YOUR FASHION
Mengenal Gelung Nusantara, Warisan Budaya yang Tetap Relevan di Era Modern
A. Firdaus
Kamis 23 April 2026 / 09:15
- Gelung Nusantara memiliki kekuatan tradisi yang tetap relevan hingga kini.
- Penggunaan gelung dapat semakin melengkapi keindahan wastra Nusantara sebagai identitas budaya.
- Diharapkan generasi masa kini semakin mengenal, mengapresiasi, dan melestarikan budaya Indonesia.
Jakarta: Sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, gelung atau sanggul memiliki beragam bentuk, pakem, dan filosofi di setiap daerah. Meski kerap dianggap rumit, gelung sejatinya merupakan praktik yang bisa dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan program Ruang Kreatif bertajuk Mengenal Gelung Nusantara. Workshop ini menjadi ruang edukasi sekaligus eksplorasi budaya, yang mengajak masyarakat lebih dekat dengan warisan tradisi yang sarat makna.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan ragam gelung dari berbagai daerah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat relevansinya di masa kini.
“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang mengajak masyarakat memahami bahwa gelung dapat terus hidup dan diaplikasikan dalam keseharian. Sekaligus, ini menjadi bentuk dukungan bagi perempuan Indonesia untuk bangga terhadap identitas budayanya,” ujarnya.
Workshop yang berlangsung pada 20–23 April 2026 ini terbagi dalam dua kategori, yakni kelas profesional dan kelas umum.
Kelas profesional ditujukan bagi penata rias dan penata rambut yang ingin memperdalam pakem gelung dari berbagai daerah. Peserta diajak mengenal ragam gelung Nusantara, mulai dari Sumatera Utara, Riau, Jawa Tengah, khususnya Solo, hingga Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
Sementara itu, kelas umum terbuka bagi masyarakat luas yang ingin mempelajari teknik dasar bergelung. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis untuk menata rambut, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun acara khusus.
Workshop ini dipandu oleh Mas Yudin, penata rias senior dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di industri kecantikan. Ia dikenal luas melalui kontribusinya dalam dunia tata rias tradisional hingga modern, termasuk keterlibatannya bersama Martha Tilaar Group.

Menurut Mas Yudin, gelung Nusantara memiliki kekuatan tradisi yang tetap relevan hingga kini.
“Minat terhadap gelung tidak pernah hilang, bahkan terus tumbuh lintas generasi. Ini menunjukkan bahwa gelung bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga memiliki masa depan,” ungkapnya.
Ia juga berharap penggunaan gelung dapat semakin melengkapi keindahan wastra Nusantara sebagai identitas budaya.
Selain workshop gelung, Galeri Indonesia Kaya secara konsisten menghadirkan berbagai program edukatif lainnya, seperti kelas seni jahit patchwork dan kegiatan budaya lain yang terbuka untuk publik.
Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi masa kini semakin mengenal, mengapresiasi, dan melestarikan budaya Indonesia. Sejalan dengan semangat Raden Ajeng Kartini, upaya ini juga menjadi bentuk dorongan agar perempuan Indonesia terus berkembang tanpa melupakan akar budayanya.
Gelung pun bukan lagi sekadar tatanan rambut tradisional, tetapi simbol identitas, keindahan, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan program Ruang Kreatif bertajuk Mengenal Gelung Nusantara. Workshop ini menjadi ruang edukasi sekaligus eksplorasi budaya, yang mengajak masyarakat lebih dekat dengan warisan tradisi yang sarat makna.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan ragam gelung dari berbagai daerah, tetapi juga mendorong masyarakat untuk melihat relevansinya di masa kini.
“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang mengajak masyarakat memahami bahwa gelung dapat terus hidup dan diaplikasikan dalam keseharian. Sekaligus, ini menjadi bentuk dukungan bagi perempuan Indonesia untuk bangga terhadap identitas budayanya,” ujarnya.
Dari profesional hingga pemula
Workshop yang berlangsung pada 20–23 April 2026 ini terbagi dalam dua kategori, yakni kelas profesional dan kelas umum.
Kelas profesional ditujukan bagi penata rias dan penata rambut yang ingin memperdalam pakem gelung dari berbagai daerah. Peserta diajak mengenal ragam gelung Nusantara, mulai dari Sumatera Utara, Riau, Jawa Tengah, khususnya Solo, hingga Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
Sementara itu, kelas umum terbuka bagi masyarakat luas yang ingin mempelajari teknik dasar bergelung. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis untuk menata rambut, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun acara khusus.
Belajar dari ahlinya
Workshop ini dipandu oleh Mas Yudin, penata rias senior dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di industri kecantikan. Ia dikenal luas melalui kontribusinya dalam dunia tata rias tradisional hingga modern, termasuk keterlibatannya bersama Martha Tilaar Group.
Menurut Mas Yudin, gelung Nusantara memiliki kekuatan tradisi yang tetap relevan hingga kini.
“Minat terhadap gelung tidak pernah hilang, bahkan terus tumbuh lintas generasi. Ini menunjukkan bahwa gelung bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga memiliki masa depan,” ungkapnya.
Ia juga berharap penggunaan gelung dapat semakin melengkapi keindahan wastra Nusantara sebagai identitas budaya.
Mendorong apresiasi budaya
Selain workshop gelung, Galeri Indonesia Kaya secara konsisten menghadirkan berbagai program edukatif lainnya, seperti kelas seni jahit patchwork dan kegiatan budaya lain yang terbuka untuk publik.
Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi masa kini semakin mengenal, mengapresiasi, dan melestarikan budaya Indonesia. Sejalan dengan semangat Raden Ajeng Kartini, upaya ini juga menjadi bentuk dorongan agar perempuan Indonesia terus berkembang tanpa melupakan akar budayanya.
Gelung pun bukan lagi sekadar tatanan rambut tradisional, tetapi simbol identitas, keindahan, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)