WISATA
Kemenpar Buka Data Pariwisata 2025, Bali hingga Jogja Punya Angka Menarik
A. Firdaus
Kamis 20 Agustus 2026 / 18:00
- Kemenpar merilis statistik pariwisata 2025 di 10 DPP dan 3 DPR. Bali mencatat 7,04 juta wisman, sementara Greater Jakarta unggul dalam investasi.
- Publikasi ini menyajikan delapan indikator statistik yang menggambarkan kondisi pariwisata di masing-masing destinasi.
- Penguatan tata kelola data menjadi salah satu fokus penting dalam pembangunan pariwisata.
Jakarta: Mau tahu seberapa ramai destinasi wisata Indonesia sepanjang 2025? Kementerian Pariwisata (Kemenpar) baru saja merilis data statistik pariwisata 2025 untuk 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR).
Data ini diharapkan bisa menjadi salah satu acuan pemerintah, pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun strategi pengembangan pariwisata yang lebih tepat sasaran.
Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji mengatakan, data yang akurat dan terkini menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan pariwisata.
"Pembangunan pariwisata yang efektif dan berdaya saing tinggi harus didasarkan pada data yang akurat, lengkap, dan terkini," kata Bayu saat peluncuran Infografis Statistik Pariwisata Tahun 2025 di 10 DPP dan 3 DPR, Kamis, 20 Agustus 2026.
Publikasi tersebut mencakup 10 DPP, yakni Danau Toba, Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, Lombok-Gili Tramena, Labuan Bajo, Manado-Likupang, Wakatobi, Raja Ampat, Bromo-Tengger-Semeru, Bangka Belitung, dan Morotai.
Sementara itu, tiga DPR yang masuk dalam data adalah Bali, Greater Jakarta, dan Kepulauan Riau.
Data tersebut disusun Biro Data dan Sistem Informasi Kemenpar bersama Badan Pusat Statistik (BPS) serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Bukan sekadar soal jumlah wisatawan, publikasi ini menyajikan delapan indikator statistik yang menggambarkan kondisi pariwisata di masing-masing destinasi.
Indikator tersebut mencakup jumlah kunjungan dan rata-rata lama kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) serta wisatawan nusantara (wisnus), realisasi investasi pariwisata, tenaga kerja pariwisata, PDRB sektor akomodasi serta makan dan minum, profil usaha akomodasi dan makan minum, hingga profil usaha objek daya tarik wisata (ODTW) komersial.
Salah satu data yang menarik terlihat di Bali. Pada 2025, jumlah kunjungan wisman ke Bali mencapai 7,04 juta, dengan rata-rata lama tinggal 9,04 malam.
Tak hanya ramai wisatawan, investasi pariwisata di Pulau Dewata juga cukup besar. Realisasinya tercatat mencapai Rp16,05 triliun.
Sementara itu, Greater Jakarta mencatat realisasi investasi pariwisata lebih tinggi, yakni Rp23,74 triliun. Destinasi ini juga mencatat jumlah kunjungan wisnus mencapai 293 juta.
Aktivitas wisatawan nusantara juga terlihat tinggi di sejumlah DPP. Kawasan Borobudur-Yogyakarta-Prambanan mencatat 56,19 juta kunjungan wisnus, sedangkan Bromo-Tengger-Semeru mencapai 50,89 juta kunjungan.
Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya aktivitas pariwisata sekaligus kontribusinya terhadap perekonomian di masing-masing destinasi.
Bayu mengatakan data pariwisata tersebut tidak hanya menjadi catatan mengenai kondisi sektor pariwisata pada 2025. Data juga diharapkan menjadi pijakan untuk menentukan kebijakan dan program pada tahun-tahun berikutnya.
"Data-data ini tidak hanya menjadi catatan historis, melainkan pijakan kita dalam merancang langkah dan kebijakan yang lebih efektif di tahun-tahun mendatang," ujarnya.
Menurut Bayu, penyusunan statistik melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah menjalankan Satu Data Indonesia (SDI).
Dengan data yang terstandardisasi dan terintegrasi, pemerintah pusat dan daerah diharapkan memiliki rujukan yang sama ketika menentukan prioritas pembangunan, menyusun program, hingga mengukur dampaknya terhadap masyarakat.
Kepala Biro Data dan Sistem Informasi Kemenpar Nova Arisne mengatakan penguatan tata kelola data menjadi salah satu fokus penting dalam pembangunan pariwisata.
"Data memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan pariwisata. Oleh karena itu, penguatan pengelolaan data statistik pariwisata menjadi salah satu hal yang terus kami upayakan," kata Nova.
Peluncuran infografis tersebut juga dirangkai dengan Lokakarya Data Statistik Pariwisata di 10 DPP dan 3 DPR Triwulan I 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat koordinasi dan sinkronisasi data antarpemangku kepentingan.
Dengan data yang semakin rapi dan terintegrasi, pemerintah berharap pengembangan destinasi wisata bisa dilakukan dengan lebih terukur. Ujungnya, pariwisata diharapkan bukan cuma mendatangkan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat dan ekonomi daerah.
(FIR)
Data ini diharapkan bisa menjadi salah satu acuan pemerintah, pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun strategi pengembangan pariwisata yang lebih tepat sasaran.
Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji mengatakan, data yang akurat dan terkini menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan pariwisata.
"Pembangunan pariwisata yang efektif dan berdaya saing tinggi harus didasarkan pada data yang akurat, lengkap, dan terkini," kata Bayu saat peluncuran Infografis Statistik Pariwisata Tahun 2025 di 10 DPP dan 3 DPR, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ini destinasi yang masuk daftar
Publikasi tersebut mencakup 10 DPP, yakni Danau Toba, Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, Lombok-Gili Tramena, Labuan Bajo, Manado-Likupang, Wakatobi, Raja Ampat, Bromo-Tengger-Semeru, Bangka Belitung, dan Morotai.
Sementara itu, tiga DPR yang masuk dalam data adalah Bali, Greater Jakarta, dan Kepulauan Riau.
Data tersebut disusun Biro Data dan Sistem Informasi Kemenpar bersama Badan Pusat Statistik (BPS) serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Bukan sekadar soal jumlah wisatawan, publikasi ini menyajikan delapan indikator statistik yang menggambarkan kondisi pariwisata di masing-masing destinasi.
Indikator tersebut mencakup jumlah kunjungan dan rata-rata lama kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) serta wisatawan nusantara (wisnus), realisasi investasi pariwisata, tenaga kerja pariwisata, PDRB sektor akomodasi serta makan dan minum, profil usaha akomodasi dan makan minum, hingga profil usaha objek daya tarik wisata (ODTW) komersial.
Bali dan Greater Jakarta punya angka investasi besar
Salah satu data yang menarik terlihat di Bali. Pada 2025, jumlah kunjungan wisman ke Bali mencapai 7,04 juta, dengan rata-rata lama tinggal 9,04 malam.
Tak hanya ramai wisatawan, investasi pariwisata di Pulau Dewata juga cukup besar. Realisasinya tercatat mencapai Rp16,05 triliun.
Sementara itu, Greater Jakarta mencatat realisasi investasi pariwisata lebih tinggi, yakni Rp23,74 triliun. Destinasi ini juga mencatat jumlah kunjungan wisnus mencapai 293 juta.
Aktivitas wisatawan nusantara juga terlihat tinggi di sejumlah DPP. Kawasan Borobudur-Yogyakarta-Prambanan mencatat 56,19 juta kunjungan wisnus, sedangkan Bromo-Tengger-Semeru mencapai 50,89 juta kunjungan.
Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya aktivitas pariwisata sekaligus kontribusinya terhadap perekonomian di masing-masing destinasi.
Bukan cuma angka, tapi bahan bikin kebijakan
Bayu mengatakan data pariwisata tersebut tidak hanya menjadi catatan mengenai kondisi sektor pariwisata pada 2025. Data juga diharapkan menjadi pijakan untuk menentukan kebijakan dan program pada tahun-tahun berikutnya.
"Data-data ini tidak hanya menjadi catatan historis, melainkan pijakan kita dalam merancang langkah dan kebijakan yang lebih efektif di tahun-tahun mendatang," ujarnya.
Menurut Bayu, penyusunan statistik melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah menjalankan Satu Data Indonesia (SDI).
Dengan data yang terstandardisasi dan terintegrasi, pemerintah pusat dan daerah diharapkan memiliki rujukan yang sama ketika menentukan prioritas pembangunan, menyusun program, hingga mengukur dampaknya terhadap masyarakat.
Kepala Biro Data dan Sistem Informasi Kemenpar Nova Arisne mengatakan penguatan tata kelola data menjadi salah satu fokus penting dalam pembangunan pariwisata.
"Data memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan pariwisata. Oleh karena itu, penguatan pengelolaan data statistik pariwisata menjadi salah satu hal yang terus kami upayakan," kata Nova.
Peluncuran infografis tersebut juga dirangkai dengan Lokakarya Data Statistik Pariwisata di 10 DPP dan 3 DPR Triwulan I 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat koordinasi dan sinkronisasi data antarpemangku kepentingan.
Dengan data yang semakin rapi dan terintegrasi, pemerintah berharap pengembangan destinasi wisata bisa dilakukan dengan lebih terukur. Ujungnya, pariwisata diharapkan bukan cuma mendatangkan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat dan ekonomi daerah.
(FIR)