WISATA
Melihat Hewan Tarsius, Hewan Primata Endemik Langka di Belitung
Raka Lestari
Minggu 07 Februari 2021 / 20:37
Jakarta: Negeri Laskar Pelangi yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya memiliki pantai yang elok, tetapi ada pula berbagai macam kuliner yang dapat memanjakan lidah wisatawan seperti nasi gemuk dan tim ayam, hingga hewan malam unik yaitu tarsius.
Untuk bisa melihat tarsius, kamu bisa mengunjungi Bukit Peramun yang terletak di Desa Air Selumar, Belitung, dengan area hutan seluas 115 hektare. Hewan ini memiliki mata besar dengan ukuran tubuh sebesar telapak tangan. Diperkirakan tarsius yang ada saat ini tinggal 80 ekor.
“Saya berpesan agar kawasan Bukit Peramun dapat dikelola dengan baik. Desa wisata Air Selumar yang nanti adalah bagian dari satu kesatuan untuk ekowisata, perlu kita perhatikan dan kita jaga kelestarian lingkungannya,” ujar Menparekraf Sandiaga Uno, di sela-sela kunjungannya ke Belitung, pada Jumat, 5 Februari 2021.
Ia juga menambahkan, “Ini akan menjadi produk unggulan wisata di tengah pandemi, karena masyarakat banyak yang mencari produk wisata di udara terbuka,” ujar Sandiaga Uno.
.jpeg)
(Menparekraf Sandiaga Uno melihat hewan tarsius primata endemik langka di Belitung. Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Namun, jika ingin melihat hewan tarsius tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. “SOP pertama itu tidak boleh memakai flash kalau ingin mengambil gambar, kedua jaga jarak 1 meter tapi kadang di lapangan saking sudah antusias kadang terlalu dekat," ujar Yudi, salah satu pemandu di Bukit Peramun.
"Ketiga, tidak boleh memberi makan. Kalau dikasih makan oleh kita, akan berubah perilaku dia, akan menjadi manja dan tidak mau mencari makan sendiri,” tambah Yudi.
“Untuk makanan alami dari tarsius sendiri, makanannya adalah serangga. Dan ukurannya sendiri, untuk tarsius jantan beratnya 200 gram sedangkan tarsius jantan beratnya sekitar 250 gram. Tarsius sendiri hewan yang sangat setia, dia akan mati kalau dipisahkan dengan pasangannya. Itulah kenapa dia tidak bisa dipelihara di rumah karena biasanya dalam waktu satu minggu juga sudah mati,” ujar Yudi.
Selain keunggulan hewan endemik tarsius, Bukit Peramun ini memiliki berbagai inovasi digital yang digagas oleh komunitas pengelola wisata Bukit Peramun. Melalui aplikasi digital tersebut, wisatawan bisa mendapatkan indormasi interaktif mengenai Kawasan Bukit Peramun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Untuk bisa melihat tarsius, kamu bisa mengunjungi Bukit Peramun yang terletak di Desa Air Selumar, Belitung, dengan area hutan seluas 115 hektare. Hewan ini memiliki mata besar dengan ukuran tubuh sebesar telapak tangan. Diperkirakan tarsius yang ada saat ini tinggal 80 ekor.
“Saya berpesan agar kawasan Bukit Peramun dapat dikelola dengan baik. Desa wisata Air Selumar yang nanti adalah bagian dari satu kesatuan untuk ekowisata, perlu kita perhatikan dan kita jaga kelestarian lingkungannya,” ujar Menparekraf Sandiaga Uno, di sela-sela kunjungannya ke Belitung, pada Jumat, 5 Februari 2021.
Ia juga menambahkan, “Ini akan menjadi produk unggulan wisata di tengah pandemi, karena masyarakat banyak yang mencari produk wisata di udara terbuka,” ujar Sandiaga Uno.
.jpeg)
(Menparekraf Sandiaga Uno melihat hewan tarsius primata endemik langka di Belitung. Foto: Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Namun, jika ingin melihat hewan tarsius tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. “SOP pertama itu tidak boleh memakai flash kalau ingin mengambil gambar, kedua jaga jarak 1 meter tapi kadang di lapangan saking sudah antusias kadang terlalu dekat," ujar Yudi, salah satu pemandu di Bukit Peramun.
"Ketiga, tidak boleh memberi makan. Kalau dikasih makan oleh kita, akan berubah perilaku dia, akan menjadi manja dan tidak mau mencari makan sendiri,” tambah Yudi.
“Untuk makanan alami dari tarsius sendiri, makanannya adalah serangga. Dan ukurannya sendiri, untuk tarsius jantan beratnya 200 gram sedangkan tarsius jantan beratnya sekitar 250 gram. Tarsius sendiri hewan yang sangat setia, dia akan mati kalau dipisahkan dengan pasangannya. Itulah kenapa dia tidak bisa dipelihara di rumah karena biasanya dalam waktu satu minggu juga sudah mati,” ujar Yudi.
Selain keunggulan hewan endemik tarsius, Bukit Peramun ini memiliki berbagai inovasi digital yang digagas oleh komunitas pengelola wisata Bukit Peramun. Melalui aplikasi digital tersebut, wisatawan bisa mendapatkan indormasi interaktif mengenai Kawasan Bukit Peramun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)