WISATA
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Pariwisata Indonesia Tumbuh hingga ke Pelosok Desa (Bag-1)
A. Firdaus
Selasa 20 Oktober 2026 / 14:38
- Kunjungan wisatawan, desa wisata, investasi, dan event membuka peluang ekonomi bagi UMKM serta masyarakat daerah.
- Pemerintah menilai tren ini menjadi peluang untuk memperluas manfaat pariwisata agar tidak hanya terkonsentrasi di destinasi populer.
- Sepanjang 2025 hingga September 2026, Kemenpar memberikan dukungan terhadap 377 event di berbagai daerah.
Jakarta: Pariwisata Indonesia tak lagi hanya soal berapa banyak wisatawan yang datang atau destinasi mana yang ramai dikunjungi. Di balik perjalanan liburan, ada pergerakan ekonomi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemilik homestay, pedagang kuliner, pelaku UMKM, hingga pekerja di sektor transportasi dan hiburan.
Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, sektor pariwisata mencatat sejumlah pertumbuhan positif. Pemerintah menilai tren ini menjadi peluang untuk memperluas manfaat pariwisata agar tidak hanya terkonsentrasi di destinasi populer, tetapi juga menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, pembangunan pariwisata kini diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi yang lebih nyata bagi masyarakat.
“Dua tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus bertumbuh. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun penting bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia dan momentum itu berlanjut hingga 2026,” kata Menpar Widiyanti di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.
Sepanjang 2025, Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Angka tersebut meningkat 10,80 persen dibandingkan 2024 dan melampaui target nasional yang berada di kisaran 14–15 juta kunjungan.
Perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga mencapai 1,2 miliar perjalanan, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Tren positif berlanjut hingga Agustus 2026. Indonesia mencatat 10,58 juta kunjungan wisman, tumbuh 5,38 persen secara tahunan. Sementara perjalanan wisnus mencapai 842,15 juta, meningkat 4,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Widiyanti, pertumbuhan tersebut menempatkan Pariwisata Indonesia sebagai salah satu sektor yang berkembang pesat di kawasan. Ia menyebut pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara.
Namun, jumlah kunjungan bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian. Pemerintah juga berupaya mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak daerah agar peluang ekonomi ikut tersebar.
Pertumbuhan pariwisata mulai terlihat di sejumlah destinasi di luar kawasan yang selama ini menjadi favorit wisatawan.
Pada triwulan I 2026, kunjungan wisman ke kawasan Manado-Likupang meningkat 60,42 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara kawasan Danau Toba mencatat pertumbuhan 33,40 persen.
Dari sisi perjalanan wisatawan nusantara, Danau Toba juga menunjukkan pertumbuhan yang menonjol. Sepanjang 2025 hingga 2026, perjalanan wisnus ke kawasan tersebut meningkat 106,68 persen. Lombok-Gili Tramena menyusul dengan pertumbuhan 75,45 persen.
“Pariwisata semakin berkembang di berbagai daerah, yang artinya aktivitas pariwisata menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Menpar Widiyanti.
Pemerataan destinasi menjadi penting karena setiap perjalanan wisata berpotensi menggerakkan berbagai usaha di sekitarnya. Wisatawan yang datang tidak hanya mengunjungi objek wisata, tetapi juga membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, dan berbagai layanan lokal.
Pariwisata juga menunjukkan perkembangan dari sisi pengeluaran wisatawan.
Pada semester I 2026, rata-rata pengeluaran wisman meningkat 6,36 persen menjadi US$1.313 atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan.
Pengeluaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan, seperti akomodasi, makanan dan minuman, cendera mata, hiburan, hingga paket tur lokal.
Peluang ini menjadi penting bagi pelaku usaha di destinasi wisata. Terlebih, lebih dari 95 persen usaha pariwisata di Indonesia digerakkan oleh UMKM.
Artinya, aktivitas wisata memiliki keterkaitan langsung dengan banyak usaha skala kecil dan menengah. Ketika wisatawan berbelanja produk lokal atau menggunakan jasa masyarakat setempat, manfaat ekonomi dapat mengalir ke lebih banyak pihak.
Dari sisi daya saing, Indonesia juga menempati peringkat kedua sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia versi Global Muslim Travel Index 2026. Sementara skor Travel and Tourism Development Index 2026 meningkat menjadi 4,56, menempatkan Indonesia di posisi kedua Asia Tenggara dan keenam Asia Pasifik.
Pertumbuhan pariwisata turut tercermin dari penyerapan tenaga kerja. Pada 2025, sektor ini menyerap 25,91 juta tenaga kerja, angka tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Lapangan kerja tersebut mencakup berbagai kegiatan, mulai dari hotel, restoran, usaha perjalanan, destinasi, transportasi, hingga penyelenggaraan acara dan ekonomi kreatif.
Menpar Widiyanti mengatakan jumlah tenaga kerja yang terserap sektor pariwisata pada 2025 menjadi yang terbesar ketiga setelah pertanian dan perdagangan.
Di sisi lain, investasi juga terus bergerak. Investasi pariwisata pada 2025 mencapai Rp73,56 triliun, kemudian tercatat Rp39,68 triliun pada semester I 2026.
Pada enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata, investasi semester I 2026 mencapai Rp1,4 triliun dan menciptakan 1.858 tenaga kerja baru. Sementara lima KEK lain yang memiliki aktivitas pariwisata mencatat investasi Rp4,5 triliun dan 1.621 tenaga kerja baru.
“Investasi tersebut bukan hanya berarti pembangunan hotel atau fasilitas baru. Di belakang investasi terdapat kegiatan usaha, kebutuhan terhadap barang dan jasa, serta peluang penciptaan pekerjaan,” kata Menpar Widiyanti.
Peluang ekonomi pariwisata juga terlihat dari berkembangnya desa wisata. Hingga September 2026, lebih dari 6.300 desa wisata telah tercatat dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, pemantauan di 66 desa wisata menunjukkan adanya peningkatan pendapatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pendapatan desa dari pariwisata meningkat 29,62 persen, dari Rp46,05 miliar pada 2024 menjadi Rp59,70 miliar pada 2025.
Jumlah kunjungan wisman ke desa wisata yang dipantau juga meningkat 35,48 persen, dari 54.922 menjadi 74.409 kunjungan. Sementara perjalanan wisnus naik 45,17 persen, dari sekitar 1,55 juta menjadi 2,25 juta perjalanan.
Dampak lainnya terlihat pada penyerapan tenaga kerja lokal yang meningkat 53,34 persen, dari 3.234 menjadi 4.959 orang. Jumlah kamar homestay bertambah hampir 50 persen menjadi 3.074 kamar, sedangkan jumlah UMKM di desa-desa tersebut mencapai 6.469 usaha pada Maret 2026.
Sejumlah desa wisata Indonesia juga meraih pengakuan internasional melalui UN Tourism Best Tourism Village dalam dua tahun terakhir, di antaranya Desa Wisata Jatiluwih dan Pemuteran di Bali, serta Desa Wisata Wukirsari di DI Yogyakarta.
“Inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang pariwisata berdampak. Pariwisata dengan demikian tidak hanya membawa orang menuju desa. Pariwisata dapat membawa peluang ekonomi lebih dekat kepada masyarakat,” ujar Ni Luh.
Selain perjalanan wisata, penyelenggaraan event turut memberikan dampak ekonomi dalam waktu relatif singkat.
Sepanjang 2025 hingga September 2026, Kemenpar memberikan dukungan terhadap 377 event di berbagai daerah. Dari kajian terhadap 354 event, termasuk Karisma Event Nusantara (KEN), kegiatan MICE, dan event internasional, tercatat 23,91 juta pengunjung dengan perkiraan perputaran ekonomi mencapai Rp45,9 triliun.
Menurut Ni Luh, festival dan acara dapat menggerakkan berbagai sektor sekaligus. Pengunjung yang datang membutuhkan penginapan, transportasi, makanan, hingga produk lokal yang dijual pelaku usaha di sekitar lokasi.
“Angka Rp45,9 triliun itu menggambarkan bagaimana sebuah event dapat menjadi mesin ekonomi dalam waktu relatif singkat. Ketika ribuan orang datang ke sebuah festival, manfaatnya terasa langsung oleh pelaku usaha dan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, event kita dorong bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai penggerak ekonomi daerah,” kata Ni Luh.
Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata memiliki potensi untuk menggerakkan lebih banyak sektor ekonomi. Tantangannya kini adalah memastikan pertumbuhan kunjungan, investasi, dan event benar-benar diikuti dengan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di destinasi, termasuk pelaku usaha lokal yang menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.
Daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global kian meningkat. Indonesia menduduki peringkat ke-2 sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia versi Global Muslim Travel Index 2026. Peningkatan skor indeks daya saing pariwisata Indonesia (Travel and Tourism Development Index 2026) juga meningkat menjadi 4,56, menempatkan Indonesia di posisi ke-2 di Asia Tenggara dan ke-6 di Asia Pasifik.
“Semakin meningkatnya daya saing pariwisata Indonesia, maka semakin kuat citra dan daya tariknya di mata dunia,” kata Menpar Widiyanti. (Bagian-1)
(FIR)
Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, sektor pariwisata mencatat sejumlah pertumbuhan positif. Pemerintah menilai tren ini menjadi peluang untuk memperluas manfaat pariwisata agar tidak hanya terkonsentrasi di destinasi populer, tetapi juga menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, pembangunan pariwisata kini diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi yang lebih nyata bagi masyarakat.
Baca Juga :
Wisata ke Indonesia, Ini yang Dicari Turis Asing
“Dua tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus bertumbuh. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun penting bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia dan momentum itu berlanjut hingga 2026,” kata Menpar Widiyanti di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.
1. Wisatawan Datang, Perjalanan Domestik Ikut Meningkat
Sepanjang 2025, Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Angka tersebut meningkat 10,80 persen dibandingkan 2024 dan melampaui target nasional yang berada di kisaran 14–15 juta kunjungan.
Perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga mencapai 1,2 miliar perjalanan, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Pariwisata yang resilien. Infografis Kemenpar
Tren positif berlanjut hingga Agustus 2026. Indonesia mencatat 10,58 juta kunjungan wisman, tumbuh 5,38 persen secara tahunan. Sementara perjalanan wisnus mencapai 842,15 juta, meningkat 4,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Widiyanti, pertumbuhan tersebut menempatkan Pariwisata Indonesia sebagai salah satu sektor yang berkembang pesat di kawasan. Ia menyebut pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara.
Namun, jumlah kunjungan bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian. Pemerintah juga berupaya mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak daerah agar peluang ekonomi ikut tersebar.
2. Tak Hanya Bali, Destinasi Lain Mulai Dilirik
Pertumbuhan pariwisata mulai terlihat di sejumlah destinasi di luar kawasan yang selama ini menjadi favorit wisatawan.
Pada triwulan I 2026, kunjungan wisman ke kawasan Manado-Likupang meningkat 60,42 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara kawasan Danau Toba mencatat pertumbuhan 33,40 persen.
Dari sisi perjalanan wisatawan nusantara, Danau Toba juga menunjukkan pertumbuhan yang menonjol. Sepanjang 2025 hingga 2026, perjalanan wisnus ke kawasan tersebut meningkat 106,68 persen. Lombok-Gili Tramena menyusul dengan pertumbuhan 75,45 persen.
“Pariwisata semakin berkembang di berbagai daerah, yang artinya aktivitas pariwisata menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Menpar Widiyanti.
Pemerataan destinasi menjadi penting karena setiap perjalanan wisata berpotensi menggerakkan berbagai usaha di sekitarnya. Wisatawan yang datang tidak hanya mengunjungi objek wisata, tetapi juga membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, dan berbagai layanan lokal.
3. Wisatawan Belanja Lebih Banyak, UMKM Punya Peluang
Pariwisata juga menunjukkan perkembangan dari sisi pengeluaran wisatawan.
Pada semester I 2026, rata-rata pengeluaran wisman meningkat 6,36 persen menjadi US$1.313 atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan.
Pengeluaran tersebut mencakup berbagai kebutuhan, seperti akomodasi, makanan dan minuman, cendera mata, hiburan, hingga paket tur lokal.
Peluang ini menjadi penting bagi pelaku usaha di destinasi wisata. Terlebih, lebih dari 95 persen usaha pariwisata di Indonesia digerakkan oleh UMKM.
Artinya, aktivitas wisata memiliki keterkaitan langsung dengan banyak usaha skala kecil dan menengah. Ketika wisatawan berbelanja produk lokal atau menggunakan jasa masyarakat setempat, manfaat ekonomi dapat mengalir ke lebih banyak pihak.
Dari sisi daya saing, Indonesia juga menempati peringkat kedua sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia versi Global Muslim Travel Index 2026. Sementara skor Travel and Tourism Development Index 2026 meningkat menjadi 4,56, menempatkan Indonesia di posisi kedua Asia Tenggara dan keenam Asia Pasifik.
4. Pariwisata Buka Lapangan Kerja hingga Investasi
Pertumbuhan pariwisata turut tercermin dari penyerapan tenaga kerja. Pada 2025, sektor ini menyerap 25,91 juta tenaga kerja, angka tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Lapangan kerja tersebut mencakup berbagai kegiatan, mulai dari hotel, restoran, usaha perjalanan, destinasi, transportasi, hingga penyelenggaraan acara dan ekonomi kreatif.
Menpar Widiyanti mengatakan jumlah tenaga kerja yang terserap sektor pariwisata pada 2025 menjadi yang terbesar ketiga setelah pertanian dan perdagangan.
Di sisi lain, investasi juga terus bergerak. Investasi pariwisata pada 2025 mencapai Rp73,56 triliun, kemudian tercatat Rp39,68 triliun pada semester I 2026.
Pada enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata, investasi semester I 2026 mencapai Rp1,4 triliun dan menciptakan 1.858 tenaga kerja baru. Sementara lima KEK lain yang memiliki aktivitas pariwisata mencatat investasi Rp4,5 triliun dan 1.621 tenaga kerja baru.
“Investasi tersebut bukan hanya berarti pembangunan hotel atau fasilitas baru. Di belakang investasi terdapat kegiatan usaha, kebutuhan terhadap barang dan jasa, serta peluang penciptaan pekerjaan,” kata Menpar Widiyanti.
5. Desa Wisata Ikut Menggerakkan Ekonomi Lokal
Peluang ekonomi pariwisata juga terlihat dari berkembangnya desa wisata. Hingga September 2026, lebih dari 6.300 desa wisata telah tercatat dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, pemantauan di 66 desa wisata menunjukkan adanya peningkatan pendapatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pendapatan desa dari pariwisata meningkat 29,62 persen, dari Rp46,05 miliar pada 2024 menjadi Rp59,70 miliar pada 2025.
Pariwisata dari Rakyat. Infografis Kemenpar
Jumlah kunjungan wisman ke desa wisata yang dipantau juga meningkat 35,48 persen, dari 54.922 menjadi 74.409 kunjungan. Sementara perjalanan wisnus naik 45,17 persen, dari sekitar 1,55 juta menjadi 2,25 juta perjalanan.
Dampak lainnya terlihat pada penyerapan tenaga kerja lokal yang meningkat 53,34 persen, dari 3.234 menjadi 4.959 orang. Jumlah kamar homestay bertambah hampir 50 persen menjadi 3.074 kamar, sedangkan jumlah UMKM di desa-desa tersebut mencapai 6.469 usaha pada Maret 2026.
Sejumlah desa wisata Indonesia juga meraih pengakuan internasional melalui UN Tourism Best Tourism Village dalam dua tahun terakhir, di antaranya Desa Wisata Jatiluwih dan Pemuteran di Bali, serta Desa Wisata Wukirsari di DI Yogyakarta.
“Inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang pariwisata berdampak. Pariwisata dengan demikian tidak hanya membawa orang menuju desa. Pariwisata dapat membawa peluang ekonomi lebih dekat kepada masyarakat,” ujar Ni Luh.
6. Festival dan Event Jadi Mesin Ekonomi Daerah
Selain perjalanan wisata, penyelenggaraan event turut memberikan dampak ekonomi dalam waktu relatif singkat.
Sepanjang 2025 hingga September 2026, Kemenpar memberikan dukungan terhadap 377 event di berbagai daerah. Dari kajian terhadap 354 event, termasuk Karisma Event Nusantara (KEN), kegiatan MICE, dan event internasional, tercatat 23,91 juta pengunjung dengan perkiraan perputaran ekonomi mencapai Rp45,9 triliun.
Menurut Ni Luh, festival dan acara dapat menggerakkan berbagai sektor sekaligus. Pengunjung yang datang membutuhkan penginapan, transportasi, makanan, hingga produk lokal yang dijual pelaku usaha di sekitar lokasi.
“Angka Rp45,9 triliun itu menggambarkan bagaimana sebuah event dapat menjadi mesin ekonomi dalam waktu relatif singkat. Ketika ribuan orang datang ke sebuah festival, manfaatnya terasa langsung oleh pelaku usaha dan seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, event kita dorong bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai penggerak ekonomi daerah,” kata Ni Luh.
Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata memiliki potensi untuk menggerakkan lebih banyak sektor ekonomi. Tantangannya kini adalah memastikan pertumbuhan kunjungan, investasi, dan event benar-benar diikuti dengan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di destinasi, termasuk pelaku usaha lokal yang menjadi bagian penting dari pengalaman wisata.
7. Pariwisata yang Kompetitif
Daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global kian meningkat. Indonesia menduduki peringkat ke-2 sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia versi Global Muslim Travel Index 2026. Peningkatan skor indeks daya saing pariwisata Indonesia (Travel and Tourism Development Index 2026) juga meningkat menjadi 4,56, menempatkan Indonesia di posisi ke-2 di Asia Tenggara dan ke-6 di Asia Pasifik.
“Semakin meningkatnya daya saing pariwisata Indonesia, maka semakin kuat citra dan daya tariknya di mata dunia,” kata Menpar Widiyanti. (Bagian-1)
(FIR)