WISATA

Kemenpar Gaspol Strategi Baru Biar Wisata Kita Tetap Eksis di Tengah Krisis Global

Yatin Suleha
Minggu 26 April 2026 / 11:43
Ringkasnya gini..
  • Menghadapi krisis global yang berdampak ke sektor wisata, Kemenpar gercep siapkan strategi pemasaran yang lebih fleksibel.
  • Kemenpar pengin memastikan industri pariwisata kita tetap bisa menyesuaikan diri sama keadaan dunia yang lagi enggak menentu.
  • Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Kemenpar melakukan penyesuaian (pivot) strategi pemasaran internasional.
Jakarta: Menghadapi krisis global yang berdampak ke sektor wisata, Kementerian Pariwsata (Kemenpar) gercep siapkan strategi pemasaran yang lebih fleksibel. Kemenpar pengin memastikan industri pariwisata kita tetap bisa menyesuaikan diri sama keadaan dunia yang lagi enggak menentu.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards bertajuk “Resilient Leadership in the Age of Disruption” yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis (23/4), menegaskan sektor pariwisata merupakan industri yang sangat sensitif terhadap perubahan geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Kemenpar melakukan penyesuaian (pivot) strategi pemasaran internasional dengan mengalihkan fokus pasar dari kawasan Eropa dan Amerika ke Asia.
 
“Langkah refocusing yang kami lakukan adalah pivot. Dari sebelumnya berfokus pada pasar Eropa dan Amerika, kini kami mengarahkan perhatian lebih besar ke kawasan Asia,” kata Made.

Pasar utama yang menjadi prioritas meliputi negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia dan Singapura, serta Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Republik Korea, Australia, dan Selandia Baru. 

Ketujuh pasar ini dinilai strategis karena memiliki kedekatan geografis, akses penerbangan langsung, serta tidak terdampak rute transit yang melewati wilayah konflik.

“Pasar-pasar ini lebih dekat, tidak memerlukan transit melalui kawasan Timur Tengah, dan relatif tidak terdampak lonjakan harga tiket yang signifikan,” katanya.


(Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan sambutannya dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards. Foto: Dok. Birkom Kemenpar) 

Meski demikian, strategi refocusing tersebut juga menghadirkan tantangan berupa meningkatnya persaingan dengan negara-negara di kawasan yang sama. Untuk itu, Kemenpar terus mendorong inovasi dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam memasarkan destinasi wisata Indonesia.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program co-branding partners, yaitu kerja sama co-marketing dan co-branding dengan berbagai merek, baik lokal maupun internasional, untuk memperluas jangkauan promosi pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah produk. 

“Kami menggandeng berbagai mitra untuk berkolaborasi mempromosikan pariwisata Indonesia secara lebih kreatif dan efektif, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai event di daerah,” kata Made.

“Pasar-pasar ini lebih dekat, tidak memerlukan transit melalui kawasan Timur Tengah, dan relatif tidak terdampak lonjakan harga tiket yang signifikan,” katanya.

Meski demikian, strategi refocusing tersebut juga menghadirkan tantangan berupa meningkatnya persaingan dengan negara-negara di kawasan yang sama. 

Untuk itu, Kemenpar terus mendorong inovasi dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam memasarkan destinasi wisata Indonesia.
 
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program co-branding partners, yaitu kerja sama co-marketing dan co-branding dengan berbagai merek, baik lokal maupun internasional, untuk memperluas jangkauan promosi pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah produk. 

“Kami menggandeng berbagai mitra untuk berkolaborasi mempromosikan pariwisata Indonesia secara lebih kreatif dan efektif, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai event di daerah,” kata Made.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH