WISATA
Labuan Bajo Tak Cuma Pulih dari Gempa, Kemenpar Dorong Jadi Destinasi Makin Tangguh
A. Firdaus
Sabtu 29 Agustus 2026 / 07:14
- Labuan Bajo mulai bangkit pascagempa M7,7. Kemenpar memperkuat keselamatan wisata dan mendorong pengembangan destinasi darat.
- Kemenpar menghimpun langsung kondisi di lapangan, termasuk berbagai tantangan dan kebutuhan pemerintah daerah serta pelaku usaha pariwisata setelah bencana.
- Arus penerbangan domestik maupun internasional juga dilaporkan tetap stabil.
Jakarta: Labuan Bajo tak ingin sekadar kembali pulih setelah terdampak gempa bumi Magnitudo 7,7. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) justru ingin momentum pemulihan ini menjadi kesempatan untuk membuat destinasi wisata tersebut lebih tangguh menghadapi berbagai risiko di masa depan.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri mengatakan penguatan manajemen risiko bencana menjadi salah satu fokus dalam pemulihan pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, sektor pariwisata harus tetap tumbuh, tetapi dibarengi dengan sistem keselamatan yang semakin kuat serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
“Labuan Bajo harus pulih dan pada saat yang sama kita ingin Labuan Bajo semakin tangguh dan semakin siap menghadapi berbagai risiko di masa depan. Kita ingin pariwisata terus bertumbuh, dengan keselamatan yang semakin kuat dan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Widiyanti dalam keterangan resmi Kemenpar.
Sebelumnya, pada 28 Agustus 2026, Widiyanti bertemu dengan Pemerintah Daerah Manggarai Barat, pelaku industri, dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo. Pertemuan tersebut membahas langkah pemulihan sektor pariwisata Flores setelah gempa.
Kemenpar menghimpun langsung kondisi di lapangan, termasuk berbagai tantangan dan kebutuhan pemerintah daerah serta pelaku usaha pariwisata setelah bencana.
Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan, kesiapan operasional destinasi, hingga keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Bukan hanya destinasi wisata yang menjadi perhatian. Pembenahan juga menyasar berbagai sektor yang menopang aktivitas pariwisata Labuan Bajo.
Mulai dari hotel, restoran, desa wisata, kapal wisata, pramuwisata, hingga pelaku UMKM lokal menjadi bagian dari rantai pariwisata yang perlu dipulihkan.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya membantu menggerakkan kembali ekonomi masyarakat, tetapi juga mengembalikan kepercayaan wisatawan untuk berkunjung ke Labuan Bajo.

Dalam kunjungannya, Menpar Widiyanti mengatakan penguatan manajemen risiko bencana menjadi salah satu fokus dalam pemulihan pariwisata di Labuan Bajo. Dok. Kemenpar
Di sisi lain, Kemenpar memanfaatkan momentum pemulihan untuk memperkuat prosedur operasional standar (SOP) tanggap darurat, jalur evakuasi, hingga sistem komunikasi krisis di lapangan.
Artinya, setelah kembali beraktivitas, destinasi dan pelaku pariwisata diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik jika sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat.
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi melaporkan aktivitas kunjungan wisatawan setelah gempa pada 15 Agustus 2026 tetap berlangsung dengan aman dan normal.
Tercatat ada 2.854 keberangkatan kapal dan 32.692 pergerakan wisatawan setelah kejadian tersebut.
Arus penerbangan domestik maupun internasional juga dilaporkan tetap stabil. Sementara itu, kawasan Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar telah kembali dibuka setelah dinyatakan lolos asesmen keselamatan.
Untuk mempertahankan tren positif tersebut, Kemenpar juga akan memperkuat kompetensi keselamatan wisata bahari melalui program Sertifikasi Tenaga Kerja Pariwisata Indonesia (SATRIA).
Pengembangan pariwisata pun tidak hanya diarahkan ke wisata bahari. Sejumlah destinasi darat turut didorong untuk berkembang, di antaranya Pulau Kukusan, Pulau Kelor, dan Gua Rangko.
Dengan begitu, Labuan Bajo diharapkan tidak hanya dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo, tetapi juga memiliki pilihan pengalaman wisata yang lebih beragam sekaligus sistem keselamatan yang semakin siap menghadapi berbagai risiko.
(FIR)
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri mengatakan penguatan manajemen risiko bencana menjadi salah satu fokus dalam pemulihan pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, sektor pariwisata harus tetap tumbuh, tetapi dibarengi dengan sistem keselamatan yang semakin kuat serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
“Labuan Bajo harus pulih dan pada saat yang sama kita ingin Labuan Bajo semakin tangguh dan semakin siap menghadapi berbagai risiko di masa depan. Kita ingin pariwisata terus bertumbuh, dengan keselamatan yang semakin kuat dan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat,” ujar Widiyanti dalam keterangan resmi Kemenpar.
Sebelumnya, pada 28 Agustus 2026, Widiyanti bertemu dengan Pemerintah Daerah Manggarai Barat, pelaku industri, dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo. Pertemuan tersebut membahas langkah pemulihan sektor pariwisata Flores setelah gempa.
Kemenpar menghimpun langsung kondisi di lapangan, termasuk berbagai tantangan dan kebutuhan pemerintah daerah serta pelaku usaha pariwisata setelah bencana.
Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan, kesiapan operasional destinasi, hingga keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Rantai pariwisata ikut dibenahi
Bukan hanya destinasi wisata yang menjadi perhatian. Pembenahan juga menyasar berbagai sektor yang menopang aktivitas pariwisata Labuan Bajo.
Mulai dari hotel, restoran, desa wisata, kapal wisata, pramuwisata, hingga pelaku UMKM lokal menjadi bagian dari rantai pariwisata yang perlu dipulihkan.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya membantu menggerakkan kembali ekonomi masyarakat, tetapi juga mengembalikan kepercayaan wisatawan untuk berkunjung ke Labuan Bajo.

Dalam kunjungannya, Menpar Widiyanti mengatakan penguatan manajemen risiko bencana menjadi salah satu fokus dalam pemulihan pariwisata di Labuan Bajo. Dok. Kemenpar
Di sisi lain, Kemenpar memanfaatkan momentum pemulihan untuk memperkuat prosedur operasional standar (SOP) tanggap darurat, jalur evakuasi, hingga sistem komunikasi krisis di lapangan.
Artinya, setelah kembali beraktivitas, destinasi dan pelaku pariwisata diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik jika sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat.
Kunjungan wisatawan tetap bergerak
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi melaporkan aktivitas kunjungan wisatawan setelah gempa pada 15 Agustus 2026 tetap berlangsung dengan aman dan normal.
Tercatat ada 2.854 keberangkatan kapal dan 32.692 pergerakan wisatawan setelah kejadian tersebut.
Arus penerbangan domestik maupun internasional juga dilaporkan tetap stabil. Sementara itu, kawasan Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar telah kembali dibuka setelah dinyatakan lolos asesmen keselamatan.
Untuk mempertahankan tren positif tersebut, Kemenpar juga akan memperkuat kompetensi keselamatan wisata bahari melalui program Sertifikasi Tenaga Kerja Pariwisata Indonesia (SATRIA).
Pengembangan pariwisata pun tidak hanya diarahkan ke wisata bahari. Sejumlah destinasi darat turut didorong untuk berkembang, di antaranya Pulau Kukusan, Pulau Kelor, dan Gua Rangko.
Dengan begitu, Labuan Bajo diharapkan tidak hanya dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo, tetapi juga memiliki pilihan pengalaman wisata yang lebih beragam sekaligus sistem keselamatan yang semakin siap menghadapi berbagai risiko.
(FIR)