WISATA
Jangan Keburu Checkout Tiket! Ini Tips Liburan ke Jepang Biar Nggak Boncos
A. Firdaus
Selasa 07 Juli 2026 / 13:10
- 327 ribu wisatawan Indonesia berkunjung ke Jepang sepanjang Januari-Mei 2026.
- Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Jepang menaikkan biaya visa wisata.
- Melakukan riset destinasi sebelum berangkat bisa membantu wisatawan menemukan tempat yang lebih sesuai.
Jakarta: Jepang masih menjadi salah satu destinasi luar negeri favorit wisatawan Indonesia. Minat berlibur ke Negeri Sakura pun terus meningkat seiring semakin banyaknya masyarakat yang memilih Jepang sebagai tujuan liburan.
Data Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat sebanyak 327 ribu wisatawan Indonesia berkunjung ke Jepang sepanjang Januari-Mei 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tren serupa juga terlihat dari data internal Allianz Utama Indonesia. Hingga Juni 2026, perusahaan mencatat lebih dari 41 ribu pembelian polis asuransi perjalanan internasional, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat untuk bepergian ke luar negeri.
Meski demikian, banyak wisatawan, terutama yang baru pertama kali ke Jepang, baru menyadari sejumlah hal penting setelah perjalanan berlangsung. Mulai dari pengeluaran yang membengkak, itinerary yang kurang efektif, hingga berbagai risiko yang mengganggu kenyamanan liburan.
"Saat merencanakan perjalanan, banyak orang fokus mencari tiket dengan harga terbaik atau menyusun itinerary yang padat. Padahal, pengalaman liburan yang nyaman juga ditentukan oleh seberapa matang persiapan yang dilakukan sejak sebelum keberangkatan," ujar Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, Ignatius Hendrawan.
Menurut Ignatius, selain menyusun itinerary dan anggaran, kamu juga perlu mempertimbangkan perlindungan perjalanan agar lebih siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin terjadi selama liburan.
Bagi kamu yang baru pertama kali ke Jepang, destinasi ikonik seperti Tokyo Skytree memang menjadi tujuan utama. Namun, tempat wisata populer belum tentu selalu memberikan pengalaman terbaik.
Pada musim liburan, antrean panjang dan padatnya pengunjung kerap mengurangi kenyamanan. Padahal, Tokyo memiliki beberapa observatorium gratis seperti Tokyo Metropolitan Government Building dan Bunkyo Civic Center yang menawarkan panorama kota yang tak kalah menarik.
Melakukan riset destinasi sebelum berangkat bisa membantu wisatawan menemukan tempat yang lebih sesuai dengan preferensi sekaligus menghemat waktu dan biaya.
Banyak wisatawan langsung membeli Japan Rail Pass (JR Pass) karena dianggap praktis untuk bepergian antarkota.
Padahal, setelah adanya penyesuaian harga, JR Pass tidak selalu menjadi pilihan paling ekonomis. Jika hanya mengunjungi beberapa kota atau menggunakan Shinkansen satu kali, membeli tiket secara terpisah atau memanfaatkan regional pass justru bisa lebih hemat.
Karena itu, menyusun rute perjalanan sejak awal menjadi langkah penting sebelum memutuskan membeli JR Pass.
Selain tiket pesawat dan hotel, masih ada sejumlah pengeluaran lain yang kerap luput dari perhitungan.
Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Jepang menaikkan biaya visa wisata. Tarif visa single-entry meningkat dari 3.000 yen atau sekira Rp300 ribuan menjadi 15.000 yen atau sekira Rp1,6 juta, sedangkan visa multiple-entry naik dari 6.000 yen Rp600 ribuan menjadi 30.000 yen (Rp3,3 jutaan).
Kamu juga perlu memperhitungkan biaya transportasi lokal, city tax hotel, tambahan bagasi, hingga reservasi beberapa objek wisata agar anggaran tidak membengkak saat berada di Jepang.
Selain soal biaya, kamu juga perlu mengantisipasi berbagai gangguan selama perjalanan.
Berdasarkan data klaim Allianz Utama sepanjang 2026, penundaan perjalanan menjadi klaim terbanyak dengan 2.123 kasus. Disusul perlindungan bagasi sebanyak 1.087 kasus, serta biaya medis di luar negeri sebanyak 579 kasus.
Khusus perjalanan ke Jepang, penundaan penerbangan juga menjadi klaim paling dominan dengan 188 kasus. Selanjutnya adalah gangguan perjalanan dan kehilangan transportasi lanjutan sebanyak 106 kasus, biaya medis 87 kasus, serta masalah bagasi sebanyak 84 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa kendala yang paling sering dialami wisatawan bukanlah kejadian ekstrem, melainkan masalah yang cukup umum seperti keterlambatan pesawat, bagasi yang terlambat tiba, hingga kebutuhan perawatan medis selama perjalanan.
Ignatius mengingatkan, meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk berlibur ke Jepang perlu diimbangi dengan persiapan yang matang.
"Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk mempersiapkan perjalanan secara menyeluruh, tidak hanya dengan menyusun itinerary dan anggaran, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan asuransi perjalanan. Dengan begitu, wisatawan dapat lebih fokus menikmati pengalaman selama liburan tanpa harus terbebani oleh risiko finansial apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Data Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat sebanyak 327 ribu wisatawan Indonesia berkunjung ke Jepang sepanjang Januari-Mei 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tren serupa juga terlihat dari data internal Allianz Utama Indonesia. Hingga Juni 2026, perusahaan mencatat lebih dari 41 ribu pembelian polis asuransi perjalanan internasional, seiring meningkatnya antusiasme masyarakat untuk bepergian ke luar negeri.
Meski demikian, banyak wisatawan, terutama yang baru pertama kali ke Jepang, baru menyadari sejumlah hal penting setelah perjalanan berlangsung. Mulai dari pengeluaran yang membengkak, itinerary yang kurang efektif, hingga berbagai risiko yang mengganggu kenyamanan liburan.
"Saat merencanakan perjalanan, banyak orang fokus mencari tiket dengan harga terbaik atau menyusun itinerary yang padat. Padahal, pengalaman liburan yang nyaman juga ditentukan oleh seberapa matang persiapan yang dilakukan sejak sebelum keberangkatan," ujar Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, Ignatius Hendrawan.
Menurut Ignatius, selain menyusun itinerary dan anggaran, kamu juga perlu mempertimbangkan perlindungan perjalanan agar lebih siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin terjadi selama liburan.
Jangan terlalu memaksakan itinerary
Bagi kamu yang baru pertama kali ke Jepang, destinasi ikonik seperti Tokyo Skytree memang menjadi tujuan utama. Namun, tempat wisata populer belum tentu selalu memberikan pengalaman terbaik.
Pada musim liburan, antrean panjang dan padatnya pengunjung kerap mengurangi kenyamanan. Padahal, Tokyo memiliki beberapa observatorium gratis seperti Tokyo Metropolitan Government Building dan Bunkyo Civic Center yang menawarkan panorama kota yang tak kalah menarik.
Melakukan riset destinasi sebelum berangkat bisa membantu wisatawan menemukan tempat yang lebih sesuai dengan preferensi sekaligus menghemat waktu dan biaya.
JR Pass belum tentu paling hemat
Banyak wisatawan langsung membeli Japan Rail Pass (JR Pass) karena dianggap praktis untuk bepergian antarkota.
Padahal, setelah adanya penyesuaian harga, JR Pass tidak selalu menjadi pilihan paling ekonomis. Jika hanya mengunjungi beberapa kota atau menggunakan Shinkansen satu kali, membeli tiket secara terpisah atau memanfaatkan regional pass justru bisa lebih hemat.
Karena itu, menyusun rute perjalanan sejak awal menjadi langkah penting sebelum memutuskan membeli JR Pass.
Waspadai biaya yang sering terlupakan
Selain tiket pesawat dan hotel, masih ada sejumlah pengeluaran lain yang kerap luput dari perhitungan.
Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Jepang menaikkan biaya visa wisata. Tarif visa single-entry meningkat dari 3.000 yen atau sekira Rp300 ribuan menjadi 15.000 yen atau sekira Rp1,6 juta, sedangkan visa multiple-entry naik dari 6.000 yen Rp600 ribuan menjadi 30.000 yen (Rp3,3 jutaan).
Kamu juga perlu memperhitungkan biaya transportasi lokal, city tax hotel, tambahan bagasi, hingga reservasi beberapa objek wisata agar anggaran tidak membengkak saat berada di Jepang.
Risiko perjalanan yang paling sering terjadi justru dianggap sepele
Selain soal biaya, kamu juga perlu mengantisipasi berbagai gangguan selama perjalanan.
Berdasarkan data klaim Allianz Utama sepanjang 2026, penundaan perjalanan menjadi klaim terbanyak dengan 2.123 kasus. Disusul perlindungan bagasi sebanyak 1.087 kasus, serta biaya medis di luar negeri sebanyak 579 kasus.
Khusus perjalanan ke Jepang, penundaan penerbangan juga menjadi klaim paling dominan dengan 188 kasus. Selanjutnya adalah gangguan perjalanan dan kehilangan transportasi lanjutan sebanyak 106 kasus, biaya medis 87 kasus, serta masalah bagasi sebanyak 84 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa kendala yang paling sering dialami wisatawan bukanlah kejadian ekstrem, melainkan masalah yang cukup umum seperti keterlambatan pesawat, bagasi yang terlambat tiba, hingga kebutuhan perawatan medis selama perjalanan.
Ignatius mengingatkan, meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk berlibur ke Jepang perlu diimbangi dengan persiapan yang matang.
"Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk mempersiapkan perjalanan secara menyeluruh, tidak hanya dengan menyusun itinerary dan anggaran, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan asuransi perjalanan. Dengan begitu, wisatawan dapat lebih fokus menikmati pengalaman selama liburan tanpa harus terbebani oleh risiko finansial apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)