WISATA

Palli-palli Vs Aboha: Sebuah Pergeseran Gaya Hidup Anak Muda Korea

Yatin Suleha
Minggu 20 September 2026 / 20:31
Ringkasnya gini..
  • Kebiasaan orang Korea Selatan yang gerakannya super lincah dan gesit.
  • Di sana, semboyan “palli palli” alias “cepat-cepat” udah kayak hukum alam yang mendasari kehidupan sehari-hari.
  • Istilah ini mendeskripsikan gaya hidup masyarakat Korea Selatan yang menuntut segala hal diselesaikan dalam waktu sesingkat mungkin.
Jakarta: Kalau kamu suka nonton drakor atau ngikutin tren K-pop, mungkin kamu udah gak asing lagi sama kebiasaan orang Korea Selatan yang gerakannya super lincah dan gesit. 

Di sana, semboyan “palli palli” (빨리빨리) alias “cepat-cepat” atau “sat-set” udah kayak hukum alam yang mendasari kehidupan sehari-hari. 

Mulai dari urusan kecepatan internet, pelayanan makanan di restoran, sampai gaya jalan kaki di trotoar, semuanya harus serba ngebut!
   

Apa sih sebenarnya budaya palli palli itu?


Secara harfiah, palli palli berartikan "cepat! cepat!" Istilah ini mendeskripsikan gaya hidup masyarakat Korea Selatan yang menuntut segala hal diselesaikan dalam waktu sesingkat mungkin. 

Kalau kamu jalan-jalan ke Seoul, kamu bakal lihat orang-orang yang ogah membuang waktu sedetik pun. 

Mulai dari jari yang terus ngetuk-ngetuk tombol lift, seruput kopi yang langsung habis sekali teguk, sampai pesanan barang online yang sampai di hari yang sama (rocket delivery). 

Semuanya serba kilat dan gak pakai drama entar-entaran!
 

Dari mana asal-usul budaya serba ngebut ini?



pali pali adalah
(Dalam lama Korea.com disebutkan alasan budaya delivery (pesan antar) di Korea Selatan bisa sangat cepat, karena didorong oleh kombinasi budaya sosial "Pali-Pali" (cepat-cepat), kepadatan geografis kota yang tinggi, serta infrastruktur teknologi dan logistik raksasa yang sangat efisien. Foto: Ilustrasi/Dok. Generate AI)

Budaya ini gak muncul gitu aja. Dulu, pasca Perang Korea di era 1950-an, kondisi ekonomi Korea Selatan sempat terpuruk parah. 

Buat bangkit dari keterpurukan, pemerintah dan rakyatnya sepakat buat kerja ekstra keras dan super cepat. 

Hasilnya? Fenomena luar biasa yang dikenal sebagai Miracle on the Han River. 

"Miracle on the Han River" atau "Keajaiban di Sungai Han" adalah istilah untuk pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang sangat pesat setelah Perang Korea (1950–1953) hingga tahun 1990-an.

Istilah ini terinspirasi dari "Keajaiban di Sungai Rhine" (Wirtschaftswunder), yaitu kebangkitan ekonomi Jerman Barat pasca-Perang Dunia II.

Dalam Wikipedia dijelaskan, keajaiban di Sungai Han (Hangeul: 한강의 기적; Hangangeui Gijeok) adalah sebuah istilah yang merujuk pada periode pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, industrialisasi, pencapaian teknologi.

Selain itu urbanisasi, pembangunan gedung-gedung pencakar langit, modernisasi, globalisasi dan kebangkitan teknologi yang terjadi di Korea Selatan dari puing-puing Perang Korea, Penjajahan Jepang Atas Korea dan Perang Dunia Kedua menjadi sebuah negara makmur yang maju. 

Periode ini dimulai dari Rencana 5 Tahun yang dicanangkan pada tahun 1960, hingga periode industrialisasi dan kebangkitan Korsel sampai detik ini.

Dalam beberapa dekade aja, negara ini berhasil berubah dari negara berkembang jadi raksasa teknologi dunia. 

Jiwa kompetitif dan semangat "palli palli" inilah yang jadi bahan bakar utamanya.
 

Contoh nyata aksi palli palli di kehidupan sehari-hari



pali pali korea  (1)
(Orang Korea sangat suka minum iced americano karena rasanya praktis, rendah kalori, dan memberikan dorongan energi instan yang cocok dengan gaya hidup cepat di sana. Foto: Ilustrasi/Dok. Generate AI)

Kebiasaan pali pali ini udah menyatu banget sama DNA orang Korea. Ini beberapa contoh unik yang bisa kamu temuin:

- Internet super kilat: Kalau loading halaman web lebih dari dua detik, orang Korea bisa langsung cranky.

- Layanan antar tanpa tanding: Pesan barang malam ini, besok pagi sebelum subuh barangnya udah nangkring di depan pintu rumah (rocket delivery).

- Tren es kopi tanpa musim: Orang Korea hobi minum iced americano bahkan pas musim dingin ekstrem, salah satu alasannya biar bisa langsung diminum cepat tanpa perlu nunggu dingin dulu.

- Jalan kaki kecepatan maraton: Jalan kaki di stasiun bawah tanah (subway) kecepatannya udah kayak orang lagi lomba lari jalan cepat.
 

Sisi positif dan efek samping di balik kecepatan tinggi


Gak bisa dipungkiri, budaya ini bikin Korea Selatan jadi negara yang super efisien, serba praktis, dan punya standar pelayanan kelas wahid. 

Semua fasilitas publik berjalan rapi tanpa buang-buang waktu. Tapi di sisi lain, kebiasaan hidup serba gaspol ini juga punya dampak kurang oke. 

Tingkat stres masyarakatnya cukup tinggi karena semua orang dituntut buat selalu sempurna dan cepat. 

Efek burnout jadi hal yang lumrah, sampai akhirnya muncul gerakan tandingan dari sebagian anak muda di sana yang mulai mengampanyekan gaya hidup pelan (slow living) biar gak gampang emosi dan stres melulu.

Jadi, budaya palli palli ini emang jadi kunci sukses Korea Selatan bisa maju pesat. 

Buat kita yang hobi menunda pekerjaan, semangat sat-set ala orang Korea ini jelas bisa banget dijadiin contoh. 

Tapi ingat, tetap imbangi sama waktu istirahat yang cukup biar mental kamu gak ikut remuk!
 

Kompensasi stres



pali pali korea  (2)
(Fenomena aboha ini jadi bukti kalau masyarakat di sana mulai pelan-pelan menggeser pola pikir dari yang tadinya serba pali pali (cepat-cepat) menjadi lebih menghargai kedamaian hidup yang rileks. Foto: Ilustrasi/Dok. Generate AI)

Apakah semua itu cuma punya efek bagusnya aja? Menurut Kim Choong-soon (ahli antropologi), budaya ini telah mengakar menjadi nilai dasar masyarakat Korea. 

Sisi buruknya, ritme yang sangat kompetitif dan tidak memberi ruang untuk menunda pekerjaan ini memicu stres ekstrem, kelelahan mental (burnout), serta nervousness di kalangan pekerja.

Dalam The Korea Herald menyadur National Center for Mental Health, sebanyak 7 dari 10 warga Korea mengalami masalah kesehatan mental seperti stres dan depresi — bahkan lebih dari 40 persen responden mengaku pernah mengalami stres dan depresi tingkat parah.

Ritme yang serba instan memaksa pikiran berfokus hanya pada pencapaian akhir. Tekanan psikologis untuk selalu "menang" dan "menjadi yang terbaik" ini menjadi pemicu tingginya angka depresi dan gangguan kesehatan mental di Korea Selatan.

Lee Jung-joo dalam The Korea Herald menulis terdapat tren saat ini, sesuatu yang terus mengarah pada keseimbangan batin serta mental. 

Dalam artikelnya yang berjudul "'Aboha': Koreans who opt for a life less extraordinary" ia memaparkan 'comfort in uneventful, unpolished moments rather than curated productivity' yang dikatakan oleh Choe Sung-ha seorang pekerja berusia 31 tahun.

Yang berarti-rasa nyaman dan damai saat menikmati momen-momen sederhana yang apa adanya, ketimbang memaksakan diri buat selalu kelihatan sibuk atau produktif demi standar tampilan di media sosial.

Pengalaman Choe sedikit dari cerminan perubahan tren di kalangan warga Korea Selatan yang mulai meninggalkan hobi-hobi tinggi energi dan terkesan pamer gengsi, demi beralih ke rutinitas hidup yang lebih lambat dan santai.
 

Aboha: Adanya pergeseran tren saat ini


Profesor sosiologi, Koo Jeong-woo dari Sungkyunkwan University berbicara pada The Korea Herald menyebut bahwa populernya tren aboha mencerminkan makin besarnya keinginan warga Korea untuk 'melepaskan diri dari tekanan masyarakat sibuk yang mendewakan hiperproduktivitas', dan sebaliknya 'menemukan makna di dalam ketenangan'.

Inti utama dari gaya hidup aboha yaitu, daripada capek-capek ngejar kebahagiaan yang muluk-muluk atau memaksakan diri buat selalu gaspol, Aboha mengajarkan kalau hari yang datar-datar aja—enggak terlalu senang, enggak sedih, dan enggak ada masalah—itu udah jadi berkah yang sangat cukup. 

Fokus utamanya adalah kedamaian pikiran dan rasa aman secara emosional.

Daripada terus-terusan mengejar target yang menguras fisik dan mental, mereka memilih buat melambat, menikmati momen hening, dan nemuin kedamaian dari hal-hal simpel tanpa rasa bersalah.
 
Fenomena aboha ini jadi bukti kalau masyarakat di sana mulai pelan-pelan menggeser pola pikir dari yang tadinya serba palli palli (cepat-cepat) menjadi lebih menghargai kedamaian hidup yang rileks.

Makin banyak orang di sana yang sadar kalau gaya hidup serba cepat (palli palli) atau hobi yang heboh itu bikin rawan burnout.

Dan saat ini, beralih ke rutinitas chill. Mereka lebih memilih kegiatan sederhana yang tenang, santai, dan beneran bikin pikiran adem tanpa perlu pembuktian ke orang lain.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH