WISATA
Emas di Perut Bumi, Ketertinggalan di Permukaan: Kisah Malasari di Usia Bogor 544 Tahun
A. Firdaus
Kamis 04 Juni 2026 / 16:03
- Pulang ke tempat yang diyakini sebagai salah satu titik awal berdirinya pemerintahan Kabupaten Bogor.
- Bagi Rudy, Hari Jadi Bogor bukan hanya perayaan usia.
- Bukan sekadar untuk mengenang sejarah, tetapi untuk memastikan bahwa mereka yang selama ini berada di pinggir pembangunan ikut masuk ke dalam percakapan tentang masa depan.
Pagi itu, Lapangan Citalahab di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, berubah menjadi pusat perhatian Kabupaten Bogor.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah peringatan Hari Jadi Bogor (HJB), upacara tidak digelar di pusat pemerintahan, bukan pula di kawasan perkotaan yang selama ini menjadi wajah modern Bogor. HJB 544 justru diperingati di sebuah desa yang berada jauh dari bisingnya kota.
Banyak orang melihatnya sebagai perpindahan lokasi seremonial biasa. Namun sesungguhnya, ada pesan yang jauh lebih besar yang ingin disampaikan.
Upacara Hari Jadi Bogor ke-544 dipimpin langsung oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto dan dihadiri Wakil Bupati Ade Ruhandi, jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, kepala perangkat daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga para mantan pemimpin Kabupaten Bogor lintas generasi.
Pulang ke tempat yang diyakini sebagai salah satu titik awal berdirinya pemerintahan Kabupaten Bogor.
Malasari dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik awal berdirinya pemerintahan Kabupaten Bogor. Di wilayah inilah Bupati pertama Bogor, Raden Ipik Gandamana, pernah berkedudukan. Dari tanah yang kini berada di ujung barat Kabupaten Bogor itu, sejarah pemerintahan daerah pernah dimulai.
Namun di balik nilai sejarah tersebut, Malasari juga menyimpan kenyataan yang memantik refleksi. Di hadapan ribuan peserta upacara, Rudy Susmanto justru mengangkat ironi yang selama ini hidup di wilayah tersebut.
"Emasnya ada di sini. Panas buminya ada di sini. Lingkungan asrinya ada di sini. Tetapi kenapa wilayah yang kaya justru infrastruktur kesehatannya tertinggal? Kenapa wilayah yang kaya justru infrastruktur jalannya tertinggal?" ujar Rudy.
Pertanyaan itu menggema di tengah kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam terbesar di Kabupaten Bogor.
Malasari bukan desa biasa. Di sekelilingnya terbentang kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang menjadi paru-paru Jawa Barat. Di bawah tanahnya tersimpan potensi tambang emas. Di kawasan sekitarnya terdapat sumber energi panas bumi yang menjadi aset strategis nasional.
Namun di balik kekayaan tersebut, masih ada sekolah yang berdiri dalam konsep satu atap. Masih ada akses pelayanan kesehatan yang terbatas. Masih ada jalan yang menjadi tantangan bagi warga yang setiap hari harus beraktivitas.

Selain mineral emas, Malasari juga punya perkebunan teh Nirmala yang sudah ada sejak era Kolonial Belanda. Dok. A. Firdaus/Medcom
Hari Jadi Bogor tahun ini seakan menjadi momentum untuk melihat wajah lain Kabupaten Bogor yang selama ini jarang menjadi sorotan.
Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 6,1 juta jiwa yang tersebar di 40 kecamatan, 416 desa, dan 19 kelurahan, Kabupaten Bogor memang menyimpan tantangan yang tidak sederhana.
Menurut Rudy, ketimpangan pembangunan bukan hanya terjadi di Malasari. Persoalan serupa juga ditemukan di wilayah timur, selatan, utara, hingga barat Kabupaten Bogor.
Masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan. Masih ada daerah yang rentan banjir. Masih ada kawasan yang berhadapan dengan ancaman longsor setiap musim hujan.

Bangunan putih ini merupakan Kantor Bupati Pertama Bogor, yang saat itu dijabat Raden Ipik Gandamana, telah menjadi Cagar Budaya. Dok. A. Firdaus/Medcom
Karena itu, bagi Rudy, Hari Jadi Bogor bukan hanya perayaan usia. Ini adalah ruang refleksi untuk mengakui bahwa pembangunan Kabupaten Bogor masih menyisakan pekerjaan rumah yang panjang.
"Kalau ingin Bogor berubah, kalau ingin Bogor maju, gunakan tangan kita, gunakan hati kita, gunakan tenaga kita bersama-sama," ujar mantan Ketua DPRD Kab. Bogor ini.
Sebab desa ini bukan hanya saksi sejarah lahirnya pemerintahan Bogor, tetapi juga simbol bahwa kemajuan tidak selalu berjalan beriringan dengan kekayaan alam yang dimiliki.
Di usia ke-544 tahun, Kabupaten Bogor memang telah berkembang menjadi daerah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Kawasan industrinya tumbuh, perumahan terus bertambah, dan pusat ekonomi berkembang di berbagai wilayah.
Namun dari Citalahab, Malasari mengingatkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh semua sudut daerah dengan cara yang sama.

Malasari telah menjadi desa wisata sejak 2015 lantaran memiliki beberapa potensi wisata, sebut saja Sawah Terasering hingga Curug kembar. Dok. A. Firdaus/Medcom
Mungkin itulah alasan mengapa Hari Jadi Bogor tahun ini digelar jauh dari pusat kota.
Bukan sekadar untuk mengenang sejarah, tetapi untuk memastikan bahwa mereka yang selama ini berada di pinggir pembangunan ikut masuk ke dalam percakapan tentang masa depan.
Di kaki Gunung Halimun, perayaan Hari Jadi Bogor berubah menjadi sebuah pengingat: bahwa ukuran kemajuan bukan hanya gedung yang menjulang atau jalan yang membentang, melainkan sejauh mana kesejahteraan benar-benar dirasakan hingga ke desa-desa yang selama ini menjaga kekayaan alam Bogor.
Dan dari Malasari, pertanyaan itu kembali dititipkan kepada seluruh warga Bogor: setelah 544 tahun perjalanan, sudahkah pembangunan benar-benar sampai ke tempat-tempat yang paling membutuhkannya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Untuk pertama kalinya dalam sejarah peringatan Hari Jadi Bogor (HJB), upacara tidak digelar di pusat pemerintahan, bukan pula di kawasan perkotaan yang selama ini menjadi wajah modern Bogor. HJB 544 justru diperingati di sebuah desa yang berada jauh dari bisingnya kota.
Banyak orang melihatnya sebagai perpindahan lokasi seremonial biasa. Namun sesungguhnya, ada pesan yang jauh lebih besar yang ingin disampaikan.
Upacara Hari Jadi Bogor ke-544 dipimpin langsung oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto dan dihadiri Wakil Bupati Ade Ruhandi, jajaran Forkopimda, pimpinan DPRD, kepala perangkat daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga para mantan pemimpin Kabupaten Bogor lintas generasi.
Bogor sedang pulang
Pulang ke tempat yang diyakini sebagai salah satu titik awal berdirinya pemerintahan Kabupaten Bogor.
Malasari dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik awal berdirinya pemerintahan Kabupaten Bogor. Di wilayah inilah Bupati pertama Bogor, Raden Ipik Gandamana, pernah berkedudukan. Dari tanah yang kini berada di ujung barat Kabupaten Bogor itu, sejarah pemerintahan daerah pernah dimulai.
Namun di balik nilai sejarah tersebut, Malasari juga menyimpan kenyataan yang memantik refleksi. Di hadapan ribuan peserta upacara, Rudy Susmanto justru mengangkat ironi yang selama ini hidup di wilayah tersebut.
"Emasnya ada di sini. Panas buminya ada di sini. Lingkungan asrinya ada di sini. Tetapi kenapa wilayah yang kaya justru infrastruktur kesehatannya tertinggal? Kenapa wilayah yang kaya justru infrastruktur jalannya tertinggal?" ujar Rudy.
Sumber kekayaan namun minim perhatian
Pertanyaan itu menggema di tengah kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam terbesar di Kabupaten Bogor.
Malasari bukan desa biasa. Di sekelilingnya terbentang kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang menjadi paru-paru Jawa Barat. Di bawah tanahnya tersimpan potensi tambang emas. Di kawasan sekitarnya terdapat sumber energi panas bumi yang menjadi aset strategis nasional.
Namun di balik kekayaan tersebut, masih ada sekolah yang berdiri dalam konsep satu atap. Masih ada akses pelayanan kesehatan yang terbatas. Masih ada jalan yang menjadi tantangan bagi warga yang setiap hari harus beraktivitas.

Selain mineral emas, Malasari juga punya perkebunan teh Nirmala yang sudah ada sejak era Kolonial Belanda. Dok. A. Firdaus/Medcom
Hari Jadi Bogor tahun ini seakan menjadi momentum untuk melihat wajah lain Kabupaten Bogor yang selama ini jarang menjadi sorotan.
Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 6,1 juta jiwa yang tersebar di 40 kecamatan, 416 desa, dan 19 kelurahan, Kabupaten Bogor memang menyimpan tantangan yang tidak sederhana.
Menurut Rudy, ketimpangan pembangunan bukan hanya terjadi di Malasari. Persoalan serupa juga ditemukan di wilayah timur, selatan, utara, hingga barat Kabupaten Bogor.
Masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan. Masih ada daerah yang rentan banjir. Masih ada kawasan yang berhadapan dengan ancaman longsor setiap musim hujan.

Bangunan putih ini merupakan Kantor Bupati Pertama Bogor, yang saat itu dijabat Raden Ipik Gandamana, telah menjadi Cagar Budaya. Dok. A. Firdaus/Medcom
Karena itu, bagi Rudy, Hari Jadi Bogor bukan hanya perayaan usia. Ini adalah ruang refleksi untuk mengakui bahwa pembangunan Kabupaten Bogor masih menyisakan pekerjaan rumah yang panjang.
"Kalau ingin Bogor berubah, kalau ingin Bogor maju, gunakan tangan kita, gunakan hati kita, gunakan tenaga kita bersama-sama," ujar mantan Ketua DPRD Kab. Bogor ini.
Pesan itu terasa berbeda ketika disampaikan dari Malasari
Sebab desa ini bukan hanya saksi sejarah lahirnya pemerintahan Bogor, tetapi juga simbol bahwa kemajuan tidak selalu berjalan beriringan dengan kekayaan alam yang dimiliki.
Di usia ke-544 tahun, Kabupaten Bogor memang telah berkembang menjadi daerah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Kawasan industrinya tumbuh, perumahan terus bertambah, dan pusat ekonomi berkembang di berbagai wilayah.
Namun dari Citalahab, Malasari mengingatkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menyentuh semua sudut daerah dengan cara yang sama.

Malasari telah menjadi desa wisata sejak 2015 lantaran memiliki beberapa potensi wisata, sebut saja Sawah Terasering hingga Curug kembar. Dok. A. Firdaus/Medcom
Mungkin itulah alasan mengapa Hari Jadi Bogor tahun ini digelar jauh dari pusat kota.
Bukan sekadar untuk mengenang sejarah, tetapi untuk memastikan bahwa mereka yang selama ini berada di pinggir pembangunan ikut masuk ke dalam percakapan tentang masa depan.
Di kaki Gunung Halimun, perayaan Hari Jadi Bogor berubah menjadi sebuah pengingat: bahwa ukuran kemajuan bukan hanya gedung yang menjulang atau jalan yang membentang, melainkan sejauh mana kesejahteraan benar-benar dirasakan hingga ke desa-desa yang selama ini menjaga kekayaan alam Bogor.
Dan dari Malasari, pertanyaan itu kembali dititipkan kepada seluruh warga Bogor: setelah 544 tahun perjalanan, sudahkah pembangunan benar-benar sampai ke tempat-tempat yang paling membutuhkannya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)