WISATA
Traveling di Era Ketidakpastian, Seni Menikmati Perjalanan dengan Lebih Bijak
A. Firdaus
Selasa 02 Juni 2026 / 13:15
- Banyak wisatawan kini mengubah cara mereka merencanakan perjalanan dengan lebih mengutamakan faktor keamanan.
- Sebanyak 91 persen wisatawan asal Singapura tetap optimistis untuk berlibur pada musim panas tahun ini.
- Banyak wisatawan mulai beralih dari destinasi yang terlalu ramai menuju tempat-tempat yang menawarkan suasana lebih tenang.
Jakarta: Ketidakpastian geopolitik global ternyata tidak menyurutkan minat masyarakat untuk bepergian. Sebaliknya, banyak wisatawan kini mengubah cara mereka merencanakan perjalanan dengan lebih mengutamakan faktor keamanan, fleksibilitas, dan kesiapan menghadapi berbagai situasi tak terduga.
Menurut laporan Smarter Summer dari Skyscanner, sebanyak 91 persen wisatawan asal Singapura tetap optimistis untuk berlibur pada musim panas tahun ini. Menariknya, sekitar 35 persen di antaranya belum memesan tiket perjalanan, tetapi masih aktif mencari destinasi dan merencanakan liburan.
Pakar tren dan destinasi wisata Skyscanner di Singapura, Brendan Walsh, mengatakan pola perjalanan saat ini menunjukkan kombinasi antara antusiasme untuk menjelajah dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan.
"Alih-alih memesan perjalanan enam bulan sebelumnya seperti dulu, kini banyak wisatawan memilih melakukan reservasi lebih dekat dengan tanggal keberangkatan. Mereka ingin tetap fleksibel menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi," ujar Walsh melansir Antara.
Di tengah dinamika global, sejumlah negara yang dikenal stabil secara politik dan memiliki tingkat keamanan tinggi semakin menarik perhatian wisatawan. Portugal, Kanada, dan Swiss menjadi beberapa destinasi yang mengalami peningkatan minat.
Di kawasan Asia, tren serupa juga terlihat. Banyak wisatawan mulai beralih dari destinasi yang terlalu ramai menuju tempat-tempat yang menawarkan suasana lebih tenang, autentik, dan nyaman.
Namun menurut Walsh, meningkatnya minat terhadap destinasi regional Asia bukan semata-mata karena wisatawan menghindari wilayah tertentu yang terdampak konflik.
"Tren ini lebih didorong oleh keinginan wisatawan untuk menemukan pengalaman baru dan preferensi perjalanan yang terus berkembang," jelasnya.
Sementara itu, penasihat keamanan dari International SOS, Lindsay Maloney, menilai wisatawan modern perlu mengubah pola pikir saat bepergian. Jika sebelumnya banyak orang berangkat dengan asumsi perjalanan akan berjalan lancar, kini kesiapan menghadapi gangguan menjadi hal yang tak kalah penting.
Menurutnya, keterlambatan penerbangan, cuaca ekstrem, gangguan konektivitas, hingga aksi demonstrasi kini menjadi bagian dari tantangan yang mungkin ditemui selama perjalanan.
"Asumsi bahwa perjalanan akan selalu berjalan mulus sudah tidak realistis lagi. Bukan berarti kita harus takut bepergian, tetapi perlu lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan," ujarnya.
Karena itu, wisatawan disarankan memiliki rencana cadangan sebelum berangkat. Dengan begitu, keputusan dapat diambil lebih cepat dan tenang ketika menghadapi situasi yang berubah secara mendadak.
Selain mempersiapkan itinerary, wisatawan juga dianjurkan memperkuat kesiapan digital selama perjalanan.
Beberapa langkah sederhana yang direkomendasikan antara lain mengunduh peta offline, menyimpan kontak darurat dan kedutaan besar, serta menyimpan salinan paspor, visa, dan dokumen perjalanan penting yang dapat diakses tanpa koneksi internet.
Maloney juga mengingatkan agar wisatawan lebih berhati-hati saat membagikan lokasi atau aktivitas secara langsung di media sosial. Terlalu banyak membagikan informasi pribadi saat sedang bepergian dapat meningkatkan risiko keamanan.
Meski dunia menghadapi berbagai tantangan, semangat untuk menjelajah ternyata tetap tinggi. Yang berubah bukanlah keinginan untuk bepergian, melainkan cara wisatawan mempersiapkan diri.
Kini, traveler modern lebih mengutamakan destinasi yang aman, memilih jadwal yang fleksibel, dan selalu memiliki rencana cadangan. Dengan persiapan yang matang, perjalanan tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus aman di tengah dunia yang terus berubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Menurut laporan Smarter Summer dari Skyscanner, sebanyak 91 persen wisatawan asal Singapura tetap optimistis untuk berlibur pada musim panas tahun ini. Menariknya, sekitar 35 persen di antaranya belum memesan tiket perjalanan, tetapi masih aktif mencari destinasi dan merencanakan liburan.
Pakar tren dan destinasi wisata Skyscanner di Singapura, Brendan Walsh, mengatakan pola perjalanan saat ini menunjukkan kombinasi antara antusiasme untuk menjelajah dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan.
"Alih-alih memesan perjalanan enam bulan sebelumnya seperti dulu, kini banyak wisatawan memilih melakukan reservasi lebih dekat dengan tanggal keberangkatan. Mereka ingin tetap fleksibel menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi," ujar Walsh melansir Antara.
Destinasi aman semakin diminati
Di tengah dinamika global, sejumlah negara yang dikenal stabil secara politik dan memiliki tingkat keamanan tinggi semakin menarik perhatian wisatawan. Portugal, Kanada, dan Swiss menjadi beberapa destinasi yang mengalami peningkatan minat.
Di kawasan Asia, tren serupa juga terlihat. Banyak wisatawan mulai beralih dari destinasi yang terlalu ramai menuju tempat-tempat yang menawarkan suasana lebih tenang, autentik, dan nyaman.
Namun menurut Walsh, meningkatnya minat terhadap destinasi regional Asia bukan semata-mata karena wisatawan menghindari wilayah tertentu yang terdampak konflik.
"Tren ini lebih didorong oleh keinginan wisatawan untuk menemukan pengalaman baru dan preferensi perjalanan yang terus berkembang," jelasnya.
Siapkan diri untuk berbagai kemungkinan
Sementara itu, penasihat keamanan dari International SOS, Lindsay Maloney, menilai wisatawan modern perlu mengubah pola pikir saat bepergian. Jika sebelumnya banyak orang berangkat dengan asumsi perjalanan akan berjalan lancar, kini kesiapan menghadapi gangguan menjadi hal yang tak kalah penting.
Menurutnya, keterlambatan penerbangan, cuaca ekstrem, gangguan konektivitas, hingga aksi demonstrasi kini menjadi bagian dari tantangan yang mungkin ditemui selama perjalanan.
"Asumsi bahwa perjalanan akan selalu berjalan mulus sudah tidak realistis lagi. Bukan berarti kita harus takut bepergian, tetapi perlu lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan," ujarnya.
Karena itu, wisatawan disarankan memiliki rencana cadangan sebelum berangkat. Dengan begitu, keputusan dapat diambil lebih cepat dan tenang ketika menghadapi situasi yang berubah secara mendadak.
Jangan lupakan persiapan digital
Selain mempersiapkan itinerary, wisatawan juga dianjurkan memperkuat kesiapan digital selama perjalanan.
Beberapa langkah sederhana yang direkomendasikan antara lain mengunduh peta offline, menyimpan kontak darurat dan kedutaan besar, serta menyimpan salinan paspor, visa, dan dokumen perjalanan penting yang dapat diakses tanpa koneksi internet.
Maloney juga mengingatkan agar wisatawan lebih berhati-hati saat membagikan lokasi atau aktivitas secara langsung di media sosial. Terlalu banyak membagikan informasi pribadi saat sedang bepergian dapat meningkatkan risiko keamanan.
Traveling tetap menyenangkan
Meski dunia menghadapi berbagai tantangan, semangat untuk menjelajah ternyata tetap tinggi. Yang berubah bukanlah keinginan untuk bepergian, melainkan cara wisatawan mempersiapkan diri.
Kini, traveler modern lebih mengutamakan destinasi yang aman, memilih jadwal yang fleksibel, dan selalu memiliki rencana cadangan. Dengan persiapan yang matang, perjalanan tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus aman di tengah dunia yang terus berubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)