JF3 2026 Resmi Dimulai, PINTU Incubator Buka Pintu Pagelaran
- JF3 Fashion Festival kembali hadir di tahun 2026.
- PINTU Incubator terus memperkuat kolaborasi mode Indonesia–Prancis.
- Sebagai pembuka, pagelaran bertajuk L'ENTRE-DEUX: INTERWOVEN IDENTITIES ini diinisiasi oleh PINTU Incubator, École Duperré & Future Fashion Designer (FFD).
Jakarta: Tak terasa JF3 Fashion Festival kembali hadir di tahun 2026. Kali ini, PINTU Incubator, yang memasuki tahun kelima, buka pintu pagelaran busana ini.
PINTU Incubator terus memperkuat kolaborasi mode Indonesia–Prancis melalui pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif, dan pengalaman lintas budaya.
Pada 2026, perjalanan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara brand Indonesia dan Prancis. Mulai dari partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli, serta dua koleksi hasil PINTU Residency yang dikembangkan melalui proses riset dan kolaborasi bersama komunitas artisan di Lombok dan Mojokerto.
Setelah melalui proses kurasi, peserta terpilih untuk mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026, yaitu dua brand. Brand tersebut adalah Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.
Kelima peserta tersebut menghadirkan pendekatan yang beragam. Mulai dari eksplorasi konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara.
Selain itu, juga pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi.
Sebagai pembuka, pagelaran bertajuk L'ENTRE-DEUX: INTERWOVEN IDENTITIES ini diinisiasi oleh PINTU Incubator, École Duperré & Future Fashion Designer (FFD). Melalui kolaborasi inii, para desainer didorong mengeksplorasi gagasan baru.
Sebanyak empat finalis Future Fashion Designer, yakni Arron Bryan, Azzahra Najmanisa, Tashannie Abigail Loekman, dan Nabila Karimah, menampilkan koleksi yang lahir dari eksplorasi bentuk, material, konstruksi, hingga pencarian identitas.
Salah satu finalis, Arron Bryan, mengungkapkan proses kreatif yang ia jalani bukan perkara mudah. Mulai dari tekstur, ide, dan konsep perlu diputarbalikkan, tetapi tetap saling terhubung sehingga membentuk satu kesatuan cerita.
Sementara itu, Maurine Willebien dari École Duperré Paris, membuka presentasinya melalui Beauties. Koleksi ini menghadirkan 10 looks yang mengeksplorasi konsep kecantikan, hasrat, serta cara masyarakat memandang tubuh.
Selanjutnya, ada Aurélien Voegelin, dari institusi yang sama, menghadirkan koleksi 3088 — the Ear Tag Number of Magali. Hadir dengan tujuh looks, koleksi ini mengolah kenangan masa kecil, elemen pakaian kerja (workwear), dan sejarah keluarga menjadi rangkaian busana kontemporer yang sarat akan nilai personal.
Sebagai penutup, Paul Vidal, dari tempat yang sama, mempersembahkan Emballez-moi. Hadir dengan koleksi enam look yang terinspirasi dari potret-potret Eropa pada abad ke-15 dan ke-16. Menggunakan material kemasan sebagai elemen utama, ia menerjemahkan warisan sejarah ke dalam siluet modern.
Melalui L'ENTRE-DEUX: INTERWOVEN IDENTITIES, JF3 tidak hanya menghadirkan karya-karya baru. Namun, memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas negara dan lintas budaya mampu membuka perspektif baru bagi generasi desainer berikutnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)