WISATA

Masa Depan Prambanan dalam Takaran Diplomasi Warisan Budaya

A. Firdaus
Selasa 07 Juli 2026 / 16:16
Ringkasnya gini..
  • India menyatakan komitmennya untuk membantu restorasi dan revitalisasi kompleks Candi Prambanan.
  • Dari ratusan bangunan yang berada di kompleks Prambanan, hingga kini baru sekitar 30 candi utama yang berhasil dipugar.
  • Prambanan menjadi aset strategis Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional.
Jakarta: Candi Prambanan memasuki babak baru dalam perjalanan sejarahnya. Tak lagi hanya dikenal sebagai destinasi wisata atau situs warisan budaya dunia, kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia itu kini mulai memainkan peran strategis sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia.

Perubahan tersebut menguat setelah pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Januari 2025. Dalam pertemuan itu, India menyatakan komitmennya untuk membantu restorasi dan revitalisasi kompleks Candi Prambanan.

Komitmen tersebut tidak berhenti sebagai pernyataan diplomatik. Pada Joint Commission Meeting antara Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar di New Delhi, kedua negara kembali menegaskan kerja sama restorasi tersebut. Tim Archaeological Survey of India (ASI) bahkan telah memulai pembahasan awal bersama Kementerian Kebudayaan mengenai dokumentasi struktur candi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, restorasi nantinya tidak hanya berfokus pada Prambanan, tetapi juga mencakup kawasan budaya di sekitarnya seperti Candi Sewu dan Candi Plaosan.
 

Lebih dari sekadar pelestarian


"Kerja sama Indonesia dan India dinilai memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding proyek konservasi biasa," ujar I Kadek Andre Nuaba, Dosen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya.

Dari ratusan bangunan yang berada di kompleks Prambanan, hingga kini baru sekitar 30 candi utama yang berhasil dipugar. Sementara itu, ratusan candi perwara masih berupa susunan batu yang menunggu proses rekonstruksi.

Namun, restorasi kali ini bukan sekadar memperbaiki bangunan bersejarah. Prambanan diposisikan sebagai simbol hubungan budaya kedua negara yang memiliki akar sejarah peradaban Hindu.

Sejak ditetapkan sebagai pusat rumah ibadah umat Hindu Indonesia dan dunia pada 2022, fungsi Prambanan memang terus berkembang. Selain menjadi destinasi wisata, kawasan ini juga diarahkan sebagai pusat wisata religi, pengembangan sumber daya manusia Hindu, sekaligus ruang diplomasi budaya Indonesia.
 

Wisata religi terus bertumbuh


Peran baru tersebut mulai terlihat melalui berbagai kegiatan berskala internasional. Prambanan menjadi tuan rumah Shiva Festival International 2026, forum budaya dan spiritual yang berlangsung selama satu bulan penuh.

Jumlah wisatawan religi juga menunjukkan tren peningkatan. Tercatat sebanyak 23.090 kunjungan pada 2023, naik menjadi 25.427 pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 25.675 kunjungan sepanjang 2025.

"Angka tersebut menunjukkan fungsi religius Prambanan semakin mendapat perhatian, meski belum bisa menjadi satu-satunya indikator keberhasilan diplomasi budaya Indonesia," terang Andre.
 

Diplomasi lewat warisan budaya


Dalam kajian heritage diplomacy, warisan budaya kini dipandang bukan lagi sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga dapat menjadi instrumen hubungan antarnegara.

Melalui pendekatan ini, Prambanan menjadi aset strategis Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional sekaligus memperkenalkan wajah Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim yang tetap menjaga dan merawat warisan budaya Hindu dunia.

Posisi tersebut dinilai menjadi modal diplomasi yang tidak dimiliki banyak negara karena memadukan legitimasi sejarah, toleransi beragama, dan komitmen pelestarian budaya.
 

Tantangan menjaga keseimbangan


"Meski menjanjikan, langkah ini juga menghadirkan tantangan yang tidak sederhana," kata Andre.

Sebagai living heritage yang masih digunakan untuk kegiatan keagamaan, Prambanan harus mampu mengakomodasi berbagai kepentingan secara bersamaan. Mulai dari fungsi diplomasi negara, aktivitas ibadah umat Hindu, kebutuhan wisatawan, hingga standar konservasi yang ditetapkan UNESCO.

Berbagai pengaturan teknis, seperti pembatasan penggunaan dupa saat ritual, kuota peserta ibadah, mekanisme perizinan, hingga wacana pembatasan akses wisatawan ke Candi Siwa menjadi contoh bagaimana pengelolaan situs harus dilakukan secara hati-hati.

Karena itu, ketika restorasi bersama India mulai berjalan, tantangan terbesar bukan lagi soal pembangunan fisik candi, melainkan tata kelola yang mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian, praktik keagamaan, kepentingan publik, dan diplomasi internasional.

Pada akhirnya, masa depan Prambanan sebagai ikon diplomasi budaya Indonesia tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan memugar bangunannya, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia mengelola warisan budaya tersebut secara inklusif, berkelanjutan, dan tetap menghormati nilai sejarah maupun spiritual yang dikandungnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH