WISATA

Cara Plataran Indonesia Bertahan pada Masa Pandemi

Raka Lestari
Jumat 16 Oktober 2020 / 20:07
Jakarta: Industri hospitality dan tourism merupakan salah satu yang mengalami dampak paling signifikan selama masa pandemi covid-19 seperti sekarang. Dengan berbagai pembatasan dalam melakukan traveling, tentu hal ini dirasakan pula oleh para pelaku industri hospitality and tourism ini.

“Jadi pertama, memang untuk industri hospitality and tourism ini yang terkena paling keras pada masa pandemi ini. Kita terkena sejak awal terjadinya pandemi ini. Namun kita percaya bahwa kita harus tetap bertahan,” ujar Anandita Makes Adoe, Chief Strategic Officer dari Plataran Indonesia saat Medcom Ngobras Spesial.

Menurutnya, perusahaan yang ia pimpin berusaha untuk mencari hikmah yang bisa diambil dengan adanya kejadian pandemi ini. Dengan adanya covid-19 ini, mau tidak mau harus berinovasi dan meningkatkan standar-standar yang dipunya selama ini.

“Plataran sendiri memiliki tiga kunci untuk bisa survive selama pandemi ini. Pertama adalah safety protocol. Kalau dulu mungkin bersih saja sudah cukup, tetapi kalau sekarang bersih saja tidak cukup. Kita harus melakukan disinfektan, sanitizer, dan itu kami lakukan dengan serius,” jelas Dita.

Ia menjelaskan bahwa Plataran Indonesia juga selalu menerapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak, melakukan pembersihan dengan cara disinfektan. Bahkan karyawan yang bekerja di Plataran pun rutin mengikuti tes untuk memastikan keamanan.

“Selain rutin melakukan pembersihan, kami juga mulai menyediakan menu secara digital. Dan dengan adanya covid-19 ini kita lebih meningkatkan level safety, cleanliness, and health di Plataran,” ujar Dita.

“Kemudian yang kedua adalah Plataran juga mensosialisasikan lebih lagi untuk bisa melakukan road trip jika ingin bepergian,” tambahnya.

Menurut Dita, dengan melakukan road trip untuk traveling maka orang-orang menjadi lebih bisa melihat hal yang mungkin tidak bisa ditemui jika traveling menggunakan pesawat. Dan yang ketiga, Plataran memang marketnya untuk middle up dan banyak pula market internasional.

"Dengan adanya pandemi ini, kita jadi disadarkan bahwa masyarakat Indonesia sendiri bisa jadi penopang,” ujarnya.

“Selain itu, meskipun menu yang ada di Plataran identik dengan classic Indonesian food tetapi kita juga tetap harus melakukan mix. Misalnya dengan melakukan fusion pada makanan yang menunjukkan bahwa Plataran bisa adaptasi terhadap market. Itu merupakan salah satu skill pada pandemi ini, jadi tidak bisa saklek,” tutup Dita.
(FIR)

MOST SEARCH