomasi budaya, sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Sementara itu, Executive Producer festival, Tiara Josodirdjo, berharap penyelenggaraan ini mampu memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi yang tidak hanya kaya budaya, tetapi juga mampu menjadi tuan rumah event seni berstandar internasional.
"Kami ingin menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk menjadikan seni tari sebagai bagian dari gaya hidup yang sehat, positif, dan mampu mempererat hubungan antarmanusia melalui bahasa universal, yaitu musik dan gerakan," ujarnya.
Festival Director Ferdiansah Dela menambahkan bahwa festival ini dirancang sebagai fondasi untuk memperkuat ekosistem Latin dance di Indonesia sekaligus membuka ruang lahirnya talenta-talenta baru.
Selain menghadirkan hiburan, festival ini diharapkan mampu memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi penyelenggaraan event internasional.
Ke depan, Indonesian International Latin Festival & Asia-Pacific Salsa Summit ditargetkan berkembang menjadi salah satu festival Latin dance terbesar di Asia Pasifik dengan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai negara.
Melalui ajang ini, Indonesia tak hanya menjadi lokasi kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan kolaborasi global yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung seni pertunjukan dunia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Mengusung tema 'Where Latin Passion Meets the Spirit of Indonesia', festival ini memadukan semangat tari Latin dengan kekayaan budaya Indonesia melalui kompetisi, workshop, pertunjukan, hingga forum kolaborasi yang melibatkan komunitas tari dari berbagai negara.
Ajang yang diinisiasi Zigzag Indonesia bersama Tiara Josodirdjo & Associates (TJA) tersebut juga mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Kementerian Ekonomi Kreatif sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Indonesia ukir sejarah baru
Penyelenggaraan perdana festival ini menjadi istimewa karena Indonesia resmi memperoleh lisensi dari The Summit Championship di New York, Amerika Serikat, untuk menggelar Asia-Pacific Summit International Competition.
Dengan lisensi tersebut, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Pasifik yang dipercaya menjadi tuan rumah kompetisi resmi The Summit Championship.
Co-Founder sekaligus Co-Owner The Summit Championship, Billy Fajardo, menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat Latin dance di kawasan.
Menurutnya, pemberian lisensi ini bukan hanya menghadirkan sebuah kompetisi internasional, tetapi juga membuka peluang kolaborasi jangka panjang bagi para penari dan komunitas Latin dance di Asia Pasifik.
Pada penyelenggaraan pertamanya, festival ini menargetkan 300 hingga 500 peserta, dengan sekitar 70 persen berasal dari luar negeri.
2.jpg)
Peserta datang dari Australia, Jepang, Korea Selatan, China, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, India, Selandia Baru, hingga sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik.
Selama lima hari, mereka mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari kompetisi Salsa dan Bachata, workshop bersama instruktur kelas dunia, pertunjukan internasional, social dancing, sesi networking antarkomunitas, hingga after party.
Festival ini juga menghadirkan juri, instruktur, dan DJ internasional dari Amerika Serikat, Meksiko, Spanyol, Australia, Jepang, serta sejumlah negara lainnya.
Bukan sekadar festival tari
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengatakan ajang ini menjadi ruang kolaborasi bagi seniman, penari, instruktur, dan komunitas dari berbagai negara.
Menurutnya, seni tari memiliki peran penting dalam mendorong pengembangan talenta, memperkuat diplomasi budaya, sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Sementara itu, Executive Producer festival, Tiara Josodirdjo, berharap penyelenggaraan ini mampu memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi yang tidak hanya kaya budaya, tetapi juga mampu menjadi tuan rumah event seni berstandar internasional.
"Kami ingin menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk menjadikan seni tari sebagai bagian dari gaya hidup yang sehat, positif, dan mampu mempererat hubungan antarmanusia melalui bahasa universal, yaitu musik dan gerakan," ujarnya.
Festival Director Ferdiansah Dela menambahkan bahwa festival ini dirancang sebagai fondasi untuk memperkuat ekosistem Latin dance di Indonesia sekaligus membuka ruang lahirnya talenta-talenta baru.
Perkuat pariwisata dan ekonomi kreatif
Selain menghadirkan hiburan, festival ini diharapkan mampu memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi penyelenggaraan event internasional.
Ke depan, Indonesian International Latin Festival & Asia-Pacific Salsa Summit ditargetkan berkembang menjadi salah satu festival Latin dance terbesar di Asia Pasifik dengan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai negara.
Melalui ajang ini, Indonesia tak hanya menjadi lokasi kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, kreativitas, dan kolaborasi global yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung seni pertunjukan dunia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)