WISATA
Wisatawan Nusantara Tetap Jadi Kunci Pariwisata di Tengah Rupiah Melemah
A. Firdaus
Kamis 11 Juni 2026 / 15:11
- Kondisi ini dapat menarik lebih banyak wisatawan mancanegara karena biaya perjalanan ke Indonesia menjadi relatif lebih murah.
- Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa wisatawan domestik memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan industri pariwisata.
- Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat.
Jakarta: Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang bagi sektor pariwisata Indonesia. Di satu sisi, kondisi ini dapat menarik lebih banyak wisatawan mancanegara karena biaya perjalanan ke Indonesia menjadi relatif lebih murah. Namun di sisi lain, pelaku industri pariwisata mengingatkan pentingnya menjaga pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebagai penopang utama sektor ini.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Maulana Yusran, mengatakan pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa wisatawan domestik memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan industri pariwisata saat kunjungan wisatawan asing menurun.
"Kita harus banyak belajar dari kejadian saat Covid-19. Saat itu, andalan utama sektor pariwisata adalah wisatawan nusantara dibandingkan wisatawan mancanegara. Apalagi dalam situasi seperti sekarang," ujar Yusran melansir Antara.
Menurut Yusran, pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan asing karena biaya perjalanan menjadi lebih kompetitif. Namun, sektor pariwisata tetap membutuhkan kontribusi besar dari wisatawan lokal untuk menjaga perputaran ekonomi di berbagai destinasi.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan mobilitas perjalanan wisatawan nusantara pada April 2026 mencapai 97,55 juta perjalanan. Angka tersebut turun 24,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain pelemahan rupiah, tingginya harga tiket perjalanan yang dipengaruhi kenaikan harga avtur turut menjadi faktor yang menekan mobilitas masyarakat untuk berwisata ke luar daerah.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat lebih memilih melakukan perjalanan jarak dekat atau staycation dibandingkan bepergian ke destinasi yang lebih jauh. Faktor keterbatasan waktu cuti juga menjadi pertimbangan, meski pemerintah telah menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA).
Akibatnya, pergerakan wisatawan cenderung terkonsentrasi di destinasi yang sudah populer dan mudah dijangkau, seperti Jawa dan Bali.
PHRI berharap pemerintah dapat terus mendorong peningkatan daya beli masyarakat agar sektor pariwisata tetap bergerak dan manfaat ekonominya bisa dirasakan lebih luas oleh berbagai daerah.
Untuk menarik minat wisatawan, industri perhotelan juga terus berkolaborasi dengan berbagai mitra dalam mempromosikan destinasi wisata melalui media sosial dan platform digital. Berbagai program dan tema khusus juga disiapkan hotel-hotel untuk menyambut musim liburan.
Sementara itu, Ni Luh Puspa menyatakan dukungannya terhadap program BINA Holiday & Back to School 2026 yang berlangsung pada 8 Juni hingga 12 Juli 2026.
Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat sekaligus membantu pencapaian target perjalanan wisatawan nusantara yang ditetapkan pemerintah, yakni mencapai 1,176 miliar perjalanan pada tahun 2026.
Dengan kondisi ekonomi yang dinamis, wisatawan lokal dinilai tetap menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri pariwisata Indonesia, sekaligus motor penggerak ekonomi daerah di berbagai destinasi wisata Tanah Air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Maulana Yusran, mengatakan pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa wisatawan domestik memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan industri pariwisata saat kunjungan wisatawan asing menurun.
"Kita harus banyak belajar dari kejadian saat Covid-19. Saat itu, andalan utama sektor pariwisata adalah wisatawan nusantara dibandingkan wisatawan mancanegara. Apalagi dalam situasi seperti sekarang," ujar Yusran melansir Antara.
Menurut Yusran, pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan asing karena biaya perjalanan menjadi lebih kompetitif. Namun, sektor pariwisata tetap membutuhkan kontribusi besar dari wisatawan lokal untuk menjaga perputaran ekonomi di berbagai destinasi.
Perjalanan wisatawan lokal menurun
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan mobilitas perjalanan wisatawan nusantara pada April 2026 mencapai 97,55 juta perjalanan. Angka tersebut turun 24,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain pelemahan rupiah, tingginya harga tiket perjalanan yang dipengaruhi kenaikan harga avtur turut menjadi faktor yang menekan mobilitas masyarakat untuk berwisata ke luar daerah.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat lebih memilih melakukan perjalanan jarak dekat atau staycation dibandingkan bepergian ke destinasi yang lebih jauh. Faktor keterbatasan waktu cuti juga menjadi pertimbangan, meski pemerintah telah menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA).
Akibatnya, pergerakan wisatawan cenderung terkonsentrasi di destinasi yang sudah populer dan mudah dijangkau, seperti Jawa dan Bali.
Daya beli jadi faktor penting
PHRI berharap pemerintah dapat terus mendorong peningkatan daya beli masyarakat agar sektor pariwisata tetap bergerak dan manfaat ekonominya bisa dirasakan lebih luas oleh berbagai daerah.
Untuk menarik minat wisatawan, industri perhotelan juga terus berkolaborasi dengan berbagai mitra dalam mempromosikan destinasi wisata melalui media sosial dan platform digital. Berbagai program dan tema khusus juga disiapkan hotel-hotel untuk menyambut musim liburan.
Program liburan sekolah diharapkan dongkrak pariwisata
Sementara itu, Ni Luh Puspa menyatakan dukungannya terhadap program BINA Holiday & Back to School 2026 yang berlangsung pada 8 Juni hingga 12 Juli 2026.
Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat sekaligus membantu pencapaian target perjalanan wisatawan nusantara yang ditetapkan pemerintah, yakni mencapai 1,176 miliar perjalanan pada tahun 2026.
Dengan kondisi ekonomi yang dinamis, wisatawan lokal dinilai tetap menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri pariwisata Indonesia, sekaligus motor penggerak ekonomi daerah di berbagai destinasi wisata Tanah Air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)