WISATA
Di Era AI, Cerita dan Sentuhan Manusia Justru Jadi Kunci Pariwisata
A. Firdaus
Sabtu 06 Juni 2026 / 14:12
- Mulai dari video yang muncul di media sosial hingga hasil pencarian di internet, teknologi perlahan mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan, hingga memutuskan tempat yang ingin dikunjungi.
- Perubahan perilaku wisatawan juga tidak terlepas dari peran algoritma yang bekerja di balik platform digital.
- Meski teknologi semakin canggih, para pelaku industri menilai bahwa faktor manusia tetap menjadi elemen penting.
Jakarta: Cara wisatawan menemukan destinasi liburan kini mengalami perubahan besar. Jika dulu rekomendasi teman atau brosur perjalanan menjadi rujukan utama, kini algoritma media sosial dan mesin pencari semakin berperan dalam menentukan destinasi yang muncul di hadapan calon wisatawan.
Mulai dari video yang muncul di media sosial hingga hasil pencarian di internet, teknologi perlahan mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan, hingga memutuskan tempat yang ingin dikunjungi. Di tengah perubahan tersebut, industri pariwisata tidak lagi hanya mengandalkan promosi atau keindahan destinasi semata, tetapi juga kemampuan membangun cerita dan kepercayaan di ruang digital.
Menjawab perubahan perilaku wisatawan global tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), sebuah platform kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendukung transformasi digital sektor pariwisata Indonesia.
Platform yang dapat diakses melalui Indonesia Travel ini menjadi bagian dari implementasi program Tourism 5.0, yang menekankan pemanfaatan teknologi digital untuk menjangkau wisatawan secara lebih efektif dan personal.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan kebutuhan yang semakin penting dalam industri pariwisata.
"Ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data," ujar Ni Made dalam diskusi Forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) di Jakarta.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini. Dok. Ist
MaiA dirancang untuk membantu wisatawan dalam setiap tahapan perjalanan, mulai dari mencari inspirasi destinasi, merencanakan perjalanan, melakukan pemesanan, menikmati pengalaman wisata, hingga membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain.
Selain memberikan layanan kepada wisatawan, platform ini juga berfungsi sebagai sumber data untuk memahami perilaku pengunjung secara lebih mendalam.
Menurut Made, dalam tujuh bulan sejak diluncurkan pada November 2025, MaiA telah memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai karakteristik pengguna. Sekitar 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik, sementara 40 persen lainnya merupakan wisatawan mancanegara yang didominasi oleh wisatawan asal Tiongkok, Singapura, dan Jerman.
Data tersebut membantu pemerintah memahami tren terbaru, mulai dari destinasi yang diminati hingga jenis pengalaman wisata yang dicari oleh wisatawan.
Perubahan perilaku wisatawan juga tidak terlepas dari peran algoritma yang bekerja di balik platform digital.
Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, menjelaskan bahwa hampir seluruh aktivitas digital saat ini diproses menjadi data yang kemudian membentuk profil pengguna.
Profil tersebut akan menentukan informasi dan rekomendasi yang muncul di layar masing-masing individu.
Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat platform digital memiliki pengaruh besar dalam menentukan destinasi yang terlihat menarik bagi wisatawan.
"Destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang dominan di ruang digital sangat dipengaruhi oleh algoritma," kata Apni.
Karena itu, tantangan terbesar industri pariwisata saat ini bukan sekadar menciptakan konten menarik, melainkan membangun kepercayaan di tengah derasnya arus informasi digital.
Meski teknologi semakin canggih, para pelaku industri menilai bahwa faktor manusia tetap menjadi elemen penting dalam membangun daya tarik destinasi.
Brand Strategist dan Founder Konner Advisory, Silih Agung Wasesa, menilai keberhasilan promosi wisata tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga kekuatan narasi yang dibangun.
Menurutnya, wisatawan saat ini tidak hanya mencari informasi, tetapi juga pengalaman dan cerita yang mampu membangun keterikatan emosional.
"Kalau narasinya tidak dibangun, AI tidak akan ke mana-mana. Experience storytelling menjadi sangat penting untuk membangun citra destinasi di era AI," ujarnya.
Ia juga menilai bahwa di tengah dominasi media sosial, suara nano influencer dan komunitas yang dianggap dekat dengan kehidupan sehari-hari justru semakin berpengaruh dibanding promosi konvensional.
Pandangan serupa juga disampaikan COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego. Menurutnya, kecerdasan buatan memang membantu industri pariwisata memahami perilaku konsumen dan menyusun strategi pemasaran yang lebih presisi. Namun, pengalaman wisata pada akhirnya tetap ditentukan oleh interaksi manusia.

COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego. Dok. Ist
"Yang membedakan industri hospitality dan pariwisata dengan industri lainnya adalah rasa, pengalaman, dan sentuhan manusia," katanya.
Eduard menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat untuk mempercepat distribusi informasi dan memahami kebutuhan wisatawan. Sementara itu, kepercayaan, pengalaman, dan hubungan emosional tetap menjadi faktor utama yang membuat sebuah destinasi maupun layanan pariwisata berkesan.
Di era ketika algoritma semakin berpengaruh terhadap keputusan perjalanan, industri pariwisata Indonesia dituntut tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman yang autentik dan membangun kepercayaan wisatawan. Sebab pada akhirnya, perjalanan yang berkesan bukan hanya soal destinasi yang ditemukan melalui layar, melainkan pengalaman nyata yang dirasakan saat tiba di sana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Mulai dari video yang muncul di media sosial hingga hasil pencarian di internet, teknologi perlahan mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan, hingga memutuskan tempat yang ingin dikunjungi. Di tengah perubahan tersebut, industri pariwisata tidak lagi hanya mengandalkan promosi atau keindahan destinasi semata, tetapi juga kemampuan membangun cerita dan kepercayaan di ruang digital.
Menjawab perubahan perilaku wisatawan global tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), sebuah platform kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendukung transformasi digital sektor pariwisata Indonesia.
Platform yang dapat diakses melalui Indonesia Travel ini menjadi bagian dari implementasi program Tourism 5.0, yang menekankan pemanfaatan teknologi digital untuk menjangkau wisatawan secara lebih efektif dan personal.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan kebutuhan yang semakin penting dalam industri pariwisata.
"Ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data," ujar Ni Made dalam diskusi Forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) di Jakarta.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini. Dok. Ist
MaiA dirancang untuk membantu wisatawan dalam setiap tahapan perjalanan, mulai dari mencari inspirasi destinasi, merencanakan perjalanan, melakukan pemesanan, menikmati pengalaman wisata, hingga membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain.
Selain memberikan layanan kepada wisatawan, platform ini juga berfungsi sebagai sumber data untuk memahami perilaku pengunjung secara lebih mendalam.
Menurut Made, dalam tujuh bulan sejak diluncurkan pada November 2025, MaiA telah memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai karakteristik pengguna. Sekitar 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik, sementara 40 persen lainnya merupakan wisatawan mancanegara yang didominasi oleh wisatawan asal Tiongkok, Singapura, dan Jerman.
Data tersebut membantu pemerintah memahami tren terbaru, mulai dari destinasi yang diminati hingga jenis pengalaman wisata yang dicari oleh wisatawan.
Algoritma jadi penentu perhatian wisatawan
Perubahan perilaku wisatawan juga tidak terlepas dari peran algoritma yang bekerja di balik platform digital.
Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, menjelaskan bahwa hampir seluruh aktivitas digital saat ini diproses menjadi data yang kemudian membentuk profil pengguna.
Profil tersebut akan menentukan informasi dan rekomendasi yang muncul di layar masing-masing individu.
Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat platform digital memiliki pengaruh besar dalam menentukan destinasi yang terlihat menarik bagi wisatawan.
"Destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang dominan di ruang digital sangat dipengaruhi oleh algoritma," kata Apni.
Karena itu, tantangan terbesar industri pariwisata saat ini bukan sekadar menciptakan konten menarik, melainkan membangun kepercayaan di tengah derasnya arus informasi digital.
Teknologi perlu didukung cerita yang kuat
Meski teknologi semakin canggih, para pelaku industri menilai bahwa faktor manusia tetap menjadi elemen penting dalam membangun daya tarik destinasi.
Brand Strategist dan Founder Konner Advisory, Silih Agung Wasesa, menilai keberhasilan promosi wisata tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga kekuatan narasi yang dibangun.
Menurutnya, wisatawan saat ini tidak hanya mencari informasi, tetapi juga pengalaman dan cerita yang mampu membangun keterikatan emosional.
"Kalau narasinya tidak dibangun, AI tidak akan ke mana-mana. Experience storytelling menjadi sangat penting untuk membangun citra destinasi di era AI," ujarnya.
Ia juga menilai bahwa di tengah dominasi media sosial, suara nano influencer dan komunitas yang dianggap dekat dengan kehidupan sehari-hari justru semakin berpengaruh dibanding promosi konvensional.
Sentuhan manusia tetap tak tergantikan
Pandangan serupa juga disampaikan COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego. Menurutnya, kecerdasan buatan memang membantu industri pariwisata memahami perilaku konsumen dan menyusun strategi pemasaran yang lebih presisi. Namun, pengalaman wisata pada akhirnya tetap ditentukan oleh interaksi manusia.

COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego. Dok. Ist
"Yang membedakan industri hospitality dan pariwisata dengan industri lainnya adalah rasa, pengalaman, dan sentuhan manusia," katanya.
Eduard menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat untuk mempercepat distribusi informasi dan memahami kebutuhan wisatawan. Sementara itu, kepercayaan, pengalaman, dan hubungan emosional tetap menjadi faktor utama yang membuat sebuah destinasi maupun layanan pariwisata berkesan.
Di era ketika algoritma semakin berpengaruh terhadap keputusan perjalanan, industri pariwisata Indonesia dituntut tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman yang autentik dan membangun kepercayaan wisatawan. Sebab pada akhirnya, perjalanan yang berkesan bukan hanya soal destinasi yang ditemukan melalui layar, melainkan pengalaman nyata yang dirasakan saat tiba di sana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)