WISATA

Pariwisata Global Masuki Babak Baru, Nilainya Tembus Rp190 Kuadriliun pada 2025

Agustinus Shindu Alpito
Minggu 31 Mei 2026 / 10:37
Ringkasnya gini..
  • Industri pariwisata global mencetak rekor USD11,6 triliun pada 2025, setara 10 persen PDB dunia.
  • Destinasi baru, perjalanan lebih mendalam, dan pengalaman personal membentuk tren wisata global terbaru.
  • AI semakin berperan dalam industri perjalanan, dari personalisasi layanan hingga otomatisasi operasional.
Jakarta: Industri pariwisata global memasuki fase pertumbuhan baru dengan nilai ekonomi yang mencapai rekor USD 11,6 triliun atau sekitar Rp190 kuadriliun pada 2025. Angka tersebut setara dengan sekitar 10 persen produk domestik bruto (PDB) dunia dan menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat secara global.

Data tersebut mengemuka dalam Envision Global Partner Conference 2026 di Shanghai, yang mempertemukan sekitar 3.500 pelaku industri perjalanan dari 78 negara dan wilayah. Forum tersebut menyoroti sejumlah tren utama yang diperkirakan akan membentuk wajah industri perjalanan dalam beberapa tahun ke depan, mulai dari munculnya destinasi baru, perubahan pola wisatawan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

CEO Trip.com Group Jane Sun mengatakan industri perjalanan menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah berbagai tantangan ekonomi global, “Perjalanan global menunjukkan ketahanan yang luar biasa, dan dengan melonjaknya jumlah wisatawan internasional, kita memasuki babak baru pertumbuhan. Misi bersama kami adalah mengubah momentum ini menjadi nilai jangka panjang bagi seluruh ekosistem perjalanan.”

Menurut Jane, wisatawan kini semakin mencari pengalaman yang lebih personal dan mendalam, sehingga pelaku industri perlu berinvestasi pada inovasi sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
 

Destinasi Baru hingga Tren Perjalanan Lebih Lama

Salah satu temuan menarik yang disorot dalam konferensi tersebut adalah munculnya apa yang disebut sebagai "3 Ds" yang membentuk tren perjalanan global saat ini.

Pertama, Discovery of New Emerging Frontiers, yaitu meningkatnya minat wisatawan terhadap destinasi yang sebelumnya kurang populer. Uzbekistan, Argentina, dan Kolombia disebut sebagai beberapa negara dengan pertumbuhan kunjungan tercepat sepanjang 2025.

Kedua, Diversity of Experiences, di mana wisatawan semakin mencari pengalaman yang beragam, mulai dari aktivitas menyelam di Bali, wisata alam di Cappadocia, hingga kunjungan ke museum di Giza dan Istanbul.

Ketiga, Journeys in Depth, yaitu tren perjalanan yang lebih panjang dan mendalam. Data menunjukkan 15 dari 20 jenis perjalanan dengan pertumbuhan tercepat kini berupa perjalanan lintas negara atau multi-destinasi dengan rata-rata lama tinggal sekitar enam hari.

Perubahan ini mengindikasikan bahwa wisatawan tidak lagi hanya mengejar jumlah destinasi yang dikunjungi, tetapi juga kualitas pengalaman selama perjalanan.
 

AI Semakin Besar Perannya dalam Industri Wisata

Selain perubahan perilaku wisatawan, penggunaan kecerdasan buatan juga semakin memengaruhi industri perjalanan.

Berbagai inovasi berbasis AI kini digunakan untuk mempercepat proses pemesanan, memberikan rekomendasi yang lebih personal, hingga membantu perusahaan mengambil keputusan operasional.

Dalam sektor perjalanan bisnis misalnya, agen AI kini mampu menyetujui secara otomatis permintaan perjalanan berisiko rendah dengan tingkat akurasi lebih dari 98 persen. Sementara pada sektor perhotelan, sistem personalisasi otomatis menghasilkan tambahan ribuan pemesanan kamar setiap hari.
 

Wisata ke China Meningkat Tajam

Tren lain yang mencuat adalah meningkatnya minat wisatawan internasional terhadap China.

Sepanjang 2025, sekitar 20 juta wisatawan mancanegara dilayani melalui platform Trip.com saat berkunjung ke berbagai wilayah di negara tersebut. Sementara program Free City Tours yang digelar di Shanghai, Beijing, Hong Kong, dan Shenzhen telah menarik lebih dari 30.000 wisatawan dari 127 negara hingga April 2026.

Shanghai dan Beijing menjadi kota dengan jumlah peserta tertinggi, masing-masing melayani lebih dari 12.000 dan 11.000 wisatawan internasional.

Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, berbagai pusat layanan wisata multibahasa kini beroperasi di sejumlah gerbang utama seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Hong Kong, dan Shenzhen, menyediakan bantuan mulai dari akses internet hingga panduan transportasi.
 

Inovasi Jadi Kunci Pertumbuhan

Dalam konferensi yang sama, sejumlah proyek pariwisata inovatif dari berbagai negara mendapat penghargaan melalui Tourism Innovation Awards. Salah satu penerima penghargaan adalah Universal Epic Universe di Orlando, Amerika Serikat, yang dinilai menghadirkan standar baru dalam pengalaman taman hiburan berbasis teknologi imersif.

Co-founder dan Chairman Trip.com Group James Liang menilai inovasi akan menjadi faktor penentu masa depan industri perjalanan.

“Perjalanan adalah tentang merasakan sesuatu yang baru, dan inovasi adalah percikan yang mengubah imajinasi menjadi perjalanan serta rasa ingin tahu menjadi penemuan.”

Ia menambahkan bahwa kemajuan industri wisata akan sangat ditentukan oleh kemampuan pelaku industri dalam menggabungkan teknologi dengan kreativitas.

“Para inovator luar biasa yang kami apresiasi tahun ini menunjukkan potensi besar yang muncul ketika teknologi dan visi kreatif bersatu untuk membayangkan kembali berbagai kemungkinan.”

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, data terbaru menunjukkan bahwa sektor perjalanan tetap menjadi salah satu industri yang paling resilien. Dengan meningkatnya mobilitas internasional, munculnya destinasi baru, serta adopsi AI yang semakin luas, industri pariwisata tampaknya tengah memasuki fase transformasi terbesar sejak pandemi berakhir.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(ASA)

MOST SEARCH