WISATA
5 Geopark Indonesia Raih Green Card UNESCO, Bojonegoro Menyusul
A. Firdaus
Jumat 06 November 2026 / 10:12
- Lima geopark Indonesia meraih Green Card UNESCO.
- Bojonegoro juga dinyatakan lolos sebagai UNESCO Global Geopark
- Belitong sempat memperoleh Yellow Card pada revalidasi 2024.
Jakarta: Lima geopark Indonesia berhasil meraih status Green Card atau kartu hijau dari UNESCO setelah menjalani proses revalidasi dalam Sidang ke-11 Dewan UNESCO Global Geoparks di Paris, Prancis, pada 2–4 November 2026.
Kelima geopark tersebut yakni Belitong, Merangin Jambi, Ijen, Raja Ampat, dan Maros-Pangkep. Dalam sidang yang sama, Bojonegoro juga dinyatakan lolos sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) baru.
Sementara itu, Geopark Ranah Minang Silokek mendapat kesempatan dua tahun untuk melengkapi rekomendasi UNESCO.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, pengakuan UNESCO bukan sekadar penghargaan internasional, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam, warisan geologi, dan budaya Indonesia.
Ia menegaskan pengelolaan geopark harus didukung tata kelola yang kuat, konservasi, serta pelibatan masyarakat lokal agar memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Keberhasilan lima geopark memperoleh Green Card tidak terlepas dari upaya menindaklanjuti rekomendasi UNESCO pada periode sebelumnya.
Belitong, yang sempat memperoleh Yellow Card pada revalidasi 2024, berhasil kembali meraih Green Card setelah melakukan sejumlah perbaikan. Di antaranya menghentikan komersialisasi Batu Satam dan memperkuat upaya konservasi penyu.
Sementara itu, Ijen dan Merangin Jambi berhasil mempertahankan status Green Card dalam proses revalidasi. Kedua kawasan tersebut memiliki kekayaan geologi, mulai dari kawah aktif dan fenomena blue fire di Ijen hingga batuan purba dan Kaldera Masurai di Merangin.
Raja Ampat juga berhasil memenuhi enam rekomendasi UNESCO, termasuk mengidentifikasi geosite baru, membangun pusat informasi geologi, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat adat dalam pelestarian budaya dan pengembangan geowisata.
Adapun Maros-Pangkep mendapat apresiasi atas pengembangan fasilitas informasi, program edukasi geopark, serta penyusunan rencana pengelolaan jangka panjang yang turut memperhatikan mitigasi perubahan iklim.
Kementerian Pariwisata turut mendukung proses revalidasi melalui pendampingan teknis, pelatihan pemandu wisata, penguatan tata kelola, hingga promosi geopark.
Sejumlah program juga dilakukan bersama pemerintah daerah dan badan pengelola geopark, termasuk pengembangan informasi geosite, peningkatan aksesibilitas, serta penguatan kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata.
Ke depan, setiap geopark tetap harus menindaklanjuti rekomendasi UNESCO. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain peningkatan fasilitas pengunjung, pembenahan papan informasi, penguatan kerja sama konservasi, dan pengembangan jalur geowisata.
Keputusan Dewan UNESCO Global Geoparks selanjutnya akan diajukan kepada Dewan Eksekutif UNESCO untuk disahkan dalam Sidang Musim Semi pada April 2027.
Widiyanti berharap capaian ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan geopark, terutama dalam menyeimbangkan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
(FIR)
Kelima geopark tersebut yakni Belitong, Merangin Jambi, Ijen, Raja Ampat, dan Maros-Pangkep. Dalam sidang yang sama, Bojonegoro juga dinyatakan lolos sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) baru.
Sementara itu, Geopark Ranah Minang Silokek mendapat kesempatan dua tahun untuk melengkapi rekomendasi UNESCO.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, pengakuan UNESCO bukan sekadar penghargaan internasional, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam, warisan geologi, dan budaya Indonesia.
Ia menegaskan pengelolaan geopark harus didukung tata kelola yang kuat, konservasi, serta pelibatan masyarakat lokal agar memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Upaya Perbaikan Lima Geopark
Keberhasilan lima geopark memperoleh Green Card tidak terlepas dari upaya menindaklanjuti rekomendasi UNESCO pada periode sebelumnya.
Belitong, yang sempat memperoleh Yellow Card pada revalidasi 2024, berhasil kembali meraih Green Card setelah melakukan sejumlah perbaikan. Di antaranya menghentikan komersialisasi Batu Satam dan memperkuat upaya konservasi penyu.
Sementara itu, Ijen dan Merangin Jambi berhasil mempertahankan status Green Card dalam proses revalidasi. Kedua kawasan tersebut memiliki kekayaan geologi, mulai dari kawah aktif dan fenomena blue fire di Ijen hingga batuan purba dan Kaldera Masurai di Merangin.
Raja Ampat juga berhasil memenuhi enam rekomendasi UNESCO, termasuk mengidentifikasi geosite baru, membangun pusat informasi geologi, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat adat dalam pelestarian budaya dan pengembangan geowisata.
Adapun Maros-Pangkep mendapat apresiasi atas pengembangan fasilitas informasi, program edukasi geopark, serta penyusunan rencana pengelolaan jangka panjang yang turut memperhatikan mitigasi perubahan iklim.
Kemenpar Perkuat Pendampingan
Kementerian Pariwisata turut mendukung proses revalidasi melalui pendampingan teknis, pelatihan pemandu wisata, penguatan tata kelola, hingga promosi geopark.
Sejumlah program juga dilakukan bersama pemerintah daerah dan badan pengelola geopark, termasuk pengembangan informasi geosite, peningkatan aksesibilitas, serta penguatan kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata.
Ke depan, setiap geopark tetap harus menindaklanjuti rekomendasi UNESCO. Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain peningkatan fasilitas pengunjung, pembenahan papan informasi, penguatan kerja sama konservasi, dan pengembangan jalur geowisata.
Keputusan Dewan UNESCO Global Geoparks selanjutnya akan diajukan kepada Dewan Eksekutif UNESCO untuk disahkan dalam Sidang Musim Semi pada April 2027.
Widiyanti berharap capaian ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan geopark, terutama dalam menyeimbangkan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
(FIR)