YOUR FASHION

Batik hingga Denim Daur Ulang Warnai Moscow Fashion Week

A. Firdaus
Sabtu 07 November 2026 / 07:10
Ringkasnya gini..
  • Moscow Fashion Week menghadirkan lebih dari 350 desainer dunia.
  • Selama enam hari, ajang ini menghadirkan lebih dari 350 desainer dari berbagai negara.
  • Perhelatan Moscow Fashion Week juga membuka ruang diskusi mengenai perkembangan industri mode.
Moskow: Ajang fashion internasional bukan sekadar panggung untuk memamerkan koleksi terbaru. Bagi brand independen yang sedang berkembang, peragaan busana juga bisa menjadi kesempatan untuk memperluas pasar, bertemu calon mitra bisnis, hingga memperkenalkan identitas desain kepada audiens global.

Hal tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Moscow Fashion Week edisi ketujuh di Moskow. Selama enam hari, ajang ini menghadirkan lebih dari 350 desainer dari berbagai negara, mulai dari China, India, Sri Lanka, Kazakhstan, hingga sejumlah negara di Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Latin.

Kehadiran desainer Asia menjadi salah satu daya tarik. Mereka membawa karakter desain dan kekayaan budaya masing-masing ke panggung internasional, sekaligus menunjukkan bahwa identitas lokal dapat menjadi kekuatan untuk bersaing di industri mode global.
India, misalnya, diwakili KGL, brand milik desainer Kanika Goyal yang masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30. Karyanya pernah dikenakan sejumlah selebritas seperti Priyanka Chopra Jonas dan Deepika Padukone, serta berkolaborasi dengan Adidas Originals.

Melalui koleksi Arc Echo, Goyal mengolah potongan denim yang tidak terpakai menjadi jaket dan celana. Ia juga menghadirkan busana rajut bermotif mozaik. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana kreativitas desain dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan material yang lebih berkelanjutan.

Menurut Goyal, keikutsertaan dalam ajang internasional membuka kesempatan bagi brand muda untuk menjalin kolaborasi, menjangkau pasar baru, dan memahami respons konsumen dari berbagai latar budaya.
 

Batik hingga Kain Tradisional Asia di Panggung Moskow


Kekayaan tekstil tradisional juga menjadi inspirasi sejumlah koleksi yang tampil di Moscow Fashion Week. Salah satunya datang dari Limak by Kamil, brand asal Sri Lanka besutan desainer Kamil Hewavitharana.

Koleksi yang ditampilkan mengangkat teknik batik melalui perpaduan motif tradisional yang dirancang khusus dengan material sutra, renda, organza, dan jacquard. Hasilnya berupa siluet modern dengan detail potongan serta sentuhan akhir yang dikerjakan secara manual.

Kehadiran batik di panggung Moskow menjadi pengingat bahwa warisan tekstil kawasan Asia memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi karya mode kontemporer yang diterima pasar internasional.

Dari China, Momiwei juga menjalani debutnya di panggung mode internasional melalui Moscow Fashion Week dengan dukungan China Fashion Week. Brand yang memiliki pelanggan seperti Fan Bingbing dan Gillian Chung ini memperkenalkan koleksi Light Sequence.
 
KGL at Moscow Fashion Week_2
KGL at Moscow Fashion Week. Dok. Ist


Koleksi tersebut mengangkat cahaya sebagai simbol kebangkitan dan kekuatan batin perempuan modern. Salah satu material yang digunakan adalah Xiangyunsha, kain sutra tradisional China yang diproduksi secara manual dan memiliki tekstur khas.

Sementara itu, desainer Rusia juga menghadirkan pendekatan kreatif melalui material dan cerita yang beragam. Ianis Chamalidy memanfaatkan potongan film sebagai benang tekstil untuk membuat aksesori penutup kepala dan tas. Brand Za_Za memperkenalkan koleksi Life Cycles yang menggambarkan perubahan fase kehidupan melalui bentuk geometris dan permainan asimetri.
 

Peluang Desainer Indonesia Menjangkau Pasar Internasional


Perhelatan Moscow Fashion Week juga membuka ruang diskusi mengenai perkembangan industri mode melalui BRICS+ Fashion Summit yang berlangsung pada 28–30 September 2026.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah pelaku industri internasional, termasuk Rizal Tanzil Rakhman, Government Relation and Sustainability Executive PT Pan Brothers Tbk dari Indonesia.

Menurut Rizal, salah satu tantangan industri mode Indonesia adalah mengolah kekayaan sumber daya dan keunikan lokal menjadi produk serta cerita brand yang mampu menarik perhatian konsumen internasional.

Ia menilai ajang seperti Moscow Fashion Week dapat menjadi salah satu jalur bagi desainer Indonesia untuk memperluas eksistensi di pasar global. Kesempatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan tampil di panggung peragaan, tetapi juga membangun koneksi dengan pembeli, media, distributor, komunitas kreatif, dan calon mitra bisnis.

Dengan kekayaan tekstil, kerajinan, serta tradisi seperti batik, Indonesia memiliki modal untuk memperkenalkan karakter desain yang berbeda di pasar internasional.

Moscow Fashion Week sendiri digelar dua kali dalam setahun. Pada edisi sebelumnya, pendaftaran desainer dan brand untuk peragaan musim semi dibuka menjelang akhir tahun melalui situs resmi penyelenggara.

Bagi desainer Indonesia yang ingin menjajal pasar internasional, kesempatan ini bisa menjadi momentum untuk mempersiapkan koleksi, kapasitas produksi, serta strategi bisnis sebelum pendaftaran berikutnya dibuka.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH