WISATA
Menelusuri Jejak Sejarah di Istana Balai Besar Kelantan, Berdiri sejak 1844
Fatha Annisa
Minggu 28 Juni 2026 / 16:03
- Istana Balai Besar di Kota Bharu merupakan istana bersejarah Kesultanan Kelantan yang dibangun pada 1844.
- Bangunan ini pertama kali digunakan untuk upacara penerimaan Surat Sejabat dari Raja Chulalongkorn.
- Bangunan bergaya tradisional Melayu dan didominasi oleh kayu.
Jakarta: Di jantung kota Kelantan, langkah kaki seolah dipaksa melambat saat berdiri di hadapan gerbang besar yang sarat akan wibawa. Inilah Istana Balai Besar, saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan kejayaan Kesultanan Kelantan.
Wisatawan Indonesia mungkin lebih akrab dengan bangunan kolonial bergaya Eropa di Melaka saat membicarakan wisata sejarah di Malaysia. Namun, semenjak adanya akses penerbangan langsung dari Jakarta ke Kota Bharu, sudut pandang mulai terbuka.
Berdiri megah di pusat administrasi Kota Bharu, Istana Balai Besar langsung mencuri perhatian siapa saja yang melintas berkat gerbangnya yang tinggi dan megah. Bangunan ikonik ini selesai dibangun pada tahun 1844.
Masyarakat maupun turis yang ingin melihat kemegahan Istana Balai besar hanya diizinkan sampai area depan, dekat gerbang utama saja. Namun, Medcom.id berkesempatan masuk ke dalam. Yuk, intip interior dan telusuri sejarah Istana Balai Besar, Kelantan!

Gerbang utama Istana Balai Besar. Foto: medcom.id/fatha annisa
Setibanya di Istana Balai Besar, Medcom disapa oleh pintu besar yang terbuat dari kayu. Gerbang utama itu dipercantik dengan tiang reha berukiran motif bunga dan bercat warna emas. Arsitektur bangunan ini juga didominasi kayu dan bergaya tradisional Melayu.
Pembangunannya dilakukan oleh para tukang yang berasal dari wilayah Pasir Putih. Kayu yang digunakan pun tidak sembarangan, yakni kayu cengal yang pada masa itu hanya digunakan di kawasan Pasir Putih.
Bangunan ini dibagi menjadi beberapa ruang, termasuk ruang yang kerap digunakan oleh upacara adat atau acara-acara penting kesultanan Kelantan lainnya. Dinding ruangan juga dihiasi ukiran bermotif tradisional Melayu.
Berjalan lurus dari pintu masuk utama, ada singgasana di ujung ruangan yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Sedangkan pada dinding-dinding ruang terdapat pigura para sultan terdahulu hingga sejumlah atribut yang biasa digunakan para pemangku kepentingan di kesultanan Kelantan.

Singgasana yang telah berusia sekitar satu abad.

Istana Balai Besar. Foto: medcom.id/fatha annisa
Rampung pada tahun 1944, istana ini dibangun oleh Sultan Muhammad II (1839–1886) ketika ia memutuskan untuk pindah ke provinsi Kelantan dari Kota Saba, tempat istana kerajaan terancam oleh erosi alam.
Berbagai upacara adat telah diselenggarakan di sini. Adapun upacara resmi pertama yang diadakan di Istana Balai Besar adalah penerimaan “Surat Sejabat” dari Raja Chulalongkorn kepada Sultan Muhammad II.
Surat tersebut berisi pengesahan Tuan Senik Mulut Merah sebagai Sultan Muhammad II oleh Raja Maha Besar Siam yang pada saat itu juga penaung Kelantan. Raja Siam tersebut kemudian memberi gelaran kepada Sultan Muhammad II sebagai “Pia Lecha Kelantan”.
Istana Balai Besar juga pernah menjadi tempat tinggal beberapa orang Sultan, yaitu Sultan Muhammad II (1839-1886), Sultan Ahmad (1886-1889), Sultan Muhammad III (1889-1890), Sultan Mansur (1890 – 1899) dan Sultan Muhammad IV (1899-1920).
Namun saat ini istana hanya digunakan untuk berbagai acara adat dan resmi, terutama penganugerahan Darjah Kebesaran Kelantan. Seperti yang terbaru pada tahun 2022 yaitu pernikahan Tengku Faiz, putra Sultan Ismail Petra.

Istana Jahar (Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan). Foto: medcom.id/fatha annisa
Istana Balai Besar tepatnya berlokasi di Jalan Istana, Bandar Kota Bharu, Kota Bharu, Kelantan, Malaysia. Meskipun tidak dibuka untuk umum, Sobat Medcom tidak perlu khawatir akan bingung mau melakukan apa setelah mengabadikan kemegahan arsitekturnya.
Bangunan ini berada di “Golden Triangle” Kota Bharu, artinya banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi mulai dari wisata sejarah, wisata kuliner, hingga wisata religi. Contohnya Istana Jahar (Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan), Masjid Muhammadi, dan Pasar Siti Khadijah.
Sementara itu, Kota Bharu kini sudah bisa didatangi dengan penerbangan tanpa transit dari Jakarta. AirAsia belum lama ini memperluas konektivitasnya dengan membuka rute Jakarta-Kota Bharu yang beroperasi pada Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)
Wisatawan Indonesia mungkin lebih akrab dengan bangunan kolonial bergaya Eropa di Melaka saat membicarakan wisata sejarah di Malaysia. Namun, semenjak adanya akses penerbangan langsung dari Jakarta ke Kota Bharu, sudut pandang mulai terbuka.
Berdiri megah di pusat administrasi Kota Bharu, Istana Balai Besar langsung mencuri perhatian siapa saja yang melintas berkat gerbangnya yang tinggi dan megah. Bangunan ikonik ini selesai dibangun pada tahun 1844.
Masyarakat maupun turis yang ingin melihat kemegahan Istana Balai besar hanya diizinkan sampai area depan, dekat gerbang utama saja. Namun, Medcom.id berkesempatan masuk ke dalam. Yuk, intip interior dan telusuri sejarah Istana Balai Besar, Kelantan!
| Baca juga: 3 Patung Buddha Raksasa di Kelantan, Bukti Harmoni di Negeri Mayoritas Muslim |
Arsitektur Istana Balai Besar

Gerbang utama Istana Balai Besar. Foto: medcom.id/fatha annisa
Setibanya di Istana Balai Besar, Medcom disapa oleh pintu besar yang terbuat dari kayu. Gerbang utama itu dipercantik dengan tiang reha berukiran motif bunga dan bercat warna emas. Arsitektur bangunan ini juga didominasi kayu dan bergaya tradisional Melayu.
Pembangunannya dilakukan oleh para tukang yang berasal dari wilayah Pasir Putih. Kayu yang digunakan pun tidak sembarangan, yakni kayu cengal yang pada masa itu hanya digunakan di kawasan Pasir Putih.
Bangunan ini dibagi menjadi beberapa ruang, termasuk ruang yang kerap digunakan oleh upacara adat atau acara-acara penting kesultanan Kelantan lainnya. Dinding ruangan juga dihiasi ukiran bermotif tradisional Melayu.
Berjalan lurus dari pintu masuk utama, ada singgasana di ujung ruangan yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Sedangkan pada dinding-dinding ruang terdapat pigura para sultan terdahulu hingga sejumlah atribut yang biasa digunakan para pemangku kepentingan di kesultanan Kelantan.

Singgasana yang telah berusia sekitar satu abad.
| Baca juga: Bosan dengan Kuala Lumpur? Intip Ketenangan dan Kemewahan di Pulau Perhentian Malaysia |
Sejarah Istana Balai Besar

Istana Balai Besar. Foto: medcom.id/fatha annisa
Rampung pada tahun 1944, istana ini dibangun oleh Sultan Muhammad II (1839–1886) ketika ia memutuskan untuk pindah ke provinsi Kelantan dari Kota Saba, tempat istana kerajaan terancam oleh erosi alam.
Berbagai upacara adat telah diselenggarakan di sini. Adapun upacara resmi pertama yang diadakan di Istana Balai Besar adalah penerimaan “Surat Sejabat” dari Raja Chulalongkorn kepada Sultan Muhammad II.
Surat tersebut berisi pengesahan Tuan Senik Mulut Merah sebagai Sultan Muhammad II oleh Raja Maha Besar Siam yang pada saat itu juga penaung Kelantan. Raja Siam tersebut kemudian memberi gelaran kepada Sultan Muhammad II sebagai “Pia Lecha Kelantan”.
Istana Balai Besar juga pernah menjadi tempat tinggal beberapa orang Sultan, yaitu Sultan Muhammad II (1839-1886), Sultan Ahmad (1886-1889), Sultan Muhammad III (1889-1890), Sultan Mansur (1890 – 1899) dan Sultan Muhammad IV (1899-1920).
Namun saat ini istana hanya digunakan untuk berbagai acara adat dan resmi, terutama penganugerahan Darjah Kebesaran Kelantan. Seperti yang terbaru pada tahun 2022 yaitu pernikahan Tengku Faiz, putra Sultan Ismail Petra.
| Baca juga: AirAsia Buka Rute Langsung Jakarta-Kota Bharu, Dorong Wisata dan Perjalanan Medis |
Destinasi Sekitar: "Golden Triangle" Kota Bharu

Istana Jahar (Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan). Foto: medcom.id/fatha annisa
Istana Balai Besar tepatnya berlokasi di Jalan Istana, Bandar Kota Bharu, Kota Bharu, Kelantan, Malaysia. Meskipun tidak dibuka untuk umum, Sobat Medcom tidak perlu khawatir akan bingung mau melakukan apa setelah mengabadikan kemegahan arsitekturnya.
Bangunan ini berada di “Golden Triangle” Kota Bharu, artinya banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi mulai dari wisata sejarah, wisata kuliner, hingga wisata religi. Contohnya Istana Jahar (Museum Adat Istiadat Diraja Kelantan), Masjid Muhammadi, dan Pasar Siti Khadijah.
Sementara itu, Kota Bharu kini sudah bisa didatangi dengan penerbangan tanpa transit dari Jakarta. AirAsia belum lama ini memperluas konektivitasnya dengan membuka rute Jakarta-Kota Bharu yang beroperasi pada Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)