WISATA
Senandung Rasa Hainan Coffee, Cerita Jatuh Cinta di Tegukan Pertama
Yatin Suleha
Minggu 25 Oktober 2026 / 22:19
- Medcom dan beberapa media lain bertandang ke KL atas undangan Malaysia Means Business Media Familiarisation Programme by Marriot International.
- Sambil hotel tour sesekali kami disodorkan camilan dan minuman.
- Kopi Hainan dan keramahan Courtyard by Marriott KL South meninggalkan kenangan manis.
Jakarta: Rabu (14/10) siang di Courtyard by Marriott Kuala Lumpur South merupakan perjalanan hari kedua kami, para jurnalis dari Indonesia.
Medcom dan beberapa media lainnya kali ini bertandang ke Kuala Lumpur, Malaysia atas undangan Malaysia Means Business Media Familiarisation Programme by Marriot International.
Sambil hotel tour sesekali kami disodorkan camilan dan minuman. Dan saat berada di depan Convention Centre dari hotel ini, saya terduduk diam dan meresapi kopi di cangkir mungil yang saya pegang.
Seperti tersambat sekian detik, rasanya seperti saya baru merasakan lagi jatuh cinta. Kali ini pada sajian kopi yang rasanya belum pernah saya kenali seumur-umur.
Saya ingat langsung memegang lengan seseorang. Mata yang sedikit melotot dan berkata.. "Wauww.." sambil terlihat seperti sekian detik 'a coma from caffeine'.
Dibuat bungkam oleh pesonanya, saya hanyut sepenuhnya sejak tegukan pertama.
Dari aromanya berhasil jadi perhatian bahkan sebelum cangkir porselen tebal itu menyentuh bibir saya. Sedikit asap tipis mengepul santai dari cangkir.
Membawa harum biji kopi yang dipanggang lambat bersama mentega gurih dan gula karamel. Begitu cangkir bergaya vintage itu didekatkan ke bibir, kehangatannya langsung menjalar ke kerongkongan.
Tegukan pertama… legit, pekat, dan luar biasa lembut.
Tidak ada rasa asam yang menggigit. Yang ada hanyalah simfoni rasa manis-gurih (savory-sweet) yang langsung memanjakan lidah.
Mentega yang meleleh sempurna saat proses sangrai menyelimuti pahitnya kopi dengan tekstur creamy yang begitu halus.
Rasa pahitnya tidak galak, melainkan seperti bisikan hangat yang tertinggal di tenggorokan—meninggalkan aftertaste karamel mentega yang membuat saya tak tahan untuk segera mengambil tegukan kedua.
Di sebelah cangkir saya, sudah menanti satu buah roti jala dengan isian abon ayam. Satu kata, ini adalah momen istimewa..
Menyatu sempurna di mulut. Renyah, manis, gurih, dan hangat bercampur jadi satu.
Itu bukan sekadar minum kopi—itu adalah momen jeda dari riuhnya dunia, sebuah kemewahan sederhana yang bikin siapa pun langsung rindu pada rasa hangatnya.
Saya mengingat Derrick Felix sebagai General Manager Courtyard by Marriott KL South, Shahrul Nizam Executive Sous Chefnya, dan beberapa staf hotel yang dari awal sudah memperkenalkan hotel serta aneka F&B-nya.
Derrick berkali-kali berkata, pengalaman dan pengalaman (experience). Destinasi hanyalah muara, namun pengalaman di dalamnya adalah samudra makna yang sejati. Pengalaman yang berhasil mengukir rasa.
Ucapan general manager itu tentang pentingnya sebuah pengalaman seketika bergema di kepala—tepat saat tegukan pertama kopi Hainan itu menyentuh lidah saya.
Di situlah saya paham, ini bukan sekadar cita rasa, melainkan cerita yang menghidupkan perjalanan itu sendiri.
Berkali-kali salah satu stafnya yaitu Hafiz menjelaskan kepada saya bahwa atasannya meracik rasa kopi ini dengan sempurna. Ia menerangkan bagaimana kopi Hainan itu dibuat.
Hafiz dengan cermat menjelaskan seputar kopi Hainan. Dan di hotel Courtyard by Marriott Kuala Lumpur South ini, kopi ini juga jadi salah satu yang paling dicari orang selain makanannya.
Long short story, saat sarapan saya bertemu kembali dengan Hafiz. Kembali ia menawarkan Hainan Coffee. Dan saya langsung mengangguk, menyetujuinya. Kami berbincang cukup banyak soal Hainan Coffee ini.. Dan setelahnya Hafiz mempersilakan saya untuk kembali sarapan.
Sebelum kami meneruskan perjalanan lagi ke daerah lainnya di KL, sembari menikmati aneka camilan kue basah (tradisional) dan sarapan di level 3, restoran Substance yang luar biasa fresh dan artisanal spread, saya menyesap perlahan, meresapi tiap tetes rasa kopi Hainan di pagi itu.
Tampilannya begitu sederhana dalam cangkir berlukis hijau, namun aroma dan rasanya menyimpan daya pikat untuk saya. Bias-bias lampu di permukaan cangkir serta senyum tipis saya sembari menghayati paduan creamy milky beverage ini.
Pada akhirnya, di tengah riuk piuk dan sudut-sudut megah Kuala Lumpur, secangkir kopi Hainan itulah yang justru menjadi highlight tak tergantikan dalam perjalanan ini.
Setiap seruputan hangat dan pekatnya tak hanya memanjakan indra, tetapi juga seolah menegaskan kembali kalimat Derrick Felix—bahwa pengalaman sejati selalu bersembunyi di balik racikan yang jujur dan penuh sejarah.
Kopi Hainan bukan lagi sekadar penawar dahaga, melainkan perwujudan manis dari sebuah momen yang mengikat ingatan saya pada kota ini secara utuh.
Lengkap sudah nostalgia kuliner ini ketika dipadukan dengan ragam hidangan khasnya yang begitu memikat.
Bukan hanya nikmat saat mengecap rasa, setiap sajian hadir dengan estetika yang memanjakan mata—perpaduan warna, tekstur, dan piring-piring klasik yang tersaji indah bagaikan karya seni di atas meja.
Lebih dari sekadar mengisi perut atau mengagumi tampilannya yang memesona, setiap gigitan dan tegukan di sini telah menjelma menjadi pengalaman berharga yang akan selalu saya simpan rapat dalam memori.
Saya berkata, "Suatu hari saya ke sini, saya ingin minum kopi ini lagi. Itu pasti!"
Sebelum saya lupa, secara khusus saya menyebut Lim Wee Wee, selaku Director of Sales & Marketing, Tee Hong Jun sebagai Director of Sales, serta Daniel Tan selaku Marketing & Communications Manager dari hotel ini, yang membekali oleh-oleh dengan Mamee Monster fried noodle.
Ceritanya, sebelum kami benar-benar check out, saya hanya sekedar menyampaikan bahwa salah satu rekan saya yang baru mencoba noodle ini tergila-gila akan rasanya.
Saya teringat sedang berbincang dengan Jun membahas soal Ipoh Buy: Yee Hup Biscuit, Hiong Piah.. Sejurus jitu, Wee Wee dan Daniel datang kemudian membawakan banyak noodle tersebut sebagai buah tangan untuk kami semuanya.
Siapa sangka, sebuah celetukan sederhana tentang betapa lezatnya fried noodle itu justru ditangkap begitu dalam oleh mereka.
Ketika bungkus-bungkus tersebut berpindah tangan, yang hadir bukan sekadar oleh-oleh, melainkan wujud paling murni dari sebuah perhatian.
Ada hangat yang mendadak menyeruak—sebuah kebaikan tak terduga yang terjadi hadir spontan. Seakan membuktikan bahwa terkadang, hal paling manis di dunia ini hadir dari bisikan keinginan yang dijawab tanpa pernah diminta.
Sebab pada akhirnya, bukan lagi soal rasa yang mengecap di lidah, melainkan tentang kehangatan jiwa yang membuncah—saat menyadari bahwa sekecil apa pun suara saya, mereka mendengarnya dengan penuh penghargaan.
(Perpaduan unik saat disangrai inilah yang sukses menciptakan aroma manis-gurih khas yang langsung menguap bahkan sebelum air panas menyentuhnya. Video: Dok. YouTube Kopi Cap Arnab)
(TIN)
Medcom dan beberapa media lainnya kali ini bertandang ke Kuala Lumpur, Malaysia atas undangan Malaysia Means Business Media Familiarisation Programme by Marriot International.
Sambil hotel tour sesekali kami disodorkan camilan dan minuman. Dan saat berada di depan Convention Centre dari hotel ini, saya terduduk diam dan meresapi kopi di cangkir mungil yang saya pegang.
Seperti tersambat sekian detik, rasanya seperti saya baru merasakan lagi jatuh cinta. Kali ini pada sajian kopi yang rasanya belum pernah saya kenali seumur-umur.
Si pencuri hati..
(Hainan kopi: Jatuh cinta pada tegukan pertama. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Dibuat bungkam oleh pesonanya, saya hanyut sepenuhnya sejak tegukan pertama.
Dari aromanya berhasil jadi perhatian bahkan sebelum cangkir porselen tebal itu menyentuh bibir saya. Sedikit asap tipis mengepul santai dari cangkir.
Membawa harum biji kopi yang dipanggang lambat bersama mentega gurih dan gula karamel. Begitu cangkir bergaya vintage itu didekatkan ke bibir, kehangatannya langsung menjalar ke kerongkongan.
Tegukan pertama… legit, pekat, dan luar biasa lembut.
Tidak ada rasa asam yang menggigit. Yang ada hanyalah simfoni rasa manis-gurih (savory-sweet) yang langsung memanjakan lidah.
Mentega yang meleleh sempurna saat proses sangrai menyelimuti pahitnya kopi dengan tekstur creamy yang begitu halus.
Rasa pahitnya tidak galak, melainkan seperti bisikan hangat yang tertinggal di tenggorokan—meninggalkan aftertaste karamel mentega yang membuat saya tak tahan untuk segera mengambil tegukan kedua.
Di sebelah cangkir saya, sudah menanti satu buah roti jala dengan isian abon ayam. Satu kata, ini adalah momen istimewa..
Menyatu sempurna di mulut. Renyah, manis, gurih, dan hangat bercampur jadi satu.
Itu bukan sekadar minum kopi—itu adalah momen jeda dari riuhnya dunia, sebuah kemewahan sederhana yang bikin siapa pun langsung rindu pada rasa hangatnya.
Teringat Hafiz
(Desserts yang indah dipandang juga dirasakan, Sago Gula Malaka created by Shahrul Nizam Executive Sous Chef Courtyard by Marriott KL South. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Derrick berkali-kali berkata, pengalaman dan pengalaman (experience). Destinasi hanyalah muara, namun pengalaman di dalamnya adalah samudra makna yang sejati. Pengalaman yang berhasil mengukir rasa.
Ucapan general manager itu tentang pentingnya sebuah pengalaman seketika bergema di kepala—tepat saat tegukan pertama kopi Hainan itu menyentuh lidah saya.
Di situlah saya paham, ini bukan sekadar cita rasa, melainkan cerita yang menghidupkan perjalanan itu sendiri.
Berkali-kali salah satu stafnya yaitu Hafiz menjelaskan kepada saya bahwa atasannya meracik rasa kopi ini dengan sempurna. Ia menerangkan bagaimana kopi Hainan itu dibuat.
Hafiz dengan cermat menjelaskan seputar kopi Hainan. Dan di hotel Courtyard by Marriott Kuala Lumpur South ini, kopi ini juga jadi salah satu yang paling dicari orang selain makanannya.
Long short story, saat sarapan saya bertemu kembali dengan Hafiz. Kembali ia menawarkan Hainan Coffee. Dan saya langsung mengangguk, menyetujuinya. Kami berbincang cukup banyak soal Hainan Coffee ini.. Dan setelahnya Hafiz mempersilakan saya untuk kembali sarapan.
Menikmati setiap seruputnya
(Hal yang menarik juga adalah Derrick memberikan dukungan bagi semua karyawan di Courtyard by Marriott KL South untuk pada hari-hari tertentu memakai baju khas Melayu. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Tampilannya begitu sederhana dalam cangkir berlukis hijau, namun aroma dan rasanya menyimpan daya pikat untuk saya. Bias-bias lampu di permukaan cangkir serta senyum tipis saya sembari menghayati paduan creamy milky beverage ini.
Pada akhirnya, di tengah riuk piuk dan sudut-sudut megah Kuala Lumpur, secangkir kopi Hainan itulah yang justru menjadi highlight tak tergantikan dalam perjalanan ini.
Setiap seruputan hangat dan pekatnya tak hanya memanjakan indra, tetapi juga seolah menegaskan kembali kalimat Derrick Felix—bahwa pengalaman sejati selalu bersembunyi di balik racikan yang jujur dan penuh sejarah.
Kopi Hainan bukan lagi sekadar penawar dahaga, melainkan perwujudan manis dari sebuah momen yang mengikat ingatan saya pada kota ini secara utuh.
Lengkap sudah nostalgia kuliner ini ketika dipadukan dengan ragam hidangan khasnya yang begitu memikat.
Bukan hanya nikmat saat mengecap rasa, setiap sajian hadir dengan estetika yang memanjakan mata—perpaduan warna, tekstur, dan piring-piring klasik yang tersaji indah bagaikan karya seni di atas meja.
Lebih dari sekadar mengisi perut atau mengagumi tampilannya yang memesona, setiap gigitan dan tegukan di sini telah menjelma menjadi pengalaman berharga yang akan selalu saya simpan rapat dalam memori.
Saya berkata, "Suatu hari saya ke sini, saya ingin minum kopi ini lagi. Itu pasti!"
Oleh-oleh mie kering
(Wee Wee, Jun, dan Daniel secara spesial memberikan kami oleh-oleh manis dari Malaysia. Saya sering menyebutnya dengan mi Mamee. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Sebelum saya lupa, secara khusus saya menyebut Lim Wee Wee, selaku Director of Sales & Marketing, Tee Hong Jun sebagai Director of Sales, serta Daniel Tan selaku Marketing & Communications Manager dari hotel ini, yang membekali oleh-oleh dengan Mamee Monster fried noodle.
Ceritanya, sebelum kami benar-benar check out, saya hanya sekedar menyampaikan bahwa salah satu rekan saya yang baru mencoba noodle ini tergila-gila akan rasanya.
Saya teringat sedang berbincang dengan Jun membahas soal Ipoh Buy: Yee Hup Biscuit, Hiong Piah.. Sejurus jitu, Wee Wee dan Daniel datang kemudian membawakan banyak noodle tersebut sebagai buah tangan untuk kami semuanya.
Siapa sangka, sebuah celetukan sederhana tentang betapa lezatnya fried noodle itu justru ditangkap begitu dalam oleh mereka.
Ketika bungkus-bungkus tersebut berpindah tangan, yang hadir bukan sekadar oleh-oleh, melainkan wujud paling murni dari sebuah perhatian.
Ada hangat yang mendadak menyeruak—sebuah kebaikan tak terduga yang terjadi hadir spontan. Seakan membuktikan bahwa terkadang, hal paling manis di dunia ini hadir dari bisikan keinginan yang dijawab tanpa pernah diminta.
Sebab pada akhirnya, bukan lagi soal rasa yang mengecap di lidah, melainkan tentang kehangatan jiwa yang membuncah—saat menyadari bahwa sekecil apa pun suara saya, mereka mendengarnya dengan penuh penghargaan.
(Perpaduan unik saat disangrai inilah yang sukses menciptakan aroma manis-gurih khas yang langsung menguap bahkan sebelum air panas menyentuhnya. Video: Dok. YouTube Kopi Cap Arnab)
(TIN)