WISATA
Wamena Bukan Cuma Pegunungan, Ada Mumi 300 Tahun hingga Kopi yang Bikin Penasaran
A. Firdaus
Sabtu 08 Agustus 2026 / 10:12
- Ni Luh melihat langsung potensi wisata budaya dan agrowisata yang dinilai bisa terus dikembangkan
- Perjalanan Wamenpar dimulai dari Desa Wisata Kumugima.
- Minat wisatawan mancanegara terhadap Wamena juga terlihat dari kunjungan sejumlah turis asal Italia yang ditemui Wamenpar.
Jakarta: Wamena,Kekayaan budaya masyarakat adat, tradisi turun-temurun, hingga produk lokal membuat daerah ini punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman autentik.
Potensi tersebut turut menjadi perhatian Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa saat mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (6/8/2026).
Dalam kunjungannya, Ni Luh melihat langsung potensi wisata budaya dan agrowisata yang dinilai bisa terus dikembangkan untuk menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Perjalanan Wamenpar dimulai dari Desa Wisata Kumugima. Desa ini dikenal menawarkan pengalaman berinteraksi dengan kehidupan masyarakat adat, termasuk melihat tradisi bakar batu, pertunjukan tari tradisional, serta rumah adat honai yang masih dipertahankan.
Bagi wisatawan, pengalaman tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat Papua Pegunungan yang masih terjaga.
"Senang sekali ini pertama kalinya saya datang ke Wamena. Tadi melihat Desa Wisata Kumugima, kemudian dilanjutkan mengunjungi mumi di Aikima. Saya sangat senang bisa melihat langsung potensi wisata yang luar biasa di sini," ujar Ni Luh.
Dari Kumugima, perjalanan berlanjut ke Desa Aikima. Di tengah lanskap pegunungan Jayawijaya, terdapat salah satu peninggalan budaya yang menjadi daya tarik wisata Wamena, yakni mumi berusia lebih dari 300 tahun.
Mumi tersebut diyakini merupakan jasad Kepala Suku Wirafak Elosak. Berdasarkan cerita yang diwariskan masyarakat setempat, sebelum meninggal dunia, Wirafak Elosak berpesan agar jasadnya diawetkan sehingga dapat dikenang oleh keturunannya.
Hingga kini, mumi tersebut masih dirawat dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat sekaligus atraksi wisata yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.

Minat wisatawan mancanegara terhadap Wamena juga terlihat dari kunjungan sejumlah turis asal Italia yang ditemui Wamenpar. Mereka mengaku memasukkan Wamena ke dalam rute perjalanan setelah berkunjung ke Raja Ampat.
"Kami berbincang dan mereka mengaku sangat menikmati pengalaman berada di Wamena setelah dari Raja Ampat, kemudian melanjutkan perjalanan ke sini," kata Ni Luh.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan Wamena berpotensi menjadi bagian dari rangkaian perjalanan wisata Papua, khususnya bagi wisatawan yang ingin melanjutkan eksplorasi budaya setelah menikmati keindahan Raja Ampat.
Eksplorasi Wamena kemudian berlanjut ke Workshop Noken Street Fashion. Di tempat ini, Ni Luh melihat langsung kreativitas para perajin noken khas Papua.
Noken bukan hanya kerajinan tangan, tetapi juga bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Papua. Karena itu, pengembangan produk kreatif berbasis budaya dinilai dapat berjalan beriringan dengan sektor pariwisata.
Selain budaya, Wamena juga punya potensi agrowisata yang menarik untuk dikembangkan. Salah satunya terlihat dari kebun nanas di Kumugima serta kopi Wamena yang dikenal memiliki karakter cita rasa khas.
Potensi tersebut bisa dikemas menjadi pengalaman wisata yang lebih beragam. Wisatawan tidak hanya melihat destinasi budaya, tetapi juga dapat mengenal proses produksi komoditas lokal, mencicipi produk khas, hingga berinteraksi langsung dengan masyarakat.
"Jadi, saya pikir masih banyak pekerjaan rumah yang bisa kita kerjakan bersama pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperpanjang length of stay wisatawan yang datang ke sini," ujar Ni Luh.
Menurut Wamenpar, kolaborasi antara Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menjadi salah satu kunci untuk mengembangkan pariwisata Wamena secara berkelanjutan.
Kekuatan budaya, sejarah, alam, kerajinan, hingga agrowisata dapat dikemas menjadi pengalaman yang saling terhubung. Dengan begitu, wisatawan punya lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama dan mengeksplorasi Wamena.
"Mudah-mudahan dengan mengembangkan dan mengemas lebih banyak daya tarik wisata yang ada di sini, kita bisa meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menghadirkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata maupun agrowisata," kata Ni Luh.
Ia menambahkan, pengembangan pariwisata Wamena perlu tetap bertumpu pada kekuatan budaya dan potensi lokal yang sudah dimiliki masyarakat.
"Kami ingin mendorong agar pariwisata tumbuh dengan bertumpu pada kekuatan budaya dan potensi lokal yang dimiliki daerah," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Potensi tersebut turut menjadi perhatian Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa saat mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (6/8/2026).
Dalam kunjungannya, Ni Luh melihat langsung potensi wisata budaya dan agrowisata yang dinilai bisa terus dikembangkan untuk menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Perjalanan Wamenpar dimulai dari Desa Wisata Kumugima. Desa ini dikenal menawarkan pengalaman berinteraksi dengan kehidupan masyarakat adat, termasuk melihat tradisi bakar batu, pertunjukan tari tradisional, serta rumah adat honai yang masih dipertahankan.
Bagi wisatawan, pengalaman tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat Papua Pegunungan yang masih terjaga.
"Senang sekali ini pertama kalinya saya datang ke Wamena. Tadi melihat Desa Wisata Kumugima, kemudian dilanjutkan mengunjungi mumi di Aikima. Saya sangat senang bisa melihat langsung potensi wisata yang luar biasa di sini," ujar Ni Luh.
Melihat Mumi Berusia Lebih dari 300 Tahun
Dari Kumugima, perjalanan berlanjut ke Desa Aikima. Di tengah lanskap pegunungan Jayawijaya, terdapat salah satu peninggalan budaya yang menjadi daya tarik wisata Wamena, yakni mumi berusia lebih dari 300 tahun.
Mumi tersebut diyakini merupakan jasad Kepala Suku Wirafak Elosak. Berdasarkan cerita yang diwariskan masyarakat setempat, sebelum meninggal dunia, Wirafak Elosak berpesan agar jasadnya diawetkan sehingga dapat dikenang oleh keturunannya.
Hingga kini, mumi tersebut masih dirawat dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat sekaligus atraksi wisata yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara.

Minat wisatawan mancanegara terhadap Wamena juga terlihat dari kunjungan sejumlah turis asal Italia yang ditemui Wamenpar. Mereka mengaku memasukkan Wamena ke dalam rute perjalanan setelah berkunjung ke Raja Ampat.
"Kami berbincang dan mereka mengaku sangat menikmati pengalaman berada di Wamena setelah dari Raja Ampat, kemudian melanjutkan perjalanan ke sini," kata Ni Luh.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan Wamena berpotensi menjadi bagian dari rangkaian perjalanan wisata Papua, khususnya bagi wisatawan yang ingin melanjutkan eksplorasi budaya setelah menikmati keindahan Raja Ampat.
Noken hingga Kopi Wamena
Eksplorasi Wamena kemudian berlanjut ke Workshop Noken Street Fashion. Di tempat ini, Ni Luh melihat langsung kreativitas para perajin noken khas Papua.
Noken bukan hanya kerajinan tangan, tetapi juga bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Papua. Karena itu, pengembangan produk kreatif berbasis budaya dinilai dapat berjalan beriringan dengan sektor pariwisata.
Selain budaya, Wamena juga punya potensi agrowisata yang menarik untuk dikembangkan. Salah satunya terlihat dari kebun nanas di Kumugima serta kopi Wamena yang dikenal memiliki karakter cita rasa khas.
Potensi tersebut bisa dikemas menjadi pengalaman wisata yang lebih beragam. Wisatawan tidak hanya melihat destinasi budaya, tetapi juga dapat mengenal proses produksi komoditas lokal, mencicipi produk khas, hingga berinteraksi langsung dengan masyarakat.
"Jadi, saya pikir masih banyak pekerjaan rumah yang bisa kita kerjakan bersama pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperpanjang length of stay wisatawan yang datang ke sini," ujar Ni Luh.
Menurut Wamenpar, kolaborasi antara Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menjadi salah satu kunci untuk mengembangkan pariwisata Wamena secara berkelanjutan.
Kekuatan budaya, sejarah, alam, kerajinan, hingga agrowisata dapat dikemas menjadi pengalaman yang saling terhubung. Dengan begitu, wisatawan punya lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama dan mengeksplorasi Wamena.
"Mudah-mudahan dengan mengembangkan dan mengemas lebih banyak daya tarik wisata yang ada di sini, kita bisa meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menghadirkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata maupun agrowisata," kata Ni Luh.
Ia menambahkan, pengembangan pariwisata Wamena perlu tetap bertumpu pada kekuatan budaya dan potensi lokal yang sudah dimiliki masyarakat.
"Kami ingin mendorong agar pariwisata tumbuh dengan bertumpu pada kekuatan budaya dan potensi lokal yang dimiliki daerah," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)