WISATA

BUMDes Tujuh Maret Hadakewa Sukses Kelola Ikan Teri

Arthurio Oktavianus Arthadiputra
Senin 03 Mei 2021 / 09:00
Lembata: Satu penggerak roda perekonomian di Desa Hadakewa adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tujuh Maret, yang memproduksi ikan teri dan merekrut tenaga kerja yang berasal dari warga Desa Hadakewa.

Usia BUMDes Tujuh Maret Desa Hadakewa terhitung masih seumur jagung. Mulai beroperasi sejak tahun 2018 lalu. Meski begitu, keberadaan BUMDes dengan ikan teri sebagai produk unggulannya, sudah dikenal luas hingga mancanegara.

Benediktus Lamapaha, Direktur BUMDes Tujuh Maret Hadakewa, mengatakan bahwa produk ikan teri Hadakewa sudah mengisi pasar hingga di India. Pasar nasional pun dirambah dengan cara penjualan secara online.

“Jenis ikan teri yang kita pasarkan adalah Peseng-Peseng, Mao Merah, Mao Putih, Siro, Pahada, Gele dan Merang,” kata Edi, sapaannya.

Pasokan ikan teri tidak hanya untuk pasar di luar Lembata saja. Bagi pembeli lokal, sudah tersedia pasokan di kantor BUMDes Tujuh Maret Hadakewa yang berlokasi di pasar tradisional desa.

Ketika erupsi Ile Ape terjadi pada 27 November 2020, produk ikan teri Hadakewa turut disuplai untuk penduduk yang terdampak erupsi. Sebanyak 170 kemasan produk didistribusikan untuk membantu masyarakat yang mengalami bencana.

“Stok kita sampai habis. Apalagi musim hujan begini, menjadi kendala kita dalam produksi ikan teri. Kalau sudah dijemur dan setengah kering kemudian hujan turun, ikan teri bisa busuk. Itu kesulitan kita selama ini,” keluhnya.

Edi mengaku masih mencari solusi untuk mengatasi masalah itu. Dirinya masih berupaya agar bisa menemukan teknologi tepat guna agar hasil tangkapan ikan teri yang dibawa nelayan di kapal bagan BUMDes bisa diproduksi dengan kualitas yang terjaga.
 

Tiga kapal bagan


Ikan teri hasil tangkapan itu disetor oleh nelayan dari tiga kapal bagan yang dimiliki BUMDes. Kapal bagan diperoleh pada Oktober 2020 lalu, dengan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lembata sebesar Rp200 juta dan penyertaan modal Desa Hadakewa ke BUMDes sebesar Rp128,9 juta.

Menurutnya, dalam satu kapal bagan, bisa merekrut lima hingga tujuh penduduk laki-laki Hadakewa yang bekerja. Sedangkan untuk ibu-ibu bertugas untuk mencuci ikan teri, menjemur hingga pengemasan.

Kepala Desa Hadakewa, Klemens Kwaman, mengatakan bahwa perikanan merupakan potensi desa yang sangat menonjol. Namun, potensi ini masih belum digarap maksimal dengan keterbatasan keterampilan yang dimiliki penduduk.

“Tidak kita pungkiri, perikanan memberikan sumbangan yang besar untuk pendapatan asli Desa Hadakewa hingga Rp300 juta per tahun. Kita butuh penduduk yang memiliki skill untuk membantu menjalankan roda pemerintahan,” kata Klemens. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH